Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 21. Rencana Pencarian


__ADS_3

"Mengapa tidak dicari?"


"Sudah, tetapi kami tidak bisa menemukannya."


"Siapa yang hilang?"


"Aldo," jawab salah satu nelayan yang ikut dalam perahu besar tersebut.


"Ya ampun Aldo kasihan dia, niatnya mencari uang untuk membantu keuangan keluarga biar meringankan beban ibunya di saat hari libur sekolah seperti sekarang malah kena musibah seperti ini, semoga saja dia selamat dan segera diketemukan secepatnya." Seorang ibu meratap mengingat bagaimana Aldo berjuang membantu ibunya selama ini dan sekarang keadaannya malah dalam bahaya.


"Yang hilang itu masih anak-anak ya Bu?" tanya Tata penasaran karena ibu yang menangis dan meratap sekarang tadi menyebutkan kata sekolah.


"Iya Ta, dia masih kelas 3 SMA, tetapi karena dia anak yatim dan punya adik kecil perempuan yang masih bersekolah SD dia selalu membantu ibunya mencari uang. Jika hari minggu seperti sekarang dia memang ikut melaut. Namun, saat sekolah masuk dia tetap bekerja menjual ikan dengan mengendarai sepeda ontel berkeliling ke kampung sebelah," jelas Bu Loli membuat Tata yang mendengarnya ikut prihatin dengan keadaan Aldo meskipun Tata tidak tahu dan tidak kenal pada anak itu.


"Semoga selamat dan semoga ada yang menolong ya Bu," ucap Tata dengan penuh harap.


"Amin," jawab Bu Loli dan juga ibu-ibu yang lainnnya.


"Bagaimana bisa hilang?" tanya ibu-ibu lain yang tiba-tiba saja menyerbu kedatangan para nelayan.

__ADS_1


"Tadi pagi teman kami ada yang melihat dia terjun ke laut. Berpikir Aldo terjun karena mau menghalau ikan cakalang agar mendekat ke perahu, teman kami membiarkan saja. Dia baru tersadar saat melihat Aldo berteriak minta tolong di atas gulungan ombak yang meninggi. Ketika kami semua terjun dari perahu dan mencari keberadaan Aldo di air laut ternyata sudah terlambat. Anak itu sudah menghilang," terang seorang pria yang berumur sekitar 40 tahunan tersebut.


"Kapan waktunya terjadi?"


"Kira-kira jam 4 pagi di saat suasana masih gelap mungkin belum masuk waktunya subuh," terang bapak itu lagi.


"Kenapa dihentikan pencariannya, kenapa tidak di cari terus sampai dapat?" Seorang ibu dengan berlari langsung nimbrung dalam pembicaraan antara laki-laki setengah baya dengan para ibu-ibu.


"Maaf kami menyerah untuk saat ini, kami semua sudah terlalu lama berenang dalam air sehingga kedinginan dan kelaparan. Kalau kami memaksakan diri bukan hanya Aldo yang celaka tetapi mungkin diantara kami pun ada yang celaka. Kami pulang juga untuk mencari bala bantuan agar ikut melakukan pencarian. Bukankah semakin banyak yang ikut mencari akan semakin baik dan semakin cepat ditemukan?" Pria itu berkata dengan bibir dan tubuh yang gemetar akibat menahan rasa kedinginan.


"Kalau begitu Paman pulang saja dulu, pasti bibi mengkhawatirkan keadaan Paman setelah mendengar berita ada salah satu nelayan yang hilang. Takutnya bibi menganggap Paman yang hilang, lagipula baju Paman basah kuyup kalau tidak segera diganti Paman bisa saja masuk angin," ujar Rifa.


Para ibu-ibu mengangguk dan memberi jalan, pria itu langsung bergegas pergi untuk pulang.


Di tepian pantai, di atas gazebo atau saung yang sengaja dibuat oleh para nelayan sebagai tempat untuk menunggui perahu mereka saat angin kencang agar tidak terseret arus tampak beberapa nelayan masih mengobral serius. Mereka tidak mengindahkan pakaian mereka yang basah bahkan perut mereka yang berteriak minta diisi.


