
"Bagaimana Nak Aldi rasa masakannya?" tanya Pak Hasan di sela-sela mengunyahnya.
Aldi hanya menunjukkan kedua jempol tangannya karena mulutnya sekarang sedang penuh dengan makanan. Kalau dipaksa berbicara pasti makanan yang ada dalam mulutnya akan tersembur kemana-mana.
"Tambah lagi Nak Aldi kalau memang enak," ucap Pak Hasan sambil menambahkan nasi di piring Aldi. Sedangkan dari dalam kaca sana Putri mengintip Aldi yang makan seperti orang rakus saja.
"Kenapa, naksir ya kok ngintip begitu?" Bu Hasan menegur putrinya yang malah melihat orang makan dari dalam rumah. Padahal katanya tadi gadis itu mengancam akan masuk kamar dan tidak ingin keluar meskipun dipanggil oleh sang ibu. Nyatanya dia masih ada di ruang tamu.
"Enggak kok Bu," bohongnya padahal dalam hati Putri memang tertarik pada Aldi.
"Kalau begitu ngapain ngintip orang makan? Tidak sopan, ayo masuk ke dalam kamar!" Bu Hasan menarik tangan putrinya untuk pergi dari tempat itu.
"Putri cuma kaget lihat cara dia makan kayak orang kesetanan saja. Apa dia nggak baca do'a ya Bu?
"Bukan kayak kesetanan Put. Itu namanya lahap karena dia menyukai masakan kita," jelas Bu Hasan pada putrinya.
"Kalau begitu bagus dong Bu," ucap Putri sumringah.
"Ya bagus memang," ucap sang ibu.
"Tapi lahapnya dia sama rakus kayaknya lebih dekat ke rakus deh." Gadis kecil itu terkekeh dan Bu Hasan hanya geleng-geleng kepala.
"Wah sambalnya segar Pak," ucap Aldi dengan senyum yang mengembang.
"Iya itu karena terasinya dibuat oleh ibu sendiri jadi rasanya lebih segar."
"Oh begitu ya Pak, nanti kalau ibu membuat terasi lagi jangan lupa panggil saya ya Pak saya ingin tahu cara membuatnya."
"Oke, tetapi itu musiman Nak Aldi. kalau lagi musim udang yang kecil-kecil itu baru kami membuatnya. Biasanya setelah mendapatkan udang rebon tersebut kita akan langsung menumbuk udang tersebut yang sudah dicampur dengan rempah. Setelah itu udang yang sudah kita tumbuk halus kita cetak atau bentuk sesuai keinginan kita. Nah, setelah itu dijemur sampai kering biar awet."
"Oh begitu ya Pak, terimakasih ya Pak atas ilmunya. Sepertinya enak tuh kalau di sini kita bangun pabrik terasi."
"Ide yang bagus Nak Aldi, cuma karena musiman itu yang akan menjadi kendala kalau kita mendirikan pabrik di tempat ini."
"Ya kecil-kecilan dulu Pak, bahannya kita bisa membeli dari luar daerah juga."
"Boleh juga tuh usul Nak Aldi. Nanti kalau sudah punya modal banyak mungkin kita bisa mulai Nak Aldi. Eh tapi Nak Aldi kan harus kembali ke kota ya, Nak?"
__ADS_1
"Itu sih mudah Pak. Nanti kita pikirkan," ucap Aldi pada Pak Hasan dan dalam hati Aldi berkata, "Kalau kampung ini sudah beres karena saya menebak di kampung ini ada yang tidak beres."
Sebenarnya melihat pria yang masuk ke dalam gudang pengolahan itu saja Aldi sudah dapat menyimpulkan bahwa di desa itu ada yang tidak beres. Namun, itu baru satu hal dan Aldi yakin pasti ada yang tidak beres lagi selain itu. Apalagi saat melihat di rumah pak Bakri sebelum dia mengenal orang-orang di kampung ini memang ada kejanggalan ditambah lagi dengan hilangnya Tata dan kejadian aneh yang terjadi di rumah yang ditempatinya.
