Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 73. Bukan Alam Kematian


__ADS_3

Perahu semakin mendekat ke tepi pantai dan kini berhenti tepat di depan Pak Sarfan yang mengisi sak dengan pasir. Putri dan yang lainnya langsung turun dan berdiri melihat-lihat apa yang dikerjakan Pak Sarfan itu sedari tadi.


"Neng Putri, ngapain ke sini?" tanya pria yang dipanggil dengan Pak Sarfan itu pada Putri. Saat melihat bayangan di atas pasir ia mendongak dan mendapati wajah Putri yang tersenyum manis.


"Bertualang Pak," jawab Putri sekenanya.


"Kamu jangan main-main Put di sini bukan tempat untuk rekreasi cepat sana balik!"


"Loh kok malah disuruh balik Pak orang putri baru saja sampai," keluh Putri tidak suka dengan perintah Pak Sarfan.


"Cepat balik sebelum Pak Bakri menemukan kalian berada di sini!Kalau tidak, kalian tidak akan pernah bisa kembali ke dunia kalian selamanya."


"Apa?" Tata menganga mendengar penjelasan dari Pak Sarfan itu.


"Ini dunia apa sih Pak sebenarnya?" tanya Aldi bingung sebab Pak Sarfan mengatakan bahwa diri dan teman-temannya tidak akan pernah bisa kembali ke dunia nyata.


"Saya juga tidak mengerti Nak, tapi semenjak saya tenggelam di lautan saya dibawa ke sini oleh perahu yang kalian tumpangi itu dan tidak pernah bisa kembali ke dunia nyata ke keluarga bapak yang ada di sana. Bapak di sini disuruh bekerja siang malam dan tidak pernah digaji sementara uang yang didapatkan dari hasil kerja kami semuanya diambil oleh Pak Bakri kami di sini semuanya bisa dianggap kerja paksa," terang Pak Sarfan panjang lebar.


"Pantas saja, saya pernah melihat pembantu di rumah Pak Bakri menyapu daun-daun yang dia masukkan ke dalam keranjang besar. Saya pikir daun itu pasti kiriman dari tempat ini dan dalam pandangan aslinya itu bukan daun semata karena sangat berharga dimata mereka," terka Tata.


"Iya kau benar Ta itu bukan daun melainkan uang sebab saya pernah melihat sendiri di dalam sebuah kamar yang ditengarai adalah gudang ada banyak keranjang yang berisi uang," sambung Topan membenarkan perkiraan Tata.


"Ya begitulah kami di sini yang bekerja dan Pak Bakri yang menikmati hasil kerja kami," jelas Pak Sarfan.

__ADS_1


"lebih baik kalian segera pergi sebelum kalian terjebak di tempat ini sama seperti kami," tambah Pak sarfan lagi.


Tata langsung naik lagi ke atas perahu. "Ayo teman-teman kita pergi sekarang sebelum Pak Bakri melihat keberadaan kita di sini!" teriak Putri dari atas perahu.


"Tidak Ta aku tidak akan pergi sebelum melihat-lihat siapa saja orang dari kampungku yang berada di sini." Putri ngotot dan terus berjalan menyusuri pantai tidak perduli dengan tatapan Pak Sarfan yang begitu khawatir terhadap mereka.


"Al ayo kita pergi!" seru Tata oada Aldi, tetapi pria itu menggeleng.


"Kita datang ke tempat ini bersama dan kita pulang bersama-sama."


"Tapi aku tidak mau berada di tempat ini Al, ayolah bujuk Putri agar mau kembali," mohon Tata.


"Kau pergilah Ta! Pakai google untuk mengetahui bagaimana caranya mengemudikan perahu!" saran Aldi membuat Tata kecewa seketika. Dia berpikir Aldi lebih mementingkan Putri daripada dirinya yang notabene adalah sahabatnya semenjak kecil.


"Sorry Ta, aku ingin tahu apa yang ada dan terjadi di sini. Jika aku kembali denganmu saat ini maka aku tidak akan pernah menemukan obat dari rasa penasaranku ini."


"Akh, nyesel aku ikut kalian tadi. Kalau tahu begini aku tadi pasti kembali ke Lisa saja. Tak perduli apa yang akan ditanyakan oleh Pak Hasan dan Bu Hasan akan kujawab sejujurnya bahwa anaknya itu sangatlah ngotot," kesal Tata sambil meraih ponsel dan membuka aplikasi google seperti yang disarankan oleh Aldi tadi. Setelah paham Tata langsung mengemudikan perahu tersebut menjauh dari teman-temannya.


Sementara Tata pergi ketiga sahabat yang lain itu terus bergerak maju. Putri semakin heran sebab semakin banyak menemui warga yang dikenalnya.


"Bapak masih hidup?" tanyanya pada seorang bapak yang sedang mengelas sebuah baling-baling perahu.


"Bagaimana kabar Lastri istriku?" tanya Bapak itu tanpa mau menjawab pertanyaan dari Putri.

__ADS_1


"Bu Lastri sudah meninggal dan anak bapak sekarang tinggal bersama Bu Dewi," jawab Putri.


Pria setengah baya itu langsung menangis sesenggukan mendengar kabar duka tentang istrinya.


"Istriku sakit apa?" tanya pria itu lagi sambil mengusap air matanya.


"Tidak sakit, Bu Lastri hanya merasakan pusing dan meninggal saat sujud dalam shalatnya."


Pria setengah baya itu mengangguk.


"Kenapa Bapak menangis apakah Bapak tidak pernah bertemu dengan istri Bapak?" tanya Putri heran.


"Bagaimana bisa bertemu Nak Put saya di sini dan istri saya sudah di alam baka," jelas bapak tersebut.


"Jadi ini bukan alam baka?" tanya Putri heran.


"Bapak masih hidup Put," jelas pria itu dan Putri hanya terbengong-bengong saja. Sedari tadi dia berpikir dirinya nyasar ke alam baka.


"Cepat-cepat sembunyi, anak Pak Bakri datang!" Salah satu pria yang bersama bapak tadi dan putri pun tidak mengenalnya memperingatkan ketiga anak muda tersebut.


"Anak buah, apakah ...?


"Ayo sembunyi Put!" Topan menarik tangan Putri agar segera bersembunyi sebab mulut anak itu masih saja mau nyerocos ingin bertanya sesuatu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2