
"Dia minta air Put bagaimana caranya?"
Putri langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju bagian goa yang meneteskan air. Putri langsung menadahkan tangannya dan menampung tetesan air hujan. Setelah tangannya terisi air dia langsung menuangkan ke dalam mulut Aldi. Bolak-balik Putri melakukan hal itu karena tangannya yang mungil hanya menampung sedikit air dan itu tidak cukup untuk mengobati rasa haus Aldi.
"Sudah cukup Put!" Suara Aldi terdengar lemah.
"Mbak sepertinya Kak Aldi membutuhkan makan untuk memulihkan tenaganya," ucap Putri.
"Bukan cuma Aldi kali Put saya pun sama," ujar Tata sambil memegang perutnya yang sudah terasa menyengit. Dia juga benar-benar lapar saat ini.
"Sebentar aku cari di daerah sini mungkin ada makanan." Meskipun tidak yakin Putri tetap memeriksa sekitar.
"Tidak ada Mbak."
"Iya jelas lah Put nggak ada. Siapa juga yang akan menyimpan makanan di di tempat seperti ini."
"Kali aja Mbak. Kan namanya usaha siapa tahu ada."
"Iya juga ya."
Putri kembali ke samping Tata dan duduk.
"Aduh kok perutku tambah sakit ya." Tata meringis kesakitan.
"Lapar banget ya Mbak?"
Tata mengangguk.
"Kalau begitu aku naik saja ke atas untuk mengambil makanan yang sempat diberikan kepada kami tadi di dalam ruangan rumah kuno yang gelap itu."
"Jangan Put jangan naik lagi, di sana berbahaya!" cegah Tata.
"Bahaya sih bahaya Mbak, tapi kalau kita hanya berdiam diri di sini saja sementara Kak Aldi belum pulih kita bisa mati kelaparan bersama."
"Tapi Put ...."
__ADS_1
"Sudahlah bantu aku untuk membenahi posisi tangga ke posisi semula. Aku akan naik ke atas dan menyelundup ke rumah itu."
"Bagaimana kalau posisi tangganya dibenahi dan para penjahat itu malah menyusul kami ke dalam goa?"
"Tidak mungkin Mbak Tata, kejadian tadi pasti sudah membuat mereka takut dan tidak ada niatan untuk kembali ke dalam goa ini karena yang mereka tahu tangganya sudah dipindah. Nanti sampai di atas saya akan langsung menutup goanya."
"Baiklah Put, tapi kamu hati-hati ya!"
"Iya Mbak doakan saja saya kembali dengan selamat dan saya juga akan langsung mengajak orang-orang untuk ikut masuk ke dalam goa ini dan mencari jalan keluar bersama-sama."
Tata hanya mengangguk. Mereka berdua langsung membenahi tangga itu kembali dan setelah selesai Putri langsung naik ke atas dan menutup pintu goanya.
"Put kami mau kemana?" tanya seorang pria yang mengenal Putri.
"Saya mau mengambil makanan yang ada di dalam rumah kuno itu Pak. Kedua sahabat saya kelaparan jadi kalau tidak segera ditolong mereka berdua bisa mati. Setelah saya berhasil mengambil makanan itu sebaiknya bapak mengajak semua teman-teman Bapak yang berada di sini untuk mengikuti langkah saya masuk ke dalam goa dan mencari jalan keluar bersama-sama."
"Goa?" tanya bapak itu heran sebab semenjak dia berada di tempat itu tak sekalipun menemukan adanya goa di daerah tersebut.
"Iya Pak sepertinya goa tersebut selama ini hanya menjadi rahasia mereka. Kami berpikir jalan keluar dari daerah ini ada di sana. Itulah alasannya mengapa goa tersebut dirahasiakan keberadaannya."
"Baik Pak."
Sementara bapak itu pergi mengambil makanan Putri memberitahukan kepada bapak yang lain untuk bersiap-siap dan bapak yang diberitahukan oleh Putri itu pun menyampaikan kepada teman-teman yang lainnya dengan cara berbisik-bisik.
