Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 72. Menyeberang


__ADS_3

"Bertualang? Bertualang kemana maksudnya Pan?" tanya Tata tidak percaya dengan usul Topan itu.


"Bertualang menyebrang lautan ini lah memang apalagi," ujar Topan santai.


"Kamu ngomong itu nggak dipikir dulu begitu Pan? Dengan apa kita bisa menyeberang ke sana?" Aldi tidak paham dengan arah pikiran Topan.


"Pakai perahu ayah saja Kak," usul Putri. Gadis itu terlihat nyengir kuda setelah memberikan ide seperti itu.


"Siapa yang akan membawa perahu Pak Hasan ke sini Put? Meskipun tempat ini jaraknya dengan laut begitu dekat, tapi susah membawa perahu ayahmu ke sini." Beginilah tanggapan Aldi. Pria itu tidak suka dengan keribetan. Apalagi yang dikatakan Topan belum tentu benar. Dunia lain, dunia lain apa maksudnya? Yang Aldi tahu dunia itu hanyalah dunia nyata yang sekarang dipijaknya atau alam kubur dan alam akhirat yang akan ditemui setiap manusia setelah mati.


"Kita berenang saja ke sana, sepertinya laut ini hanya berjarak sedikit ke seberang sana." Topan memberi ide konyol lagi sedangkan semua orang hanya menanggapi usul Topan dengan gelengan kepala.


"Gila kamu Pan, laut itu beda dengan daratan ya. Di darat mungkin jarak 1 kilo itu dekat, tetapi kalau laut itu sangatlah jauh. Apalagi ini juga tidak bisa diprediksi luas dan kedalaman lautnya," protes Tata.


"Andai aku diberikan mukjizat seperti nabi Musa yang bisa membelah laut. Pasti aku akan membuat laut ini terbelah menjadi dua sehingga kita bisa berjalan kaki ke seberang sana dengan santai." Putri tampak menghayal. Menghayal tentang mukjizat yang pernah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa itu sambil senyum-senyum sendiri.


"Lebih baik kita kembali saja deh. Nih lihat belum sampai ke seberang sana saja Putri sudah tampak sinting apalagi kalau kita sampai ke sana, kejadian yang tidak terduga sama sekalipun bisa saja terjadi," ujar Aldi mencoba menasehati semua orang agar sadar dengan keadaan.


"Enak saja Kak Aldi mengatakan aku sinting. Aku masih waras tahu Kak." Putri terlihat ngambek dan tanpa sadar ia bergerak ke depan, menyibak air laut yang seakan tidak menyentuh tubuhnya.


"Kak lihat Kak, aku serasa berjalan di daratan saja. Tubuhku tidak menyentuh air." Putri terus saja bergerak ke depan sambil menyanyikan lagu pop kesukaannya.


"Apa yang terjadi dengannya? Dia tidak kerasukan, bukan?" tanya Tata tak percaya. Gadis itu menyentuh air laut di hadapannya.


"Masih basah seperti saat Putri tadi menyentuh air laut tersebut. Bagaimana mungkin gadis itu bisa berjalan dengan enjoy?"


Aldi dan Topan pun menyentuh air tersebut lalu mengangguk, membenarkan ucapan Tata.


"Tapi mengapa Putri bisa berjalan dengan santai seperti itu?"


Ketiga sahabat itu kebingungan sebab Putri sudah jauh melangkah dan tubuhnya tetap tegap berdiri sampai di tengah laut.

__ADS_1


"Ayo Kak!" Putri melambai-lambaikan tangannya ke arah ketiga sahabatnya yang masih diam terpaku.


"Put kembali! Bahaya!" teriak Tata. Namun, sedikitpun Putri tidak menghiraukan teriakan dari Tata. Gadis itu terlihat cuek. Langkahnya sudah hampir mendekat ke arah perahu yang seakan terlihat berada di tengah-tengah lautan.


"Waduh Putri sudah jauh dan aku akan segera menyusulnya." Aldi mengambil keputusan tanpa pikir panjang saat melihat tubuh Putri semakin jauh dari dirinya.


"Al jangan!" larang Tata.


"Aku harus menyelamatkan Putri Ta. Apa yang akan kita jawab nanti kalau Pak Hasan akan menanyakan keberadaan putrinya nanti?"


"Tapi Al, aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu." Tata terlihat begitu khawatir. Sudah cukup cobaan yang mereka alami selama ini. Tata sudah lelah.


