MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
23. Jangan Pernah Sentuh Milikku


__ADS_3

Sepeninggal bi Yuna, Soraya hanya duduk di depan cermin sambil menjalin rambutnya. Ia bersenandung seolah-olah ia tak punya masalah atau bahkan kekurangan apa-apa.


Tak lama pintu kamar itu terdengar berderik. Seseorang membukanya dari luar. Soraya yang pendengarannya tajam segera menoleh. Selang beberapa saat, pintu itu pun terdengar tertutup kembali.


"Bi Yuna?" Panggilnya.


Soraya terheran, panggilannya sama sekali tidak ada sahutan. Namun ia mendengar dengan jelas langkah kaki seseorang terus mendekat kearahnya. Ia mulai sedikit tegang.


"Dalvin, kamukah itu?" Tanyanya sambil bangkit dari duduknya.


Panggilannya sama sekali tidak disahuti, sementara suara langkah kaki itu semakin nyata terdengar mendekat kearahnya.


"Dalvin, kamu jangan bercanda, ya..." Ucap Soraya mulai mundur dari posisinya.


Ia terus mundur-mundur sambil meraba apa pun sebagai pegangan untuknya. Namun tiba-tiba ia merasakan tangannya dicengkeram dengan kuat, dan tubuhnya ditarik oleh seseorang lalu didekap dengan erat.


Soraya terkejut. Ia memberontak sekuat tenaganya, lalu berusaha menghirup napas sedalam-dalamnya ketika ia merasakan sesak didekap kuat oleh orang yang tidak diketahuinya siapa.


Ia semakin panik saat menyadari orang itu bukanlah Dalvin ataupun bi Yuna. Karena ia tahu orang yang mendekapnya seorang laki-laki, dan lelaki itu sama sekali tidak memiliki aroma seperti Dalvin. Ia bahkan hafal betul aroma parfum Dalvin seperti apa.


"Kamu siapa? Tolong lepaskan aku..." Pekik Soraya.


"Diamlah..." Ucap orang itu yang tidak lain adalah Duta, kakak tiri Dalvin.


"Lepaskan aku, aku mohon..." Rintih Soraya ketakutan.


Duta tak menggubris permohonan Soraya. Ia semakin mempererat dekapannya ke tubuh gadis itu.


"Ternyata selera anak itu luar biasa juga... Meski buta, tapi kamu sangat cantik, ya..." Ucap Duta sambil menekan pinggang Soraya ke dalam dekapannya.


"Ah... Lepaskan... Lepaskan aku... Bi Yunaaaa... Bi Yuna, tolooooooong...." Teriak Soraya sekencang-kencangnya.


"Diaammm..." Hardik Duta. "Percuma kamu berteriak, tidak ada satu orang pun di rumah ini selain kita berdua..." Sarkas Duta. Ia melepaskan Soraya sesaat sehingga Soraya terjatuh di lantai. Soraya berusaha menggapai apa pun, namun tidak satupun yang ia dapatkan.

__ADS_1


Ia hanya bisa menangis dan berteriak memanggil bi Yuna.


Tak usai disitu, Duta kembali mencengkram kedua bahu Soraya lalu mengangkat tubuhnya dan mendorongnya ke atas tempat tidur.


"Menjadi lah gadis baik untuk hari ini denganku... Mari kita bersenang-senang... Kamu pasti akan menikmati surga bersamaku..." Bisik Duta di telinga Soraya.


"Jangan... Aku mohon... Tolong lepaskan aku..." Rintih Soraya.


"Dalviiiiin... Dalvin, tolong aku... Dalviiin..." Teriaknya sambil terus memberontak.


Duta mulai marah. Ia mengunci kedua tangan Soraya di atas kepalanya, lalu menghimpit tubuh Soraya. Duta mulai hilang akal. Ia menciumi leher Soraya dan kemudian mengoyak bajunya. Duta menggigit bahu gadis malang itu dengan disertai birahi yang memuncak.


Soraya terus menjerit memanggil nama Dalvin, namun sia-sia.


Duta tidak menghiraukan erangan dan rintihan Soraya. Ia terus menikmati tubuh gadis malang itu sesuka hatinya.


Soraya tak berdaya, ia ingin pasrah, tapi ia tidak rela. Ia baru menyadari mengapa Dalvin begitu keras kepadanya, dan bahkan melarangnya hanya untuk ke balkon saja.


Dalvin sampai di depan rumahnya. Perasaannya semakin tak karuan sehingga ia memarkirkan mobilnya di sembarang tempat.


Ia turun dari mobil dengan tergesa-gesa lalu berlari ke dalam rumah. Ia melangkahi anak tangga sampai-sampai beberapa kali dua anak tangga yang ia lampaui sekaligus.


Kedua telapak tangan Dalvin bertumpu di tempurung lututnya sendiri di depan pintu kamarnya sambil ngos-ngosan.


Setelah ia rasa tenaganya kembali cukup, ia membuka pintu kamarnya itu dengan keras. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Soraya tak berdaya di bawah kungkungan kakak tirinya sendiri.


Dalvin begitu murka. Wajahnya memerah dipenuhi amarah.


"Dutaaaa..." Teriaknya seraya berlari ke tempat tidurnya untuk mengejar Duta.


Duta terkejut. Ia terperangah dan segera menghentikan kelakuannya.


Dalvin menarik kerah punggung Duta, lalu menghempaskan tubuh kakak tirinya itu ke dinding.

__ADS_1


"Jangan pernah sentuh milikku..." Teriak Dalvin murka. Ia hendak melayangkan tinjunya ke wajah Duta, namun suara Isak tangis Soraya membuat tangannya berhenti. Dalvin mendorong tubuh Duta kembali ke dinding.


Dalvin mendekati Soraya. Ia memegang bahu Soraya hendak menenangkan, namun Soraya malah menepis tangannya.


"Jangan sentuh aku..." Pekik Soraya histeris. Ia mengunci kedua lututnya sendiri dengan tangannya.


"Sora, tenanglah... Ini aku..." Bujuk Dalvin masih terus ingin menenangkan Soraya.


"Tidak, jangan sentuh aku... Aku mohon..." Isak Soraya.


Dalvin menarik paksa tangan Soraya, lalu meletakkan kedua telapak tangan istrinya itu ke wajahnya.


"Ini aku, Sora... Ini aku... Aku... Aku suamimu... Dalvin, Sora... Percayalah..." Ucap Dalvin berkali-kali. Ia sampai menitikkan air matanya melihat kondisi Soraya yang ketakutan.


"Da-Dalvin? Kamu, Dalvin...?" Tanya Soraya mulai percaya. Jemarinya terus bermain di wajah Dalvin untuk memastikan bahwa orang di hadapannya benar-benar Dalvin.


Dalvin semakin merapatkan wajahnya ke telapak tangan Soraya, lalu mengangguk cepat.


"Iya, Sora... Ini aku... Aku Dalvin... Aku suamimu, Dalvin..." Ucapnya meyakinkan Soraya.


Soraya menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Dalvin. Ia seolah bersembunyi di balik dada bidang yang telah biasa mendekap untuk menenangkan dirinya.


"Dia menjahatiku, Dalvin... Ayo bawa aku pergi dari sini... Aku tidak ingin disini... Aku takut..." Adu Soraya dengan terisak-isak.


"Iya, iya... Iya kita akan pergi dari rumah ini... Kita akan pergi dari sini... Maafkan aku... Maafkan aku, Sora..." Ucap Dalvin semakin mempererat pelukannya ke tubuh Soraya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2