Sepertinya Aldi enggan pergi dari kampung itu sebelum mengetahui ada apa sebenarnya di dalam kampung tersebut meskipun hidup Aldi serasa tidak tenang hidup di tempat itu karena selalu saja ada makhluk tak kasat mata yang menampakkan diri di hadapannya dan kadang malah merasuki tubuh Tata sahabatnya.
"Ikut yuk Nak Aldi!" ajak Pak Hasan pada Aldi setelah mereka sama-sama menyudahi makannya.
Aldi tampak menuang air hangat dari ceret lalu minum. "Kemana Pak Hasan?" tanya Aldi penasaran ke mana Pak Hasan akan mengajak dirinya.
"Ke pantai, mau memandikan perahu dengan air kembang."
"Baiklah," ucap Aldi dan langsung bangkit dari berdirinya.
"Sebentar aku ambil bunganya dulu," pamit Pak Hasan sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian Pak Hasan keluar dari dalam rumah dengan membawa satu mangkok berisi bunga yang sudah dicampur dengan air.
"Ayo Nak Aldi kita berangkat!" ajak Pak Hasan sambil berjalan keluar dari pekarangan rumah dan diikuti Aldi di belakangnya.
"Tuh kan anak ibu sepertinya naksir sama Aldi."
"Emang tidak boleh ya Bu?"
"Hmm, boleh nggak ya?" Bu Hasan pura-pura berpikir.
Putri tampak cemberut dengan bibir yang mencebik
"Jelek kalau ekspresi mukanya begitu."
"Abisnya Ibu suka godain Putri sih," keluh sang anak.
"Kalau suka atau naksir sih boleh, tapi kalau berharap banyak jangan nanti takutnya kamu kecewa. Aldi itu orang kota Nak, pasti banyak wanita cantik di sana yang bisa membuatnya jatuh hati dan juga menyukai Aldi. Atau bisa saja Aldi sudah punya pacar dan yang terpenting kamu masih kecil tidak boleh memikirkan tentang laki-laki. Belajar dulu yang benar."
"Hmm." Ujung-ujungnya pasti diselipkan nasehat. Putri sudah dapat menebak perkataan sang ibu.
Setelah selesai membantu Pak Hasan menaburkan air kembang di perahu, Aldi dan Pak Hasan kembali ke rumah.
__ADS_1
"Ayo Bu katanya mau ke pabrik petis," ajak Pak Hasan pada istrinya.
"Loh apakah Bapak mau ikut juga?"
"Iya sebentar saja, mau antar Nak Aldi. Setelah itu bapak akan pulang lagi."
"Oke Pak ayo."
"Aku ikut Bu!" rengek Putri.
"Loh memang adik tidak sekolah?" tanya Aldi langsung pada Putri.
"Tanggal Merah Kak."
"Oh gitu ya. Maklumin ya, setelah kakak masuk ke desa ini kak Aldi kayak tulalit gitu, sering lupa."
"Ah Kak Aldi bisa saja," sanggah Putri sambil tersenyum.
"Bapak nggak kerja?" tanya Aldi pada Pak Hasan.
"Nggak Nak. Nak Al, tahu sendiri kan perahu bapak lagi mandi kembang?"
"Oh iya ya, Aldi lupa."
"Jadi Pak Hasan kalau hari Jumat libur begitu?"
"Biasanya iya, tapi kayaknya hari ini nggak deh sebab bapak harus ikut pencarian Aldo dengan perahu milik tetangga. Kabarnya Pak Bakri juga meminta tolong pada tim SAR untuk membantu dalam mencari Aldo yang sampai sekarang belum diketemukan."
"Ih begitu ya Pak. Kenapa harus menunggu Pak Bakri yang menghubungi tim SAR?"
"Itu karena Aldo hilang saat bekerja di perahu milik Pak Bakri jadi dia yang harus bertanggung jawab atas semua ini."
"Oh begitu ya Pak?" Aldi tampak mengangguk-angguk paham.
"Sudah yuk kita berangkat, nanti ibu telat lagi," ucap Bu Hasan, tidak ingin bayarannya dipotong karena telat lagi.
Bersambung.
__ADS_1