
"Ah ibu tidak asyik," rengek Putri.
"Kamu itu perempuan Put, mana boleh keluar malam-malam, apalagi di tempat gelap yang namanya kuburan itu mengerikan berani kamu?"
"Putri berani kok Yah kan ada mbak Tata."
Tata kaget dan syok mendengar namanya disebut. Dalam hati ingin protes dan mengatakan 'apa-apaan sih Put.' Namun, kenyataan bibirnya kelu tidak bisa bicara jadi gadis itu hanya diam saja.
Melihat Tata hanya diam, Putri tersenyum senang dalam hati menyimpulkan bahwa Tata itu setuju dengan apa yang diucapkannya dan Tata benar-benar mau ikut dalam penyelidikan tersebut.
"Emang kamu mau ikut?" tanya Topan tidak yakin sebab yang dia tahu Tata adalah seorang gadis yang penakut sama halnya dengan Aldi dan sampai saat ini Topan belum habis pikir mengapa Aldi yang notabennya adalah seorang penakut mau terlibat dalam misi seperti itu.
"Iyalah Mbak Tata kan adalah seorang wanita yang pemberani." Bukan Tata yang menjawab melainkan Putri.
"Cih dia lihat bayangan aja lari terbirit-birit apalagi kalau sampai melihat penjahat? Bisa gemetar seluruh tubuhnya dan pingsan." perkataan sopan seakan meremehkan tata membuat hati gadis itu menjadi ngilu dan akhirnya memberanikan diri untuk ikut.
"Iya Paman saya juga ikut, lumayanlah sebagai pengalaman yang bisa saya ceritakan kepada teman-teman dan orang tua setelah kembali dari kampung ini."
"Cih tinggi juga nyalimu," ujar Topan lagi sedangkan Putri tampak tersenyum senang akhirnya dia menemukan teman dan dia yakin ayahnya pasti akan mengizinkan dirinya.
"Jangan pernah meremehkan keberanian orang lain Pan. Orang yang penakut belum tentu selamanya penakut begitupun sebaliknya," nasehat Aldi pada Topan.
"Sudah, Sudah! Sudahi saja perdebatan kalian. Kalau saling meremehkan seperti ini sudah dipastikan rencana kita bakal gagal. Dalam misi penyelidikan ini harus saling mendukung bukan malah sebaliknya," saran Pak Amir dan semua orang hanya menjawab dengan anggukan.
"Dan kamu Put, yakin mau ikut?" tanya Pak Hasan lagi untuk memastikan keputusan putrinya.
__ADS_1
Putri melirik Tata dan Tata mengangkut dengan mantap.
"Iya Yah Putri sama Mbak Tata akan ikut."
"Baiklah tapi kalian harus berhati-hati sebab kalau tidak kalian akan berada dalam keadaan bahaya. Kalau penjahat itu tega kepada orang mati apalagi kepada manusia yang disinyalir bisa melaporkan aksinya ke polisi."
"Iya Ayah."
"Iya Paman." Sebenarnya Tata enggan untuk ikut sebab dirinya sudah sering mengalami hal diluar nalar. Namun, karena egonya yang tidak ingin disebut seorang penakut oleh Topan maka dia mengiyakan saja ajakan Putri
"Baiklah kalau kalian sudah mantap, tapi ingat kalau kalian dalam keadaan bahaya dan tidak bisa melawan maka segera kaburlah sebab kami para lelaki belum tentu bisa menolong kalian sebab kita harus berpencar."
"Baik Paman."
"Siap Ayah."
"Paham," jawab mereka serempak.
"Tapi sepertinya saya ingin melakukan penyelidikan dari rumah pemilik pabrik petis itu saja Pak, bolehkah?" tanya Aldi.
"Kenapa harus dari rumahnya?" tanya Pak Amir penasaran dan disertai anggukan dari Pak Hasan yang menandakan dia penasaran juga. Pasti ada alasan mengapa Aldi mengambil keputusan itu.
"Sepertinya kau mengetahui sesuatu," tebak Topan
"Ya sedikit, tetapi belum jelas. Oleh karena itu apabila dibicarakan saya takut akan menjadi fitnah karena belum terbukti kebenarannya," jelas Aldi.
__ADS_1
"Apa maksudmu Nak Aldi? Katakan saja sebab di sini tidak banyak orang. Jadi kalau memang ada yang bocor pasti salah satu dari kami yang membocorkan rahasia ini."
"Saya hanya menduga saja Pak bahwa pelaku yang membongkar mau makan itu adalah bapak pemilik pabrik petis."
"Apa?" Sontak saja Bu Hasan menjadi kaget mendengar majikannya yang menjadi tersangka.
"Iya Bu sebab saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang itu membongkar makam dan meraih sesuatu dari dalam kuburan. Setelah itu membawa barang yang ia dapatkan dari kuburan itu ke dalam sebuah warung dan memotongnya menjadi potongan kecil-kecil setelah itu membawa barang tersebut dalam sebuah bak menuju pabrik petis." Sampai di situ Aldi tidak meneruskan ceritanya sebab kalau dilanjutkan mungkin ada yang akan muntah di sana sebab baik pak Hasan, Bu Hasan ataupun Pak Amir, ada diantara mereka yang telah mengonsumsi petis hasil olahan pabrik itu.
"Kau ...!" Topan berubah bangga pada Aldi sebab diakui ataupun tidak Aldi telah memecahkan suatu masalah.
"Mengapa masih harus melakukan penyelidikan? Bukankah itu sudah ada bukti nyata? Kita laporkan saja pada polisi, beres," ujar Topan menggampangkan sesuatu.
"Tidak ada bukti Pan itu hanya saksi dan itupun saya masih ragu apakah pemilik pabrik itu pelakunya ataukah orang yang lain yang kebetulan mirip sebab saya tidak tahu semua dengan warga penghuni desa ini. Lagipula kalau menuduh tanpa bukti bisa saja saya dilaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik," jelas Aldi panjang lebar.
"Apakah kamu tidak punya hape untuk merekam?" tanya Topan. Dalam hati berpikir mengapa Aldi begitu bodoh.
"Keadaan tidak mendukung ponselku saat itu mati kehabisan baterai."
"Ya sudah kalau begitu mulai sekarang kita sudah harus bersiap-siap. Bawa alat rekam yang bisa dijadikan alat bukti baik itu berupa hape, handycam ataupun yang lainnya."
"Baik Pak," ucap mereka mendengarkan peringatan dari Pak Amir.
"Kalau begitu saya pulang dulu sebentar untuk bersiap-siap dan minta izin pada istri saya nanti jam 09 kita akan berangkat bersama-sama."
"Oke Pak siap."
__ADS_1
Bersambung.