Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 32. Cerita Masa Lalu Ibu Dari Aldo


__ADS_3

Namun, suara itu semakin lama semakin keras saja membuat Aldi merasa penasaran apalagi suara yang tadinya cuma berasal dari satu orang kini malah menjadi dua orang.


Aldi merasa penasaran, dia memutuskan untuk mencari asal suara itu barangkali itu adalah suara Tata meskipun sebenarnya Aldi tidak yakin sebab dia hafal sekali suara Tata seperti apa.


Aldi semakin mendekatkan langkah. Terlihat samar-samar dari atas saung sana ada dua orang wanita dengan tubuh yang berbeda ukuran sedang menangis sesenggukan. Sesekali mereka mengusap air matanya dan juga ingus di hidungnya yang keluar seiring air matanya yang mengalir.


"Apakah ada setan yang menangis dengan gaya seperti itu?" Saking seringnya bertemu makhluk aneh membuat otak Aldi berpikir semuanya adalah hantu.


"Saya bukan hantu, hiks ... hiks hiks... kakak! Kakak dimana sekarang? Kami tidak akan pulang sebelum kakak kembali. Kakak janji jangan pernah tinggalkan adik sama ibu." Seorang anak kecil terdengar meratap pilu.


Dari suara tangis dan tatapannya Aldi jadi mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah manusia bukan hantu seperti dugaannya.


Yakin mereka adalah manusia Aldi juga ikut naik ke atas saung itu dan duduk di dekat anak kecil.


"Adik kenapa menangis?" Aldi memberanikan diri untuk bertanya.


"Kakakku belum pulang," jawab gadis kecil itu sambil menggesek-gesekkan tangan di depan matanya.


"Berarti benar dia manusia," batin Aldi.


"Oh, memangnya kakak adik kemana?" tanya Aldi lagi.


"Kerja cari ikan tapi sampai saat ini belum pulang juga," tutur gadis kecil itu lalu mewek lagi tak kuasa menahan tangisnya.


Mendengar jawaban gadis itu Aldi jadi teringat dengan orang hilang yang dicari para nelayan sejak tadi siang.


"Jadi kamu adiknya Aldo?" tanya Aldi untuk memastikan.

__ADS_1


"Iya benar, kakak kenal kakak saya?" tanya gadis kecil itu mulai menghentikan tangisnya.


"Tidak kenal sih cuma kakak tadi siang juga ikut pencarian dalam perahu untuk mencari kakakmu Aldo itu."


"Oh." Gadis itu tidak menangis lagi, tetapi tetap saja murung. Wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk kini sudah mulai mendongak dan menatap ke arah lautan.


"Kasihan Kak Aldo dia pasti kesepian di tengah lautan. Dia pasti kedinginan di malam ini apalagi sekarang ombak begitu kencang menerjang diterpa angin kencang pula."


Aldi tidak tahu harus berbuat apa. Dia mengerti akan kesedihan anak kecil itu terlebih lagi ibunya yang sedari tadi tidak memperdulikan apapun selain hanya menangis. Mungkin saja keberadaan Aldi di tempat itu juga tidak dilihatnya.


"Adik kecil tenang saja, Kak Aldo di sana pasti sedang bermain air dengan hiu dan beberapa hewan laut yang pastinya begitu lucu di sana." Niatnya ingin menghibur anak kecil itu, tetapi justru memunculkan harapan di dalam dirinya.


"Jadi Kak Aldo belum meninggal?" tanya anak itu sumringah membuat ibunya yang sedari tadi hanya menangis ikut mengangkat wajahnya.


"Benarkah putraku masih hidup?"


"Insyaallah Bu, sebelum diketemukan mayatnya ada kemungkinan masih hidup." Aldi tidak bisa memastikan sebab dia bukanlah malaikat atau manusia indigo yang bisa serba menebak. Namun, kenapa dia mempunyai firasat bahwa Aldo sebenarnya masih hidup.


"Semoga saja Nak, siapa namamu?"


"Aldi Bu," sahut Aldi.


"Aldi?" Perempuan tua itu mengernyit dan menatap Aldi tidak percaya. Wanita itu langsung mengambil senter dan menatap wajah Aldi untuk melihat wajahnya dengan jelas.


