Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 74. Bersembunyi


__ADS_3

Tanpa penolakan Putri langsung mengikuti arah Topan menariknya. Mereka berdua bersembunyi di balik rerimbunan pohon bakau sedangkan Aldi tampak tiarap di atas eceng gondok. Untung saja posisi daratan dengan pantai yang miring membuat tubuh Aldi tidak terlihat. Walaupun demikian jantung anak muda itu masih jedag-jedug saja.


"Tadi ada alarm yang berbunyi berarti ada penghuni baru yang datang di pulau ini," gumam salah seorang dari anak buah Pak Bakri.


Putri hendak berbicara pada Topan, tetapi Topan malah menutup mulut Putri dengan tangan kanannya agar tidak bersuara sebab bisa saja suara Putri itu terdengar oleh para anak buah Pak Bakri itu.


"Bapak tidak melihatnya?" tanya pria yang berotot besar dan bertato di seluruh tubuhnya.


"Tidak Pak," jawab semua orang serempak.


Pria berotot kekar itu mengernyit. Sepertinya dia percaya bahwa semua orang telah membohonginya dirinya. Tidak mungkin bukan alarm berbunyi begitu saja padahal sudah disetel berbunyi apabila mengantar orang baru atau bahkan ada yang melarikan diri.


"Kalian tidak berbohong, kan?" tanya pria itu lagi.


"Tidak Tuan, mana mungkin kami berani berbohong. Lagipula kalau memang ada yang datang mereka pasti sudah berada di sini. Ini dari tadi tidak ada seorangpun yang sampai," jawab salah seorang yang menjadi tahanan Pak Bakri itu. Semua orang pun mengangguk membenarkan.


"Awas kalau kalian bohong sampai malam pun kalian harus tetap bekerja dan tidak boleh ada yang beristirahat ataupun tidur," ancam pria kekar itu.


Semua orang hanya mengangguk dan menunduk. Dalam hati mereka berpikir agar ke-empat anak mudah yang baru datang itu tidak diketahui keberadaannya agar tidak bernasib sama seperti mereka.


"Coba kalian periksa di segala penjuru!" perintahnya pada semua anak buah.


"Baik Tuan."


Semua anak buah Pak Bakri yang berada dalam kepemimpinan pria berotot kekar itu langsung beraksi.


Aldi semakin gemetar. Posisi dirinya sekarang sangat tidak menguntungkan dibandingkan dengan posisi Putri dan Topan yang tidak bisa terlihat dari sudut manapun.


Dalam kerisauan hati dia semakin menelusup ke dalam rimbunan eceng gondok. Dia menarik-narik batang dan daun tumbuhan itu dan meletakkannya di atas tubuh dan kepalanya. Untung saja pakaian yang dikenakannya sekarang berwarna armi seperti tentara saja hingga sedikit membuat terlihat samar dipandang mata.


Lihatlah sekarang, bahkan rambut dan wajah Aldi dipenuhi tumbuhan eceng gondok tersebut.


Beberapa anak buah Pak Bakri menyebar mencari orang baru yang mungkin datang ke tempat itu.

__ADS_1


Satu orang mendekat ke arah Topan dan Putri serta mengusap-usapnya daun dan batang pohon bakau yang berada di pantai dan dikelilingi air. Topan dan Putri berusaha tidak bernafas agar keberadaan mereka tidak ditemukan.


"Sepertinya dia tidak akan masuk ke dalam rimbunan pohon ini karena kalau tidak dia pasti sudah berteriak digigit ular laut," ujar seseorang dan langsung meninggalkan tempat itu.


Mendengar perkataan dari salah satu anak buah Pak Bakri itu Putri gelagapan. Sorot mata gadis itu terlihat ketakutan. Kalau saja Topan tidak menahannya pastilah gadis itu melompat dan tertangkap.


Topan memberi kode pada Putri dengan matanya bahwa di dekat pohon bakau ini masih ada anak buah Pak Bakri yang belum pergi.


"Ayo Par kita cari ke tempat lain saja!" teriak anak buah yang sudah terlebih dahulu meninggalkan temannya itu.


"Oke." Pria yang berdiri di samping pohon bakau itu akhirnya pergi dan menyusul temannya.


