Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 50. Pingsan


__ADS_3

"Kalau begini terus kapan selesainya nih penggalian tanah. Bisa-bisa orang yang ada di dalam kuburan ikut mati karena kehabisan nafas."


"Kalau begitu aku pulang dulu ya sebentar mau mengambil cangkul," keluh seorang bapak-bapak setelah mendapat anggukan dari semua orang pria tersebut langsung berlari secepat kilat.


"Kalau ada bawakan saya juga!" teriak bapak yang mengeluh tadi. Tidak ada jawaban karena bapak yang sudah berlari itu sudah hilang dari pandangan mata.


Tidak butuh waktu yang lama, bapak yang berlari tadi sudah kembali dengan dua cangkul di tangannya.


"Ini." bapak tersebut memberikan cangkul di tangan kanannya kepada bapak-bapak yang mengeluh tadi.


"Sip kau cerdas sekali padahal tadi saat aku berteriak sepertinya kamu tidak mendengar suaraku."


"Ya aku memang tidak mendengar, tapi karena di rumahku ada dua cangkul langsung aku bawa sekalian siapa tahu ada yang membutuhkan biar penggaliannya lebih cepat kalau banyak yang menggunakan cangkul daripada harus menggunakan tangan yang akan memakan waktu yang sangat lama."


"Oke-oke, idemu bagus sekali. Para ibu-ibu mundur biar kami bertiga saja yang mencangkul tanahnya! Nak Aldi, kamu juga mundur ya! untuk urusan cangkul-mencangkul ini serahkan kepada kami bertiga yang sudah berpengalaman."


"Oke Pak siap, terima kasih semuanya," ucap Aldi sambil berjalan mundur dengan tangan yang menarik Putri ke belakang karena wanita itu tampak tercengang.


Buk, buk buk.


Bunyi cangkul yang menggali tanah dari ke ketika orang tersebut seolah bersaing dan kadang tanpa sengaja beradu satu sama lain membuat keramaian di tengah orang-orang yang hanya diam saja menyaksikan. Beberapa saat kemudian tanah kuburan sudah terbuka dan menampakkan sesosok perempuan yang lagi berjongkok sambil menyandar di pojokan lubang kuburan sambil menutup kedua telinganya.


Tata kaget, setelah sekian lama mendengar bunyi-bunyi bising yang saling beradu di telinganya


akhirnya dia bisa melihat sinar matahari yang menembus tempatnya duduk, tidak seperti sebelumnya yang sangat gelap yang seakan dia hidup dalam dunia kegelapan.


"Ayo, ayo! Siapa yang mau masuk ke dalam dan mau mengangkat perempuan itu?"


"Saya saja Pak," ucap Aldi. Dia yakin yang ada di dalam sana benar-benar adalah Tata menilik dari pakaiannya di mana adalah pakaian yang terakhir kali Tata pakai sebelum akhirnya menghilang dari hadapan Aldi.


Sebelum mendengar jawaban dari orang-orang, terlebih dahulu Aldi langsung melompati ke dalam. Baginya tidak baik menunda-nunda waktu karena semenit pun terlambat bisa fatal akibatnya bagi nyawa Tata.

__ADS_1


"Ayo, ayo dibantu Nak Aldinya! Kalau saya tidak pusing mungkin saya yang akan masuk ke dalam, tapi kepala saya sudah semakin terasa kliyengan ini," ucap Pak Amir memanggil yang lainnya karena memang kondisi tubuhnya yang tidak begitu sehat saat ini.


"Biar saya saja Pak," ucap salah seorang bapak-bapak dan langsung melompat ke dalam.


Di dalam sana Tata kaget dan senang secara bersamaan karena melihat yang ada di sampingnya sekarang adalah Aldi.


"Aldi! Kamu Aldi kan?" tanya Tata untuk memastikan kelihatannya saat ini karena mungkin saja matanya sudah rabun akibat terlalu lama terpendam di dalam tanah.


"Iya saya benar-benar Aldi Tata. Saya sudah mulai kemarin mencari mu, tapi bingung harus mencari kemana. Untunglah ada jejak darah yang mengarah ke tempat ini dan orang-orang membantuku untuk mencari mu," tutur Ardi panjang lebar.


"Ya itu jejak itu sengaja saya buat agar orang-orang curiga melihatnya sehingga akan mencari tahu dari mana dan ke mana jejak darah itu berakhir dengan harapan ada orang yang akan menemukanku dan ternyata benar jejak itu berhasil membawa kalian semua ke tempat ini."


"Nak Aldi sebaiknya jangan diajak bicara dulu Tata nya. Langsung dibawa keluar saja Nak tak Tata nya itu. jika harus masih berlama-lama di dalam sana!" perintah Pak Amir dari atas.


