
Tata mencoba bangkit dari tanah. Namun, kakinya tidak bisa digerakkan seolah kaki tersebut menempel seperti kena lem pada tanah.
"Bagaimana ini?" Tata gusar sendiri. Matanya melirik ke sana kemari mencari keberadaan orang-orang untuk dimintai tolong. Tata tampak tersenyum karena dari jauh melihat rombongan dari nelayan yang mencari Aldo sudah banyak yang mulai berdatangan.
"Tolo...." Tata tampak kaget menyadari suaranya tidak bisa keluar. Dia tidak bisa berteriak meminta tolong sekarang.
Tata melirik ke arah makhluk yang mempunyai bolong di punggung dan di bahunya itu. Aroma bau daging busuk menguar ke segala penjuru membuat Tata menahan perutnya yang mual dan ingin muntah sekarang juga.
"Bagaimana ini?" Dalam keadaan panik dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi bahkan untuk sekedar membaca surat-surat dalam Alqur'an yang dia hafal.
Tata memejamkan mata, pasrah saja dengan keadaannya sekarang. Kalau Tuhan memang menakdirkan dirinya harus mati di tangan makhluk menjijikkan ini Tata hanya bisa berpasrah diri pada-Nya.
"Ya Allah aku ikhlas dengan semua yang telah Engkau gariskan dalam kehidupanku, tapi kalau boleh aku ingin meminta satu hal, meskipun aku harus berakhir di tangannya utuhkanlah jasadku dan bisakanlah orang-orang di desa ini memandikan atau menyucikan, menyalatkan serta menguburkan jasadku dalam keadaan normal, amin." Tata terus berbicara dalam hati. Menyampaikan keinginannya pada Tuhan hingga beberapa saat dirinya merasakan sesuatu mencengkeram kepalanya dengan sangat kuat.
Tata tidak tahan, matanya mulai berkunang-kunang dan keadaan sekitar menjadi terasa berputar-putar. Inilah keadaan bumi yang sebenarnya dimana bumi berputar para porosnya. Jadi sebenarnya yang dilihat Tata bukanlah semu, tetapi kenyataanya bahwa segala benda yang ada di langit dan di bumi semua bergerak mengelilingi matahari. Suatu kejadian yang tidak akan pernah dilihat oleh mata Tata apabila keadaan dirinya masih normal dan tidak pusing.
Sakit, perih dan sangat berat itulah yang dirasakan Tata saat ini di bagian kepalanya.
"Allahuakbar."
Akhirnya hilang sudah kesadaran Tata seiring diucapkannya kalimat pengagungan nama Tuhan.
__ADS_1
Sekitar satu jam Tata pingsan dan saat terbangun dia mendapati tubuhnya terbaring di sebuah lubang gelap dan sempit.
"Apakah aku sudah benar-benar mati? Inikah yang namanya kuburan?" Tata langsung duduk dengan kaget. Dalam hati berpikir kalau memang dirinya telah tiada dan sudah dikubur berarti sebentar lagi akan ada malaikat Munkar dan Nakir yang akan menanyai segala aktivitas yang telah dia lakukan selama hidup di dunia. Tata ketar-ketir menunggu kedatangan kedua malaikat itu.
"Bagaimana ini? Dosaku sangat banyak. Aku terlalu manja sama papa dan mama hingga selalu meminta ini dan itu sedangkan sebelum mati aku belum sempat meminta maaf pada beliau." Tata tampak tertunduk menyesali semua perbuatannya. Namun, semua sudah terlambat bukan?
Tata menangis sesenggukan, rasanya dia tidak akan sanggup menerima siksaan atas semua perbuatannya di dunia.
"Serli maafkan aku." Dia mengingat salah satu temannya yang kutu buku dengan kacamata tebalnya. Tata sering mengagetkan gadis itu tatkala gadis itu termenung sendirian dan gadis itu sering kesal pada Tata. Tata juga belum sempat meminta maaf pada Serli.
"Abang maafkan aku." Kali ini dia mengingat sang kakak yang sering mengeluh karena Tata sering keceplosan mengeluarkan kentut saat bersamanya. "Maafkan aku yang suka menyumbang bau di sekitarmu." Ingin rasanya Tata tertawa dan menangis bersamaan mengingat hal ini.
