MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
44. Pilihan, Keputusan Dan Penentuan Sulit


__ADS_3

Dalvin dan Soraya sampai di rumah sakit Alaska. Ia memarkirkan mobilnya di basemen, lalu membantu Soraya keluar.


"Kamu tunggu sebentar..." Pinta Dalvin seraya membuka pintu mobil bagian belakang. Tiba-tiba wajah Dalvin berubah kebingungan.


"Dimana tasku?" Gumamnya.


"Apa semua baik-baik saja?" Tanya Soraya ikut tegang.


Dalvin kembali teringat para lelaki bertubuh besar dan tegap yang menghadang mereka tadi. "Ah sial..."


Dalvin menutup pintu mobilnya dengan sangat keras dan mengumpat berkali-kali. "Pasti mereka... Mereka yang telah mengambil tas itu..."


Dalvin menarik rambutnya sendiri. Ia begitu kesal.


"Viiin..." Panggil Soraya berusaha menggapai Dalvin dengan kedua tangannya.


Dalvin begitu lesu menyambut tangan Soraya. Ia memeluk Soraya dan menangis di pucuk kepala istrinya itu.


"Kita pulang saja... Semua juga takdir, kan?" Ucap Soraya pasrah.


Dalvin menggeleng. Ia mengeluarkan Soraya dari dekapannya, lalu menggamit pipi Soraya sambil menatap wajahnya dengan perasaan yang dalam. "Kita tidak boleh menyerah, Sora... Setelah sejauh ini perjalanan kita, kita tidak bisa menyerah begitu saja..."


"Tapi..."


"Aku akan bicara kepada dokter Sony... Kalau perlu aku akan berlutut dan mengemis kepadanya..." Tegas Dalvin meyakinkan Soraya.


"Tapi, Vin..."


"Kamu percaya aku, kan?" Tanya Dalvin dengan bibir bergetar menahan perih.


Dengan berat hati Soraya mengangguk. Ia menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Dalvin. "Maafkan aku... Aku selalu saja merepotkan..."


Setelah menghela nafas panjang, Dalvin mengajak Soraya menemui dokter Sony. Ia meminta Soraya untuk menunggu di luar, sementara ia sendiri yang akan menemui dokter Sony ke dalam.


"Dalvin?"


Dalvin tampak terkejut. Seseorang yang sangat dikenalnya telah berada di hadapan dokter Sony.


"Lama tidak bertemu, Vin..." Sapa Duta sambil menyeringai, membuat Dalvin merasa muak.


"Ada perlu apa dia datang kemari, Dok?" Tanya Dalvin mulai dikuasai amarah.


"Oh..."


"Kebetulan ya, Dok... Ini kan jadwal rutin saya ke rumah sakit ini untuk membicarakan saham dengan direktur rumah sakit Alaska..." Potong Duta sebelum dokter Sony menjelaskan.


Dokter Sony melirik sekilas kearah Duta, lalu tersenyum mengangguk.

__ADS_1


"Sejak ia menikah, ia memutuskan untuk mandiri, Dok... Kami tidak lagi serumah, dan karena sibuk, ia jarang sekali berkunjung..." Ujar Duta sambil tersenyum.


"Oh begitu... Pantas saja tuan Dalvin tampak terkejut atas kehadiran tuan Duta, ya..." Sahut dokter Sony. "Mari, silakan duduk, Tuan Dalvin..."


Tangan Dalvin mengepal kuat menahan diri. Ia duduk di samping Duta dengan rasa malas.


"Nona Soraya sudah siap dioperasi, Tuan..." Ucap dokter Sony.


"Sebenarnya ada yang perlu saya bicarakan dengan Dokter..." Ungkap Dalvin ragu-ragu.


"Katakan saja, Tuan..." Sahut dokter Sony sembari memerhatikan Dalvin dengan seksama.


Duta melirik Dalvin dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Emmm... Saya sebelumnya sudah mengumpulkan dana untuk operasi istri saya, Dok... Tapi..." Dalvin lagi-lagi menghentikan ucapannya.


Duta dengan sengaja menghadapkan tubuhnya kepada Dalvin seolah-oleh bersimpati dan ingin menjadi pendengar yang baik untuk adik tirinya itu.


"Tapi bagaimana, Tuan?" Tanya dokter Sony masih setia menunggu ucapan Dalvin.


"Saya tadi dirampok... Semua biaya yang saya persiapkan diambil semua oleh mereka, Dok..." Ungkap Dalvin dengan mata memerah.


"Dirampok?" Dokter Sony dan Duta sama-sama terkejut setelah mendengar cerita Dalvin.


"Kenapa bisa terjadi, Vin?" Tanya Duta dengan raut wajah iba menatap Dalvin.


