
Semua orang pun bergegas menuju kediaman Pak Langsa. Sampai di sana mereka menemukan tubuh Bu Langsa sudah terbujur kaku di lantai.
Pak Amir berlari mendekat lalu mencoba memeriksa nadi tangannya barangkali Bu Langsa masih hidup.
"Bagaimana Pak Amir?" tanya Pak Hasan dan Bu Hasan hampir bersamaan.
Pak Amir menggeleng. "Sepertinya Bu Langsa sudah tiada," katanya.
"Coba periksa sekali lagi Pak, siapa tahu Bapak salah," usul Bu Hasan pada Pak Amir.
Pak Amir pun mengangguk lalu memeriksa denyut nadi di tangan Bu Langsa sekali lagi setelah itu memeriksa denyut nadi di leher dan dadanya. Pria itu tetap menggeleng.
"Bu Langsa sudah meninggal dunia."
Begitulah kesimpulan Pak Amir.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun," ucap orang-orang yang berada di tempat itu serempak.
"Tolong umumkan kepada seluruh warga bahwa Bu Langsa sudah tiada malam ini dan kita harus menguburnya malam ini juga!" seru Pak Hasan pada semua orang yang hadir di tempat itu dan beberapa orang warga segera berpencar untuk menyampaikan berita itu kepada warga yang lainnya.
__ADS_1
Pak Amir terlihat memeriksa leher Bu Langsa yang menurut cerita dari Bu Hasan tadi dicekik oleh makhluk seperti kuntilanak.
"Bagaimana Pak?"
Pak Amir menyingkap kerah baju yang dipakai Bu Langsa.
"Benar ada bekas cekikan di leher. Kalian bisa melihat sendiri bekas kuku tajam yang menancap di leher Bu Langsa saat ini," jelas Pak Amir.
Orang-orang yang masih berada di tempat tersebut ikut memeriksa dan mengangguk, membenarkan ucapan Pak Amir.
"Anak-anaknya mana?" tanya Pak Hasan kemudian mengingat kedua putri Bu Langsa tidak ada di sana sekarang.
"Mungkin di dalam, biar aku memeriksanya dulu," ujar Pak Amir lalu bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari kedua putri dari Bu Langsa itu.
"Tidak ada Pak, apa mungkin mereka tadi kabur saat melihat ibunya dicekik atau malah sempat ikut warga lain sebelumnya, melihat kebakaran di pabrik ayahnya itu."
"Bisa saja begitu coba tanyakan pada yang lainnya mungkin ada yang melihatnya."
Seorang warga mengangguk dan langsung bergegas pergi untuk mencari informasi.
__ADS_1
"Kita angkat ke dalam saja," ajak Pak Amir pada Pak Hasan untuk mengangkat tubuh Bu Langsa masuk ke dalam dari serambi rumah.
Pak Hasan pun mengangguk dan membantu Pak Amir untuk membawa jasad Bu Langsa ke dalam. Sampai di dalam mereka berdua meletakkan jasad tersebut di atas kasur lantai yang berada di depan televisi.
"Kira-kira Pak Langsa mana ya?" tanya orang-orang yang masih berada di tempat itu karena juga tidak melihat kehadiran Pak Langsa.
"Oh iya apa mungkin kedua putrinya juga ikut bersama Pak Langsa untuk meninjau pabrik tadi dan belum pulang sampai sekarang. Mungkin masih nyangkut di rumah tetangga dan belum mendengar kabar tentang kematian istri maupun ibunya ini," timpal yang lain.
Aldi, Topan, Tata dan Pak Amir serta Pak Hasan yang tahu segalanya tentang Pak Langsa hanya diam mendengar asumsi dari para warga.
"Pak Amir! Pak Hasan!" teriak seorang warga sambil berlari ke arah mereka dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Ada apa Pak Wila?" tanya Amir langsung.
"Anu Pak, anu ...."
"Anu apa Pak? Coba tenangkan diri dulu sebelum menjelaskan," saran Pak Hasan.
"Itu ... itu ... kedua putri Pak Langsa terbang menuju lahan pekuburan."
__ADS_1
"Apa? Kenapa bisa? Apa mereka mempunyai kesaktian?" tanya seorang warga heran.
Bersambung.