"Huuft." Topan dan Putri langsung bernafas lega. Sedari tadi mereka sesak sebab berusaha menahan nafas.


"Akhirnya kita aman." Putri mulai bersuara dan Topan hanya mengangguk saja.


Berbeda dengan Topan dan Putri yang sudah bisa bernafas lega karena posisi persembunyian mereka tidak diketahui, Aldi malah semakin merasa ketir sebab ada seorang anak buah Pak Bakri yang berjalan menuju ke arah tempatnya bersembunyi saat ini.


"Ya Tuhan selamatkan aku bagaimanapun caranya." Doa Aldi di dalam hati.


"Ngapain kamu ke situ? Orang barunya sudah diketemukan!" teriak seorang anak buah yang lain ke arah anak buah yang hampir mendekat ke arah Aldi.


"Alhamdulillah." Aldi mengucapkan hamdalah dalam hati. Anak muda ini langsung bisa bernafas lega saat melihat orang itu berbalik dan pergi.


"Tapi siapa yang mereka maksud telah ditemukan? Apa jangan-jangan Tata?" Aldi langsung khawatir lagi setelah mengingat keberadaan Tata ada dalam perahu itu. Dia hanya berharap Tata sudah jauh meninggalkan pantai ini dan kalau perlu juga sudah sampai ke rumah Bu Hasan.


"Tapi bagaimana kalau yang mereka maksud adalah benar-benar Tata?" Aldi menjadi bingung dan dilema. Satu sisi dia harus menyelamatkan kalau yang mereka maksud adalah benar-benar Tata dan di sisi lain Aldi juga tidak mau dirinya ketahuan telah menyusup ke daerah itu.


"Benar itu Tata." Aldi terlihat syok melihat tubuh Tata digiring oleh beberapa pria. Aldi langsung duduk dan hendak menyelamatkan Tata.


Namun, suara hatinya langsung menyadarkan Aldi bahwa dia tidak perlu gegabah untuk menghampiri Tata saat ini karena bisa saja dirinya juga ikut tertangkap. Untuk mendapatkan Tata kembali dirinya harus mengatur strategi agar tidak ketahuan dan bisa menyelamatkan gadis itu tanpa membuat gadis itu ataupun dirinya sendiri celaka.


Sementara Aldi dalam kegalauannya sendiri Putri Dan Topan malah dikejutkan dengan kehadiran ular yang menyembur di samping dirinya.

__ADS_1


"Kak ternyata benar apa yang dikatakan pria tadi," ucap Putri takut dengan tubuh yang mulai bergetar.


"Tenanglah! Sepertinya ini bukan ular biasa. Ini bukanlah ular laut seperti yang pria tadi sebutkan maupun ular cobra."


"Maksud Kak Topan ini ular siluman begitu?" Putri tambah takut.


"Bukan Put itu hanya ilusi semata yang ingin menakut-nakuti siapapun yang masuk ke tempat ini. Tenanglah saya akan membacakan mantra untuk mengusirnya."


Putri mengangguk setuju. Apapun itu membaca doa kek, membaca mantra kek yang penting dirinya bisa selamat.


Ternyata benar apa yang dikatakan Topan setelah komat-kamit membaca mantra ular tersebut mengalami perubahan menjadi ular-ularan dan jatuh di sisinya.


Putri menganga, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Apakah aku bermimpi Kak?" tanyanya heran.


Topan langsung mencubit pipi Putri yang tembem.


"Au Kak, sakit." Putri meringis kesakitan.


"Itu tandanya kamu tidak bermimpi," tegas Topan dan Putri hanya bisa mengangguk saja.


Topan mengeluarkan gunting dari dalam saku bajunya kemudian mengambil ular-ularan itu dan memotongnya menjadi kecil-kecil.


Putri terlihat berdiri dan mengintip keluar dari rimbunan pohon bakau tersebut dan melihat Tata yang digiring oleh beberapa orang.


"Kak Tata Kak." Putri langsung berdiri.


Brak.


Di tempat mereka berdua bersembunyi ternyata ada sesuatu yang patah seperti kayu dan membentuk lubang di kaki Putri. Hampir saja Putri jatuh ke dalam lubang itu kalau Topan tidak langsung menahannya.


"Lubang apa ini?" tanya keduanya heran.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2