"Hmm, kenapa tempat ini jadi beneran bau seperti ini? Apakah hukuman yang pertama aku dapatkan adalah balasan akan perbuatanku pada Abang?" Tata tampak mengendus-endus bau dan mencari darimana asal bau tersebut menyebar.
"Katanya kalau di dalam kubur yang akan menjadi penerang itu adalah Alqur'an yang kita baca, tetapi kenapa tidak ada cahaya sedikitpun yang menerangi kuburanku? Apakah aku semalas itu sehingga tidak ada secercah cahaya pun yang menjadi penerangan alam kuburku. Perasaan aku pernah membaca Alqur'an deh meski tidak sering-sering amat." Tata menggaruk kepalanya bingung terlebih-lebih malaikat yang katanya langsung akan menyidang dirinya setelah orang yang mengantarkan jasadnya ke alam kubur pergi beberapa langkah meninggalkan kuburnya untuk pulang belum juga datang.
"Mungkin belum pada pulang mereka. Baik banget sih mereka," batin Tata menganggap orang-orang yang mengantar dirinya ke peristirahatan terakhir masih ada di luar kuburnya.
"Hei jangan pada pulang ya kalian semua biar sidang akan terus diundur!" teriak Tata seolah ucapannya akan di dengar oleh orang-orang di luar.
Bukannya di dengar oleh manusia suaranya malah membangunkan makhluk tadi yang telah berhasil membawanya ke tempat lain.
__ADS_1
"Kau!" Tata menuding sundel bolong itu yang berjalan maju ke arahnya. Meskipun dalam keadaan gelap Tata masih bisa melihat jelas pakaian putih panjangnya ditambah aroma daging busuk dari tubuh makhluk itu yang masih Tata hafal.
Melihat makhluk itu Tata yakin dirinya belum mati dan ini bukanlah kuburannya. Mungkin saja kuburan makhluk jahat ini atau rumahnya. Entahlah Tata sama sekali tidak paham. Yang Tata mengerti adalah dirinya masih hidup sehingga malaikat yang dia tunggu tadi tidak akan datang padanya.
"Kau mau apa sebenarnya? Mengapa membawaku ke tempat seperti ini? Tempat apa ini?" Tata memberanikan diri bertanya. Dia merasa tidak ada masalah dengan makhluk ini tetapi mengapa dia malah terus mengganggunya.
"Kembalikan anakku!" pekik makhluk itu dalam tempat yang gelap dan sempit. Bahkan aura kemarahan makhluk itu membuat bagian lubang di perutnya mengeluarkan cahaya yang begitu silau dan membuat mata Tata menjadi sakit.
"Apa maksudmu? Aku tidak paham dengan yang kau tuduhkan!" bentak Tata, dia tidak suka dituduh macam-macam.
"Kembalikan anakku!" teriak makhluk itu sekali lagi. Tata hanya menggeleng mendengar kalimat itu masih diulang saja padahal dia sudah mengatakan tidak paham dengan apa yang dituduhkan oleh makhluk tersebut.
"Kau kan yang membongkar kuburanku dan mengambil anakku yang aku lahirkan dalam kubur?!"
Gila! Tata benar-benar syok mendengar tuduhan itu. Bagaimana dia mau membongkar kuburan kalau melihat hantu saja dirinya ketakutan. Seperti saat ini meskipun dia mencoba sok berani nyatanya ****** ******** sudah basah karena tidak tidak sadar mengeluarkan pipis.
"Aku tidak pernah melakukan yang kau tuduhkan," ucap Tata dengan tubuh yang mulai gemetar lagi. Rasa ketakutannya semakin menjadi apalagi dia malah mendapatkan tuduhan macam-macam dari makhluk gaib itu.
"Apapun itu, sebelum aku menemukan anakku maka kau yang akan menggantikan anakku yang telah diculik itu."
Tata menganga mendengar pernyataan tersebut.
__ADS_1
"Tidak itu tidak mungkin. Aku harus kembali ke alamku," ucap Tata dengan ekspresi panik.
Bersambung.