Dalvin kembali mengepal kuat tangannya. Hatinya sangat kesal, dan ia memiliki kecurigaan besar terhadap Duta tentang apa yang baru saja ia alami.


Dokter Sony terlihat tak berekspresi sama sekali dalam sesaat.


"Tolong, Dok..." Rengek Dalvin lagi.


Baru saja Dokter Sony hendak bicara, Duta menarik lengan Dalvin dengan paksa. "Ayo kita bicara sebentar..."


****


Dalvin kesal. Ia mengibaskan tangan Duta dari lengannya dengan kasar. Tatapannya beringas seolah tengah berhadapan dengan seorang musuh.


"Jangan mempermalukan keluarga besar Fernando, Vin..." Ucap Duta.


"Jangan berlagak sok peduli... Aku tahu ini kerajaanmu..." Ketus Dalvin.


Duta menyeringai senang. "Apa pun tuduhan kamu terhadapku, tidak akan merubah keadaan, Vin... Pihak rumah sakit tidak akan menyetujui permohonan kamu... Kami baru saja membahas pengeluaran rumah sakit ini tadi..."


Dalvin mendorong tubuh Duta ke dinding, lalu mencengkram bahu kakak tirinya itu dengan penuh amarah. "Kembalikan tasku, Duta..." Teriaknya.


Dengan santainya Duta melepas cengkeraman Dalvin. "Punya cukup bukti menuduhku? Kalau ia, laporkan saja ke kantor polisi..." Ejek Duta menantang.

__ADS_1


"Kurang ajar..." Dalvin bersiap memukul, namun dengan sigap Duta menahan tangannya.


"Jangan buang-buang waktu, Dalvin Fernando... Operasi pencangkokan kornea mata untuk Soraya harus segera dilakukan... Kalau tidak, kamu tahu sendiri konsekuensinya, kan?" Ucap Duta sambil tersenyum sinis.


Napas Dalvin menderu keras. Ia terlihat jengkel melihat sorot mata Duta yang tak berperasaan sama sekali.


"Aku akan membayarkan semua pengobatan istrimu, tapi setelah itu lepaskan dia..." Sambung Duta dengan pongahnya.


"Setan..." Teriak Dalvin meradang.


"Itu pilihan, Dalvin... Keputusan, kamu yang menentukan..." Seringai Duta sambil tersenyum licik, kemudian berlalu dari hadapan Dalvin.


Dalvin sangat kesal. Ia merasa kali ini kekalahannya. Dan tidak sekalipun kebahagiaan benar-benar memihak kepadanya.


Ia berkali-kali memukul kepalanya yang terasa sangat panas menahan kemarahannya sendiri. Ketika ia mulai merasa lelah, ia terduduk lemas di bangku panjang rumah sakit itu.


Beberapa saat kemudian, ia berjalan menghampiri Soraya yang menunggunya.


"Bagaimana, Vin?" Tanya Soraya tampak berharap.


Dalvin menggenggam tangan Soraya dengan erat. "Operasinya akan segera dimulai, Sora... Bersiaplah..."


Soraya mengangguk sambil tersenyum senang. "Terimakasih, Vin... Ini pasti sangat sulit bagimu..."


Dalvin hanya menatap istrinya itu dengan perasaan bersalah. Tiba-tiba saja air matanya mengalir di pipinya. "Maafkan aku, Sora..."


"Kenapa?" Tanya Soraya dengan raut bingung.


"Tidak apa-apa..." Dalvin menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, ia berusaha menahan kepedihan hatinya mengingat apa yang akan menjadi keputusannya.


"Apapun yang terjadi, ku mohon kuatlah... Kamu perempuan tangguh yang pernah aku kenal, dan aku miliki..." Lirih Dalvin berujar.


"Ummm..." Soraya mengangguk. "Sebentar lagi aku akan dapat melihat, Vin... Aku akan melihat wajahmu..."


Rasa itu semakin perih. Dalvin memeluk Soraya dengan erat seolah tak ingin melepaskannya lagi. Pihak rumah sakit datang memberitahu bahwa operasinya telah siap dimulai.


Dengan berat hati Dalvin melepaskan pelukannya terhadap Soraya.


"Tunggu aku, Vin..." Pinta Soraya sebelum ia pergi.


Dalvin tidak menyahut, ia hanya menatap Soraya hingga istrinya itu menghilang di balik pintu ruang operasi.


"Ini keputusan yang tepat, Sora... Kebahagiaanmu lebih penting dari apapun... Aku yakin, setelah kamu melihat nanti, kamu tidak akan memerlukan aku... Kamu juga sama sekali tidak pernah melihat wajahku, kan? Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan..."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2