"Ada apa Bu?" tanya Aldi heran dengan tindakan ibu tersebut yang membuatnya kaget dan merasa ibu itu tidak sopan. Namun, Aldi tidak mungkin protes mengingat wanita itu masih dalam keadaan bersedih.


"Tidak ada, namamu mengingatkan akan anak ibu yang hilang," jawab ibu tersebut.

__ADS_1


"Aldo maksud ibu?"


"Bukan, tetapi anak pertama saya. Namanya juga Aldi. Dia hilang di laut satu jam setelah ibu melahirkan," ucap ibu itu sambil mengenang saat-saat ia melahirkan anak pertamanya.


"Dan sekarang Aldo juga bernasib sama. Sama-sama hilang di laut. Dosa apa ibu hingga mengalami nasib seperti ini?" Dari sorot lampu yang temaram Aldi dapat melihat wajah wanita itu sangat murung dan tersiksa.


"Bagaimana bisa anak pertama ibu bisa hilang saat dilahirkan?" Aldi sangat heran dengan kejadian itu yang menurutnya sama sekali tidak masuk akal. Kalau kehilangan Aldo yang ikut melaut menangkap ikan masih masuk di logika. Nah kalau bayi? Tidak mungkin kan bayi baru lahir langsung menjadi nelayan?


"Saat itu kami sudah diperbolehkan pulang oleh bidan karena keadaan bayi dan juga ibu sudah sangat sehat." Ibunya Aldo mulai bercerita dan Aldi menyimak dengan seksama sebab benar-benar penasaran.


"Kamu tahu sendiri kan di desa ini tidak boleh ada kendaraan bermotor?"


Aldi mengangguk.


"Suami ibu sangat bahagia telah memiliki seorang putra. Dia tidak sabar untuk membawa Aldi kecilku itu untuk pulang sebab ingin membungkam mulut orang-orang yang selalu nyinyir dan mengatakan dirinya impotensi sehingga tidak akan pernah bisa memiliki anak. Oleh sebab itu kami memilih jalur laut menggunakan perahu sendiri untuk pulang ke rumah."


Aldi mengerti itu semua sebab sudah mengalami hal itu ketika mengantar Lisa ke poskesdes desa.


Aldi masih mendengar dengan khusuk begitupun gadis kecil di sampingnya ikut menjadi pendengar yang baik sebab ibunya tidak pernah menceritakan hal itu sebelumnya.


"Setelah meminta izin untuk pulang suami ibu melingkarkan gelang di tangan bayi itu yang terbuat dari roncean siput laut yang sering orang bilang dengan sebutan buteng-buteng yang katanya berguna untuk mengusir makhluk halus agar tidak bisa mendekati bayi. Lalu di tengah-tengahnya ada ukiran dari kayu bertuliskan nama Aldi. 'Kamu ayah kasih nama Aldi ya, semoga bisa menjadi anak yang Sholeh dan menyejukkan pandangan siapa saja yang melihatmu' begitu kata suami ibu." Ibu dari Aldo itu menghela nafas sebentar untuk menghilangkan rasa sesak di dalam dada.


"Setelahnya kami berjalan mendekati perahu dengan bayi itu masih dalam gendongan suami ibu dan ibu sendiri berjalan di belakang dengan pelan sebab memang dilarang untuk berjalan cepat karena ibu baru saja melahirkan. Setelah sampai di dekat perahu kami, suami ibu menaruh bayi tersebut di atas kasur kecil yang memang sengaja kami bawa dan suami ibu beralih membuka tali tambat perahu. Tak di duga sama sekali angin kencang mendadak menerpa hingga perahu bergerak sebelum kami naiki. Tali yang dipegang suami ibu terlepas begitu saja karena suami ibu sudah tidak bisa menahannya lagi. Perahu bergerak cepat seperti orang berlari. Suami ibu naik perahu orang lain dan mengejarnya dan nihil suami ibu tidak bisa menyusul perahu itu dan akhirnya kehilangan jejak. Aldi dan perahu tersebut hilang bak ditelan bumi. Saat itu kami hampir stres memikirkan itu dan suami ibu sampai dua hari dua malam tidak pernah mau makan."


Ibu itu mengakhiri ceritanya dengan mengusap air mata yang menggenang lagi di pelupuk matanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2