"Baik Pak." Aldi langsung memposisikan diri dengan baik sebab keadaan di dalam begitu sempit. Dia kemudian menggendong tubuh Tata dan hendak membawanya keluar. Namun, Aldi merasa kesulitan sebab lubang itu cukup tinggi untuk diraihnya dengan memapah tubuh Tata.


"Saya bantu Nak Aldi." Bapak yang berada di sampingnya bereaksi dengan meraih kaki Tata lalu mereka berdua kini menjunjung Tata hingga berada di permukaan tanah.


Orang yang berada di atas pun sigap dan langsung meraih dan menggendong tubuh Tata.


Aldi dan bapak tadi yang ada dibawah menepuk tangannya lalu melompat ke atas.


"Aldi!" Tata merosot dari gendongan bapak-bapak itu dan langsung berlari ke arah Aldi.


"Tata!"


Tata langsung memeluk Aldi dengan erat. "Jangan tinggalkan aku Al, aku takut. Kuntilanak ini memaksa diriku untuk menerima Asi darah miliknya. Aku tidak mau, aku jijik, aku takut keracunan." Tata langsung nyerocos dengan air mata yang berlinang.


"Tenanglah aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Aldi membalas pelukan Tata dan mengelus-elus pundak Tata.


Putri yang melihat keduanya berpelukan erat merasa kecewa. Dia undur ke belakang dan lalu berlari pergi. Rasa takutnya akan hal-hal yang mengerikan hilang selera. Benar kata sang ibu jangan pernah berharap pada Aldi yang mungkin saja sudah punya kekasih. Awalnya Putri tidak pernah berharap. Namun karena keduanya sudah begitu dekat dalam hari ini membuat Putri menjadi merasa nyaman berada di dekat Aldi. Kehadiran Tata entah mengapa menimbulkan rasa cemburu di hati Putri padahal sudah sepantasnya kalau Aldi lebih dekat dengan Tata dibandingkan dirinya yang baru saja berkenalan.

__ADS_1


"Ayo timbun tanahnya kembali agar penghuninya tidak marah!" perintah Pak Amir dan semua orang mengangguk dan langsung mencangkul tanah, menutup kuburan itu kembali seperti semula bahkan lebih rapi.


"Tapi kenapa mayatnya tidak ada di dalam tadi?" tanya bapak-bapak yang ikut masuk ke dalam kuburan tadi bersama Aldi. Dia baru sadar bahwa di sana tidak ada mayatnya lagi.


"Oh iya ya Pak." Aldi pun baru tersadar.


"Apa ada yang mengambil mayatnya itu seperti kasus di kuburan yang sebelumnya?" timpal yang lainnya.


"Kita tanyakan saja kepada Nak Tata. Dia yang lebih tahu segalanya kalau memang ada yang mengambilnya pasti Nak Tata tahu siapa orang yang telah berani mengambil mayat tersebut," usil Bu Dewi.


"Bu Dewi benar. Ta kamu tahu mayat yang dalam kuburan diambil siapa?" tanya Aldi langsung pada Tata.


"Tidak ada yang mengambil mayatnya cuma mayatnya itu sendiri yang bangkit dan berjalan-jalan di alam manusia. Tadi dia mengatakan akan keluar dan mencari makanan sebentar untuk saya karena saya tidak mau sama sekali mengkonsumsi air susunya," Tata hanya menuturkan apa yang dia tahu.


"Aneh mengapa dia malah mau mencarikan mu makanan? Apa kau penting menurut dia?"


"Tidak ini bukan masalah penting atau tidak, tetapi sepertinya kuntilanak itu begitu stres karena ada yang mencuri anaknya sehingga menganggap saya itu adalah pengganti anaknya." semua orang tercengang mendengar penjelasan Tata.


"Kau yakin Ta?" tanya Aldi heran.


"Iya Al apa yang aku katakan itu benar. Aku juga tidak mengerti mengapa dia memilih aku yang dibawanya ke dalam tempat tinggalnya ini."


Semua orang nampak heran. Namun, mereka tidak tahu harus bertanya apa dan menyimpulkan apa.


"Sudahlah lebih baik kita pergi sekarang sebelum kuntilanak yang dimaksud Tata itu kembali," usul Pak Amir disetujui sama semua orang. Terbukti semua orang itu mengangguk dan langsung berbalik hendak pergi dari tempat itu.


"Tunggu itu apa?" Bu Dewi menghentikan langkah semua orang kala melihat sesuatu yang tidak wajar di depan sana.


Semua orang langsung mendongak dan menatap ke depan. Terlihat seorang wanita berpakaian putih panjang dengan rambut lurus panjang terurai membelakangi dirinya di bawah sebuah pohon randu dan yang lebih mencuri perhatian orang-orang di belakang punggung wanita itu tampak bolong.


"Itu ... itu ....!" Tata menunjuk wanita itu dengan tubuh dan tangan yang bergetar hingga akhirnya ia jatuh pingsan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2