Seorang ibu-ibu bersigap membelikan mereka semua nasi bungkus karena melihat perut mereka seperti orang kelaparan.


"Dimana kira-kira kejadiannya saat Aldo terjun ke laut?" tanya nelayan lain yang tidak ikut dalam perahu tersebut, bertanya posisi pertama kali Aldo hilang agar mempermudahkan mereka untuk mencari.

__ADS_1


Beberapa orang sudah tampak menyiapkan perahu mereka masing-masing. Perahu kecil maupun besar pun ikut andil untuk melakukan pencarian terhadap Aldo.


"Itu posisinya berada tepat di samping kapal kuno yang tenggelam," jelas seseorang. Memang di tengah laut mereka menemukan kapal Belanda zaman dulu yang tenggelam dan ditumbuhi karang-karang. Bisanya posisi kapal itu dijadikan arah penunjuk antar sesama nelayan.


"Kenapa Aldo bisa melompat tanpa memberitahu sih," protes seseorang.


"Mungkin dia melompat karena ada yang memanggilnya dan dibawah alam sadar tubuhnya mereflek panggilan tersebut. Sebenarnya tadi malam saya melihat bayangan hitam yang berkelebat di dalam perahu dan memintaku seakan melompat dari perahu ke dalam laut. Hampir saja saya mau melompat karena melihat di bawah laut itu ada pemandangan yang begitu indah dan menakjubkan bahkan saya melihat seperti ada istana di sana. Saat saya mulai menggerakkan kaki untuk melompat tiba-tiba saja pemandangan dibawah sana yang cantik itu berubah menjadi pekuburan. Aku langsung terhenyak dan menahan kaki agar tidak jadi melompat. Sayangnya kakiku terpeleset ke jaring dan hampir jatuh ke dalam laut. Saya berteriak meminta tolong, tetapi tidak ada satupun dari teman-teman yang menyahut. Mungkin pada tidur menurut pikiran saya jadi saya harus berusaha sendiri agar tidak terjatuh ke dalam laut karena sejujurnya saya sama sekali tidak bisa berenang," beber salah satu nelayan yang ikut dalam perahu tersebut.


Terjadi bisik-bisik antara sesama nelayan dan Tata hanya memperhatikan dengan menebak-nebak saja apa yang mereka bicarakan.


"Benar kan apa dugaanku? Makanya sudah berulang kali saya melarangmu untuk ikut perahu tersebut. Memang sih perahu tersebut selalu mendapatkan tangkapan ikan yang banyak, tapi kalau memakan tumbal kan kita-kita sebagai nelayannya yang nggak enak." Seseorang mencoba meyakinkan salah satu anggota nelayan yang ikut di perahu yang sama dengan Aldo.


"Mungkin kamu memang benar mengingat selama ini sudah seringkali terjadi nelayan hilang di tengah laut dan selalu tidak ada jejaknya. Tak satupun dari nelayan yang ditemukan mayatnya ketika mereka hilang saat melaut bersama perahu Langit( Langit adalah nama perahu yang diberikan oleh pemiliknya).


"Ya begitulah, sudahlah sebaiknya kamu makan dulu biar tidak mag nanti kalau sampah telat makan."


Saat sedang asyik-asyiknya mengobrol sambil makan tiba-tiba ibu Aldo berlari ke arah mereka dan menjerit-jerit. Ibu itu menangis histeris dan meratapi nasib putranya serta memohon-mohon agar semua orang membantu mencari putranya.


"Baik Bu, nanti saya akan mencari lagi setelah makan dan mengganti pakaian. Sekarang teman-teman yang lain sudah bersiap-siap untuk melakukan pencarian. Nanti kami menyusul lagi," ucap pria tadi kemudian memperbesar suapannya agar cepat selesai makan dan bisa kembali ke laut untuk ikut melakukan pencarian kembali.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2