Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 55. Rencana Penyelidikan (2)


__ADS_3

Sore hari Pak Hasan datang dari laut dengan baju yang basah.


"Tolong ambilkan ayah baju ganti, ayah mau mandi di kamar mandi yang ada di samping rumah saja!" perintah Pak Hasan pada Putri.


"Baik ayah, sebentar!" Putri langsung berlari masuk ke dalam rumah dan mengambil baju di kamar sang ayah dan segera kembali keluar memberikan baju ayahnya.


"Bagaimana ayah Kak Aldo sudah ditemukan?" tanya Putri penasaran.


Pak Hasan yang ingin berjalan ke arah kamar mandi berhenti sejenak lalu menjawab pertanyaan Putri. "Belum Put kami tidak menemukan apa-apa di tengah laut padahal kami sudah menyebar dan sampai jauh berlayar, entahlah Aldo di hanyut ke laut mana." Pak Hasan sudah tampak putus asa sebab seharian mencari Aldo tidak menemukan jejak apapun. Ya begitulah kalau seseorang hilang di tengah laut mencari jejaknya saja susah.


"Ckk, kasihan ya Yah pasti Kak Aldo kedinginan di tengah laut kalau sudah meninggal kasihan jenasahnya juga tidak bisa diurus sebagaimana mestinya," ucap Putri yang menyayangkan pencarian terhadap Aldo sampai saat ini belum membuahkan hasil juga.


"Iya Put sudah ya, ayah mau mandi dulu."


"Iya Yah biar Putri siapkan makan untuk Ayah. Pasti Ayah lapar, kan?" Pak Hasan mengangguk lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Putri lalu masuk ke dalam dapur kemudian menyiapkan makanan untuk sang ayah dan di bawanya kemeja makan.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Pak Hasan langsung masuk ke dalam rumah. "Aldi ada di sini?" tanyanya kaget saat melihat Aldi tidur di depan televisi.


"Iya Yah, sudah dari tadi siang Kak Aldi memang ada di sini."


"Tapi ibumu ada di rumah? tanya Pak Hasan lagi"


"Iya yah ibu sekarang juga masih tidur katanya capek."


"Loh nggak kembali ke pabrik?"


"Kata ibu pekerjaannya sudah selesai semua jadi tidak perlu kembali."


"Oh oke kalau begitu."


"Oh ya Ayah makanannya sudah Putri siapkan."


"Iya Put tunggu dulu ayah mau salat ashar dulu baru setelah itu makan."


"Baik ayah."


Mendengar bunyi sendok dan piring yang saling beradu dari ruang makan Aldi langsung bangkit dari tidurnya dan duduk. Kebetulan ruang televisi dan ruang makan berdekatan hanya terhalang tirai saja sehingga terdengar ke ruang televisi.


"Siapakah yang makan apakah Pak Hasan sudah datang?" tanya Aldi bertanya-tanya dalam hati. Namun, dia tidak berani mengintip ke dalam tirai ruang makan. Takut dikira tidak sopan.

__ADS_1


"Kak Aldi sudah bangun?"


Kebetulan Putri melintas di depannya jadi langsung bertanya, "Itu Pak Hasan, kah yang makan?" Rupanya Aldi sudah tidak sabar ingin memberitahukan perkara kertas yang ditemukan di atas meja kamarnya kepada Pak Aldi dan ingin menyampaikan rencananya.


"Iya Kak ayah sudah pulang dari laut."


Tiba-tiba saja Aldi teringat bahwa dirinya belum shalat dhuhur.


"Jam berapa sekarang?" tanya Aldi mencari-cari keberadaan jam dinding. Sebab nyawanya belum terkumpul semua habis bangun dari tidur, dia lupa untuk melihat jam di ponselnya.


"Jam 3 sore Kak, emangnya kenapa?" tanya Putri.


"Astaghfirullahal adzim kenapa kamu tidak membangunkan Kak Aldi sih?" protes Aldi pada Putri.


"Emangnya Kak Aldi mau ngapain?" tanya Putri lagi.


"Aku belum shalat dhuhur Put," ucap Aldi sambil mengacak rambutnya sendiri.


"Oh maaf Kak aku pikir Kak Aldi sudah shalat dhuhur tadi jadi Putri tidak tega membangunkan Kak Aldi meski sudah memasuki waktu shalat ashar. Putri lihat tidur Kak Aldi nyenyak sekali," sesal Putri.


"Sudahlah tidak apa-apa ini bukan salahmu. Kak Aldi saja yang lalai."


"Sudah gih shalat ashar sana biar nggak ketinggalan waktu shalat lagi."


