Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 39. Ada Yang Meniru


__ADS_3

Tak.


Bug.


Aldi terjatuh setelah kesandung dan terjerembet batang bambu yang melintang di depannya.


"Hei siapa itu?" Kepala pria itu menonjol dari balik pintu dan melongo untuk mencari asal suara tadi.


Aldi tiarap di tanah dan tidak bergerak sedikitpun agar keberadaannya tidak diketahui oleh pria aneh tersebut.


Bug.


Prang.


Meong.


Seekor kucing menabrak dandang besar yang terletak di depan bangunan yang letaknya agak ke samping.


"Oh cuma kucing rupanya." Pria itu menutup pintu kembali dan masuk ke dalam ruangan.


"Ah, aku bebas." Aldi mengelus dada. Sedikit merasa lega pria itu telah menutup pintu bangunan itu kembali.


Baru saja hendak bangkit ternyata sebuah kucing hitam melompat di atasnya.


"Aaaaa!" Aldi berteriak, untung suaranya seperti tertahan hingga tidak terdengar hingga ke dalam ruangan.


Aldi bangkit, menoleh ke sana kemari. Melihat posisi dirinya yang aman dan tidak terlihat oleh seorang pun dia lalu berlari lagi dengan perasaan yang lebih tenang.


Hari sudah menjelang pagi, matahari mulai samar-samar menunjukkan diri di ufuk timur sana.


"Dari mana Nak Aldi?" Lama berlari ternyata langkahnya sampai ke depan rumah Pak Hasan.


"Lari pagi Pak, mumpung lagi di sini. Kampung ini udaranya segar dan jernih nggak seperti di kota yang sudah tercampur dengan polusi baik dari kendaraan bermotor maupun dari asap pabrik," jelas Aldi panjang lebar padahal dia berbohong. Udara di kampung ini memang sangat fresh. Namun, auranya saja yang tidak nyaman bagi tubuh dan pikiran Aldi.

__ADS_1


"Bagus kalau begitu. Memang sebaiknya kita menyempatkan olahraga selagi ada waktu luang biar tubuh kita selalu berada dalam keadaan sehat," ujar Pak Hasan.


"Iya Pak Hasan memang benar. Oh ya Pak itu yang ada di ujung jalan sana bangunan apa ya Pak?" Aldi menunjuk ke arah bangunan tadi.


"Oh itu adalah gudang Nak Aldi.


"Gudang?" tanya Aldi penasaran.


"Iya gudang pengolahan petis," jawab Pak Hasan dan Aldi hanya manggut-manggut saja.


"Nak Aldi kalau memang butuh laporan nanti usaha apa saja yang ada di kampung ini dan bagaimana proses pengolahannya bisa ikut istri saya nanti bekerja di sana," usul Pak Hasan.


Usul Pak Hasan disambut baik oleh Aldi. "Memangnya boleh Pak?"


"Boleh-boleh saja yang penting Nak Aldi kan tidak mengacau di sana. Apalagi kalau Nak Aldi juga ikut membantu pasti para pekerja akan menyambut baik kedatangan Nak Aldi."


"Baik Pak nanti saya ke sini lagi. Jam berapa kira-kira ibu berangkat bekerja?"


"Jam 7 pagi Nak, tapi sebaiknya Nak Aldi ke sini nya sebelum jam setengah 7 pagi saja biar bisa ikut sarapan pagi dengan keluarga kami."


"Ah tidak repot kok Nak, biasanya kalau hari Jumat seperti sekarang istri saya masak banyak untuk selamatan perahu biar dapat tangkapan banyak dan perahu serta orangnya selalu dilindungi oleh Tuhan. Jadi saya tunggu ya sebelum jam setengah 7. Awas kalau tidak datang," ancam Pak Hasan.


"Baik Pak, insyaallah Aldi akan datang tepat waktu," ucap Aldi lalu pamit pergi.


Sampai di depan rumah sebenarnya Aldi ragu untuk masuk ke dalam mengingat kejadian yang terjadi pada dirinya semalam dan juga kejadian yang menimpa Tata saat pertama kali mereka memasuki rumah tersebut.


Namun, apa boleh buat semua pakaian gantinya ada di dalam dan dia masih belum menemukan rumah yang lainnnya untuk tempat menginap selama mereka ada di desa tersebut.