Sama dengan Putri, Aldi tidak menghiraukan larangan Tata. Pria itu tetap bergerak ke depan.


Awalnya tubuh Aldi terasa barat sebab berjalan di air, tetapi beberapa langkah ke depan Langkahnya sudah mulai ringan.


"Ternyata benar yang dikatakan Putri, semakin ke sini semakin terasa berjalan di daratan dan tubuh tidak tersentuh air," gumam Aldi.


"Ayo Pan, aman!" teriaknya.


"Jangan Pan!" Tata mencekak bahu Topan agar tidak turut serta dengan Aldi dan Putri.


"Tenanglah Ta, apa yang kita lihat sepertinya hanya tipuan semata. Yang laut hanya beberapa jengkal saja dan selanjutnya adalah daratan biasa." Topan sudah mengamati tadi dari pergerakan Aldi maupun Putri sehingga bisa menyimpulkan apa yang dilihat dirinya dan juga teman-temannya tadi adalah semu.


"Bagaimana mungkin Pan. Masa ada laut hanya beberapa jengkal saja. Tidak masuk akal," sanggah Mentari.


"Logikamu tidak berlaku di tempat ini Ta. Apa kamu lupa bahwa bahwa banyak kejadian aneh di kampung ini yang selama ini kita temui."


Tanpa menunggu tanggapan Tata terlebih dahulu, Topan langsung bergerak menyusul Aldi.


"Pan tunggu!"

__ADS_1


Akhirnya Tata memutuskan menyusul semua orang daripada harus berada di tempatnya berdiri sekarang, hanya sendirian saja. Kembali ke rumah Pak Hasan pun tak mungkin sebab dia tadi datang bersama Putri dan harus kembali bersama Putri.


"Pan tunggu!" teriak Tata lagi hingga membuat Topan berhenti sejenak dan menoleh.


"Aku ikut!" teriak Tata lagi.


"Ayo aku tunggu!" Topan benar-benar tidak bergerak dari tempatnya dan menunggu Tata sampai ke sampingnya terlebih dahulu. Setelah Tata sudah berada di sampingnya mereka berjalan berdua menuju tengah laut.


Tidak menunggu waktu yang lama Tata dan Topan pun sudah sampai di tepi perahu.


"Ayo naik!" perintah Putri dengan senyum yang mengembang sedari tadi.


Topan langsung meloncat ke atas perahu sedangkan Tata berulang kali melompat, tetapi tidak berhasil naik ke dalam perahu besar tersebut.


"Ayo pegang tanganku!" seru Aldi dari atas perahu dan Tata langsung mengulurkan tangannya ke atas. Aldi menarik tangan Tata sehingga gadis itu sekarang sudah berada di atas perahu besar juga.


"Akh, akhirnya," ucap Putri bernafas lega.


"Bagaimana ini bisanya terjadi?" Tata tercengang melihat perahu tersebut bergerak setelah ditumpangi oleh diri dan teman-temannya. "Bagaimana bisa perahu ini bergerak kalau air laut yang di bawah itu hanya kamuflase semata," lanjut Tata.


"Hilangkan mencocokkan sesuatu dengan logika. Anggap saja kita semua sedang masuk ke negeri dongeng," saran Topan.


"Iya Mbak Tata. Di sini benar-benar indah," ujar Putri mengagumi apapun yang dilihatnya tidak perduli sesuatu itu nyata ataupun semu.


Tidak ada yang bicara lagi saat perahu mulai bergerak dan membawa tubuh ke-4 manusia itu menuju suatu tempat yang mereka sendiri saja tidak mengerti tubuhnya akan dibawa kemana. Perahu mendarat di sebuah pantai tanpa ada yang memerintah ataupun mengarahkannya.


"Al itu kan Pak Sarfan!" tunjuk Putri pada seseorang yang sedang berdiri sambil mengangkut pasir di tepi laut.


"Pak Sarfan siapa?" tanya Aldi tidak mengerti siapa nama orang yang disebutkan oleh Putri.


"Salah satu warga yang tenggelam di tengah laut beberapa tahun yang lalu dan mayatnya sampai saat ini belum diketemukan," jelas Putri.

__ADS_1


"Aldi, Topan, aku takut. Bagaimana kalau yang kita masuki saat ini adalah alamnya para roh?" tanya Tata gemetar. Dia sudah lelah bertemu dengan makhluk halus.


Bersambung.


__ADS_2