10 menit kemudian bapak yang ditugaskan mengambar makanan itu kembali.
"Ayo segera ikut aku!" ajak Putri pada bapak-bapak yang berada di sekitarnya sedangkan pihak musuh sudah berhasil dilumpuhkan.
Putri pun membuka penutup goa lalu menuruni tangga diikuti oleh bapak yang membawa makanan dan bapak-bapak yang lainnya di belakang.
"Hei kalian mau kemana?!" teriak anak buah Pak Bakri yang lain yang baru datang dan menyaksikan kawannya banyak yang sudah berjatuhan dengan bersimbah darah. Dia baru sadar jika pekerjanya selama ini yang biasanya penurut kini berbalik melawan anggotanya.
"Ayo cepat-cepat turun! Langkah kalian harus dipercepat! Tangganya harus segera dimiringkan agar mereka tidak bisa menyusul kita!" teriak Tata dan Putri yang telah lebih dulu sampai di bawah.
Semua orang pun bergegas menuruni tangga dengan cepat bahkan beberapa dari mereka yang hampir terjatuh. Untung saja mereka kompak dan pegangan mereka kuat satu sama lain sehingga tidak ada yang sampai terjatuh.
__ADS_1
"Sudah turun semua?!" tanya seorang bapak-bapak dengan nada suara berteriak.
"Sudah," jawab mereka serempak.
Seorang bapak-bapak langsung mengabsen nama mereka satu persatu untuk memastikan anggota mereka sudah ada di bawah semua atau belum.
"Pak miringkan tangganya mereka sudah hampir sampai!" teriak Tata sebab melihat para musuh sudah berdiri di atas.
Semua bapak-bapak pun kompak menidurkan tangga tersebut di lantai goa.
"Dasar kalian tidak tahu diuntung!" Para penjahat yang masih berdiri di atas tidak dapat berkutik hanya bisa mengumpat dengan kata-kata yang bermacam-macam dengan suara yang keras.
Siapa yang mau mendengar umpatan-umpatan tidak jelas dari mereka. Semua orang yang berada di bawah kini malah kompak melakukan sujud syukur padahal belum tentu goa ini adalah jalan keluar untuk pulang.
"Ini makannya Nak Putri, saya sengaja mencuri roti-roti yang biasa menjadi santapan mereka dibandingkan makanan yang lainnya agar mudah untuk membawanya."
"Tidak apa-apa Pak yang penting bisa mengobati perut lapar kami," kata Putri.
Bapak itu mengangguk. "Maaf saya hanya berhasil membawa dua botol minuman karena tidak menemukan botol lagi dalam ruangan tadi sementara aku juga dikejar waktu."
"Tidak apa-apa Pak, kita bagi sedikit-sedikit saja," ujar Tata.
Tata pun mengambil roti dan menyuapkan ke mulut Aldi sambil memakannya sendiri.
Setelah Tata memberikan minum kepada Aldi, orang-orang langsung bertanya, "Apakah perjalanan kita untuk mencari jalan keluar dari tempat ini bisa dilanjutkan? kami sudah tidak sabar bertemu dengan keluarga kami yang sudah bertahun-tahun kami tinggalkan."
"Sebentar Pak kita menunggu Kak Aldi tenaganya kembali pulih agar bisa melanjutkan perjalanan panjang kita ini." Ya Putri mengatakan itu adalah perjalanan panjang karena tidak tahu sampai kapan mereka akan menemukan jalan keluar. Bisa saja cepat, atau bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari.
"Kalau hanya menunggu Nak Aldi punya tenaga untuk berjalan kembali, rasanya kita tidak perlu menunggu lebih lama lagi karena bisa jadi mereka punya 1000 cara untuk menyusul kita ke tempat ini. Kami akan bergiliran untuk menggendongnya," tekad seorang bapak dan disetujui oleh yang lain.
"Baiklah kalau begitu Pak," ucap Tata setuju.
Mereka pun melanjutkan perjalanan, menyusuri bagian dalam goa.
Bersambung.
__ADS_1