Setelah itu dia kembali lagi ke tempatnya semula yaitu duduk di depan televisi. Di sana sudah ada tata Putri dan juga Pak Hasan yang telah menunggu kedatangan dirinya.


"Ada apa Nak Aldi? Kata mereka berdua kamu ingin membicarakan sesuatu yang penting kepada bapak," ujar Pak Hasan setelah Aldi duduk di sampingnya.


"Bapak, maaf sebelumnya Aldi mengganggu waktu istirahat dan ketenangan Bapak. Sebenarnya Aldi menemukan kertas ini di atas meja kamar Aldi dan Aldi pikir-pikir ini adalah petunjuk untuk membuka rahasia yang terjadi di desa ini, yang masih menjadi misteri. Saya tidak tahu apakah ini menyangkut hal pembongkaran makam yang sering terjadi ataukah masalah nelayan yang sering hilang di laut dan tidak pernah ditemukan kembali," tutur Aldi panjang lebar kepada Pak Hasan dan Pak Hasan tampak memikirkan sesuatu.


"Kamu benar sepertinya ini adalah kesempatan untuk kita agar membuka tabir rahasia yang selama ini terjadi di sini agar tidak berlarut-larut."


"Menurut Pak Hasan bagaimana? Ini katanya kita harus melakukan penyelidikan nanti malam di ujung lahan pekuburan. Apakah kita akan berangkat bersama-sama ataukah berpencar? rencananya Aldi masih ingin meminta bantuan Pak Amir juga."


"Sepertinya kita harus berpencar. Ya nanti bapak akan langsung menyampaikan Pada Pak Amir."


"Tidak usah Pak biarlah Aldi saja yang menyampaikan pada beliau."


"Baiklah kalau begitu suruh Pak Amir secepatnya ke sini sebab ini waktunya sudah mepet."


"Oh my good aku melupakan sesuatu," ujar Aldi. Pria ini tiba-tiba mengingat janjinya kepada Pak Amir untuk menunggu di pantai sebab jam 3 sore ini mereka akan menjemput Lisa dan topan di poskesdes desa.

__ADS_1


"Ada apa Nak Aldi?" kaget Pak Hasan melihat Aldi langsung bangkit berdiri dari duduknya.


"Saya lupa ada janji dengan Pak Amir untuk menjemput dua teman saya yang lainnya."


"Kapan?"


"Sekarang Pak."


"Baik pergilah dan sampaikan langsung pada Pak Amir."


Aldi mengangguk dan pamit. Setelah mengucapkan salam pria itu pergi dari kediaman Pak Hasan menuju pantai.


Sampai di sana ternyata Pak Amir sudah siap dan menunggu di atas perahu. Ketika melakukan perjalanan melalui jalur laut, di atas perahu Aldi menuturkan tentang isi tulisan kertas yang ditemukannya itu dan rencananya bersama Pak Hasan.


Pak Amir mendengar secara seksama apa saja yang dikatakan Aldi dan dia setuju untuk melakukan penyelidikan malam ini.


Setelah menjemput Lisa dan Topan Aldi langsung membawa keduanya ke rumah Pak Hasan begitu juga dengan Pak Amir yang langsung pulang ke sana.


Semua orang yang ada di kediaman Pak Hasan berembug termasuk Bu Hasan yang tidak ada rencana untuk ikut pun nimbrung dalam pembicaraan.


"Apa kita perlu mengkoordinir yang lainnnya Pak Hasan?" tanya Pak Amir berpikir apakah warga yang lain perlu diberi tahu dan ikut.


"Sebaiknya jangan dulu Pak Amir sebab ini semua belum tentu kebenarannya. Nanti kalau tidak ada apa-apa malah kita di protes oleh warga."


"Iya juga ya Pak."


"Iya, lagian kan ada Nak Topan sama Nak Aldi juga," ujar Pak Hasan. "Saya pikir kita berempat sudah cukup agar tidak menimbulkan kecurigaan kalau beramai-ramai," saran Pak Hasan.


"Saya setuju saja sih Pak Hasan. Bagaimana denganmu Nak Aldi dan Nak Topan?"


"Saya jua setuju Pak," jawab Topan disertai anggukan dari Aldi.


"Tapi aku juga pengen ikut," rengek Putri.


Sontak semua orang menoleh pada Putri.


"Ini bukan rekreasi Put," protes Bu Hasan.


"Saya sudah tahu ibu tapi Putri penasaran ingin ikut."


"Tidak boleh, ini berbahaya dan pasti akan mengganggu penyelidikan," larang Bu Hasan.

__ADS_1


"Ah ibu tidak asyik," rengek Putri.


Bersambung.


__ADS_2