Dengan langkah berat Aldi memasukkan kunci rumah dan memutar kunci dan handle pintu. Setelah terbuka dia langsung berlari ke dalam kamarnya.


Aldi mengeluarkan baju ganti dari dalam tasnya dan menaruh di atas kasur. Setelahnya ia mencharger ponselnya yang sudah kehabisan baterai.


Sudah mencharger ponselnya, dia mengambil handuk dan langsung bergegas ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lupa dia membaca doa sebelum masuk kamar mandi sebelum dirinya masuk dan mengunci pintu kamar mandi dari dalam.

__ADS_1


Aldi yang tidak ingin berlama-lama di rumah yang sekarang sudah sepi itu langsung mengguyur tubuhnya dengan air. Tidak lupa dia membasahi rambutnya dan membubuhkan sampo. Sebab sampo itu milik Tata, Aldi teringat pada sahabatnya itu.


"Harus dimana aku mencarimu Ta?" gumamnya lalu ekspresi wajahnya berubah sedih. "Dimanapun kamu berada semoga kamu selalu baik-baik saja." Doa Aldi dalam hati.


Setelah selesai membubuhkan sampo dan mengguyur kepalanya dengan air, kini Aldi menyabuni seluruh tubuhnya lalu membilas dengan air.


Hampir saja dia mengambil handuk dan menyelimuti tubuhnya kalau saja dia tidak lupa bahwa dirinya belum sikat gigi.


"Ya ampun kenapa aku sampai lupa untuk gosok gigi sih? Biasanya aku kan gosok gigi duluan sebelum mengguyur tubuh dengan air."


Efek terlalu banyak berpikir membuat Aldi menjadi tidak fokus. Dia langsung meraih sikat gigi dan odol (pasta gigi) dan setelah berkumur-kumur langsung menyikat giginya.


Aldi merasa aneh, saat dirinya menyikat gigi pasta gigi dan sikat gigi yang lain bergerak ke kiri ke samping dirinya. Sebenarnya Aldi takut melihat itu semua, tetapi dia mencoba menahan diri. Semakin lama dia berpapasan dengan hal aneh membuat rasa takutnya akan mahkluk astral semakin berkurang.


Aldi hanya melirik dan fokus menyikat giginya itu. Dengan hati-hati Aldi menyembur air kumur-kumurnya agar tidak mengenai makhluk itu agar tidak murka meskipun Aldi tidak bisa melihat keberadaan makhluk tersebut dengan mata telanjang.


Ternyata sekian lama ada di dalam kamar mandi tak sedikitpun Aldi diganggu secara nyata oleh makhluk tersebut.


Selesai mandi Aldi langsung memasang handuk. Saat hendak keluar dia teringat akan bajunya yang kotor. Rasanya dia ingin mencucinya sekarang juga. Namun, takut terlambat pergi ke rumah Pak Hasan dia langsung mengambil wudhu untuk shalat subuh dan meninggalkan baju kotornya di dalam kamar mandi.


Meskipun sudah agak terlambat Aldi tetap memutuskan untuk shalat subuh sebab mulai saat ini dia tidak ingin lalai lagi. Aldi berpikir sikapnya yang sering melalaikan shalat ini yang membuat dirinya yang selalu didekati oleh makhluk halus.


"Diterima atau tidak shalatku terserah Allah yang penting aku sudah shalat subuh meskipun waktunya agak telat." Bergumam sendiri dan langsung pergi menuju kamarnya.


Aldi merentangkan tikar yang tersedia di sudut ruangan lalu mengambil sajadah dari dalam tas. Setelah semua sudah terhampar Aldi langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian tadi yang sudah dia siapkan di atas ranjang.


Aldi langsung naik ke atas sajadah dan bersiap-siap untuk shalat.


"Allahuakbar!" Aldi mengucapkan takbir, memulai shalatnya.


"Allahuakbar."


Ternyata di belakang Aldi terdengar suara seorang wanita yang ikut mengucapkan takbir. Berhubung dalam keadaan shalat Aldi membiarkan begitu saja. Dia mencoba untuk khusuk lagi dalam shalatnya agar pikirannya tidak melantur kemana-mana. Namun, sepertinya Aldi tidak dapat mengontrol hatinya hingga terus saja mendengar suara-suara itu mengikuti setiap ucapannya dalam shalat setiap pergantian pergerakan seperti takbir ( Allahuakbar), sami'allahu liman hamidah dan lain-lainnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2