
Aldi langsung mengikuti bekas seretan itu kemana kira-kira Tata dibawa.
Dengan penerangan seadanya Aldi terus mengikuti jejak itu hingga langkahnya jauh sudah meninggalkan rumah. Aldi melirik ke sana kemari, tetapi langkahnya yang panjang kini telah membawa dirinya ke sebuah lahan pemakaman.
"Ini kuburan." Aldi kaget bukan kepalang. Dirinya yang penakut tidak pernah menyangka bahwa akhir jejak yang diikutinya adalah sebuah lahan pekuburan.
"Berarti benar Tata tidak diculik manusia tetapi diculik oleh makhluk halus. Kenapa makhluk-makhluk itu seakan-akan berseliweran di samping kami dan kenapa orang-orang desa malah tidak pernah diganggu oleh mereka? Apa yang aneh pada diri kami? Apa kami pernah mengganggunya
hingga mereka balik mengganggu kami?" Aldi tidak pernah habis pikir mengapa semua hal yang aneh seakan terus terjadi di sekitar dirinya.
Ia terus melangkah meskipun tidak tahu harus mencari Tata di bagian sisi mana di lahan pekuburan itu.
Terdengar suara burung hantu di tengah kesunyian suasana malam di pekuburan ditambah lagi dengan bunyi decitan bambu yang terkena terpaan angin membuat suasana pekuburan itu semakin mencekam.
Aldi melangkah dengan gontai, nyalinya ciut sudah, apalagi dia memang basic-nya adalah seorang penakut. Namun, hanya sok berani saja sebab kalau tidak begitu siapa yang akan membantu dirinya mencari Tata sedangkan Topan sekarang sedang fokus menjaga Lisa di poskesdes desa.
"Ta, ada di mana kamu?" teriak Aldi. Tidak ada jawaban kecuali hanya suara burung hantu yang seakan tidak mau berhenti dan desiran angin yang membuat tubuh Aldi merasa kedinginan. Sunyi, sepi dan bunyi-bunyi yang tidak disukainya itu yang bahkan menemani dirinya malam ini. Andai ada teman yang bisa diajak bicara suasana ini tidak akan terlihat begitu kelam dan mencekam.
"Tata!" Sekarang Aldi mencoba berteriak lebih keras lagi meski dalam hati merasa takut jika suaranya akan membangunkan penghuni-penghuni di dalam setiap makan yang dilintasinya.
__ADS_1
Wussss.
Sebuah bayangan berkelebat di atas kepala membuat Aldi kaget dan langsung menutup mata.
Bagaimana bisa mencari Tata di tengah malam gelap gulita seperti ini jika hanya melihat kertas yang terbang di atasnya saja dia sudah ketakutan dan langsing menutupi mata. Bisa-bisa saat melihat Tata sekalipun Aldi akan berlari karena menganggapnya hantu.
Kertas itu jatuh di hadapannya.
"Arrgh!" Aldi berteriak ketakutan sambil menutup matanya kembali. Kemudian dia mencoba mengintip benda apa yang jatuh itu melalui sela-sela jari yang dia sedikit renggangkan.
"Hanya layangan putus." Aldi mengelus dadanya, lega kemudian memungut benda itu di atas kuburan yang menjadi tempat jatuhnya benda tersebut.
Setelah memastikan itu memang layangan putus dan sudah sobek, Aldi terus saja melangkah semakin masuk ke dalam area pekuburan itu meskipun otot-ototnya semakin terasa lemas saja.
"Aku tidak boleh takut, aku harus bisa menemukan Tata bagaimanapun caranya. Allah bersamaku dan tidak akan terjadi apa-apa padaku sebab niatku baik untuk menyelamatkan orang lain." Aldi mencoba menyemangati dirinya sendiri agar rasa takut tidak mendominasi lagi. Bukankah Tuhan memang selalu bersama orang-orang yang benar? Menyelamatkan orang lain adalah tindakan yang benar. Begitu terus pikirnya, Aldi menyakinkan dirinya sendiri.
Jauh memasuki pelataran pekuburan Aldi melihat benda putih tergantung di atas Pohon.
"Astaghfirullah hal adzim-Astaghfirulah hal adzim." Aldi menekan dadanya sendiri dimana jantungnya serasa akan copot saja. Tubuhnya menjadi gemetar, rasa takut menyergap kembali di dalam hati. Keberanian yang tadi sempat terkumpul entah hilang kemana sudah. Aldi paham atas dirinya sendiri yang plin plan. Di saat tertentu dia merasakan dirinya adalah orang yang pemberani tetapi jika sudah menghadapi seperti ini dia merasa seperti orang pengecut saja.
__ADS_1
Aldi mencoba menahan diri agar tetap bisa berdiri kokoh. Benda putih itu terus saja bergerak mendekati dirinya dan setelah sampai ke hadapan Aldi mencair seperti lilin yang dipanaskan dan anehnya seakan mengalir masuk ke dalam sebuah kuburan yang ada di samping Aldi berdiri.
"Alamak apaan ini!" Hampir saja benda cair itu menyentuh kakinya, tetapi lekas-lekas Aldi melompat sehingga tidak tersentuh.
Aldi mengurut dadanya lagi agar supaya bisa lebih bersabar. "Kalau begini terus aku bisa terkena serangan jantung," keluhnya.
Aldi berbelok arah tidak mau menyentuh tanah bekas benda putih tadi, jijik sekaligus untuk berjaga-jaga kalau saja makhluk itu tidak suka jalannya dilewati orang lain.
Aldi berjalan lagi hingga langkahnya sampai di sebuah bangunan kecil tempat penyimpanan keranda. Aldi bergidik ngeri melihat kereta jenazah itu. Entah mengapa bulu kuduknya meremang seketika.
Ingin rasanya Aldi berbalik dan kembali pulang, tapi dirinya sudah berada ditengah-tengah lahan pekuburan dan dia merasa nanggung jika harus kembali. Seperti halnya peribahasa, 'Sudah kepalang basah jadi mandi sekalian.'
"Ada darah." Aldi melihat bercak darah di depannya. Sama dengan bekas tanah yang diikutinya tadi bekas darah itu memanjang tidak tahu ujungnya kemana. Aldi memutuskan untuk mengikuti bekas darah itu dan berpikir bahwa itu adalah darah Tata yang terluka. Dia terlihat tarik nafas sebelum akhirnya melanjutkan langkah.
Sesuatu terdengar berbunyi dengan keras. Terdengar berdenting kemudian bergetar hebat. "Bunyi apa itu?" Aldi menoleh ke belakang ternyata keranda yang dilihatnya tadi sekarang sudah bergerak-gerak dengan kasar.
"Ada apa ini? Kenapa semua aneh begini? Apakah memang begini penampakan pekuburan saat tengah malam?"
Tubuh Aldi bergetar seakan seirama dengan gerakan keranda di belakangnya.
__ADS_1
Bersambung.