
Sementara Tata dan Putri ikut ke rumah sakit, di dalam ruangan bawah tanah itu Topan dan bapak-bapak yang lain baru saja menyudahi pertempuran setelah menyingkirkan seluruh anak buah Pak Bakri.
Kini semua orang bergotong-royong menurunkan mayat yang tergantung di atas ruang bawah tanah tersebut sebab sudah mendapat instruksi dari Tata bahwa jalan yang mereka lalui benar-benar adalah jalan keluar dari wilayah tersebut.
Ada beberapa orang yang mengumpulkan tulang tengkorak yang berserakan untuk dibawanya nanti setelah kembali dan mendapat wadah seperti sak ataupun karung sebab tidak bisa dibawa begitu saja seperti mayat yang masih utuh.
"Eh Bapak-Bapak mungkin kita letakkan dulu di sini mayat-mayat ini. Sebelum melanjutkan perjalanan kita harus bisa mengatasi Pak Bakri agar tidak bisa kembali ke kampung Kenanga dan masih berada di antara para warga di sana."
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Bagaimana kalau kita menutup akses jalan ini agar pria itu tidak bisa kembali?"
"Caranya?"
"Kita taruh batu-batu besar ini di sini agar menutupi jalan," usul Topan.
"Setuju, ayo kita lakukan."
Semua orang mengangguk dan gerak cepat menggeser beberapa batu besar secara bersama-sama untuk membuat lorong itu menjadi buntu.
"Rasain kau Pak Bakri, kau akan membusuk di tempat ini."
"Bagaimana kalau Pak Bakri menumpang kapal asing itu?"
"Tidak mungkin, kapal itu sudah pergi. Lihatlah kalau kalian tidak percaya."
Tidak membutuhkan waktu lama, kekompakan mereka telah berhasil membuat jalan itu buntu dalam waktu singkat.
"Ayo kita kembali bawa mayat-mayat itu keluar dari tempat ini agar roh mereka tidak bergentayangan lagi dimana-mana."
Mereka mengangguk dan memikul mayat itu kembali meskipun baunya sangat menyengat di hidung mereka. Ingin rasanya mereka semua muntah, tetapi mereka benar-benar menahan diri agar kewajiban mereka segera usai.
Satu jam kemudian mereka tiba di desa. Mereka disambut senyum bahagia dari wajah-wajah istri mereka yang sudah lama merindukan suami atau ayah mereka yang telah lama menghilang. Namun, ketika melihat apa yang dibawa oleh mereka warga merasakan keanehan.
"Apa yang kalian lakukan? Mengapa malah datang membawa mayat-mayat? Sebenarnya apa yang kalian kerjakan selama menghilang?"
"Tenanglah saya yang akan menjelaskan." Seorang pria yang nampak bersinar dibandingkan yang lainnya itu mencoba menjelaskan. Sepertinya pria itulah yang disuruh temui oleh kakek tua sebelumnya kepada Aldi.
__ADS_1
"Baik Pak Kiai Asmat." Semua orang fokus mendengarkan cerita Kiai Asmat.
"Nah karena mengurusi jenazah itu adalah fardu kifayah jadi kami membawa mayat-mayat ini untuk diurus penguburannya agar gugurlah kewajiban kita semua."
Semuanya orang mengangguk. Kiai Asmat lalu memimpin jalannya kifayah mulai dari memandikan jenazah, mengkafani dan menguburkannya.
***
Di zaman modern ini tidak ada kabar yang tidak beredar dengan cepat. Keanehan yang terjadi di desa ini beritanya tersebar ke mana-mana.
Kembalinya orang-orang yang sudah lama pergi dengan membawa banyak jenazah serta suksesnya mobil ambulans keluar masuk desa Kenanga dalam keadaan pengendaraan yang tidak selamat langsung menjadi berita viral di masyarakat.
Berita itu pun sampai ke telinga para polisi sehingga mereka langsung mendatangi desa Kenanga dan mengorek informasi dari warga secara langsung.
Topan menjelaskan secara detail tentang apa yang terjadi padanya dan ketiga temannya, mulai masuk ke daerah yang terlihat aneh itu hingga penemuan jalan keluar dan mayat-mayat serta terhadap Pak Bakri yang telah berani menjual kulit kerang tanpa izin.
Mendengar penjelasan dari Topan ditambah penjelasan dari bapak-bapak yang sempat tertahan di daerah tersebut polisi langsung membagi kru-nya menjadi dua untuk menangkap Pak Bakri.
Satu kru melalui jalur laut sebab khawatir ada kapal yang menolongnya dan satu kru lagi melalui jalur daratan. Tentu saja ini melalui terowongan bawah tanah yang sudah dilewati warga.
Beberapa warga ada yang ikut kembali masuk ke dalam terowongan sebagai penunjuk jalan sekaligus ingin menjemput tulang belulang yang sempat orang-orang kumpulkan tadi sebelum kembali ke kampung.
Di sebuah ruangan rumah sakit keadaan Aldi sangat miris. Banyak selang-selang medis yang terpasang di tubuhnya. Sang mama yang langsung mendapat kabar segera ke rumah sakit dan sekarang sedang duduk menangis di samping tubuh Aldi dengan pria yang selalu mengusap punggung perempuan separuh baya itu agar bersabar.
Tidak jauh berbeda dengan mamanya Aldi, Tata dan Putri pun terlihat menangis sesenggukan. Mereka takut kehilangan Aldi untuk selamanya.
"Jangan tinggalkan mama Nak, mama bahkan belum tahu siapa orang tua kandung kamu yang sebenarnya." Ditengah tangisnya perempuan paruh baya itu keceplosan mengungkap identitas Aldi yang sebenarnya bukanlah anak kandungnya.
"Tante mengatakan apa? Aldi bukan anak Tante?" tanya Tata tak percaya.
"Emang Tante ngomong apa tadi?" Wanita itu terlihat panik.
"Aldi bukan anak kandung Tante."
"Ah tidak mungkin kamu salah dengar Ta," kilah perempuan itu.
Tata menggeleng. "Tidak mungkin saya salah dengar Tan, Put kamu mendengar jugakah?"
__ADS_1
Putri hanya menjawab dengan anggukan.
"Ceritakan yang sebenarnya lah Ma, mungkin ini sudah waktunya. Semoga Aldi masih bisa sembuh dan mengetahui kebenarannya. Kita akan sangat merasa bersalah kalau sampai Aldi meninggal tanpa mengetahui kebenarannya terlebih dulu." Suami dari wanita itu menyemangati sang istri agar mau jujur dan terbuka kepada sahabat putranya itu.
Akhirnya wanita itu mengangguk dan menceritakan yang sebenar-benarnya pada Tata dan Putri.
"Saya seperti mendengar cerita itu," ucap Putri saat mamanya Aldi itu menyudahi ceritanya.
"Mendengar penemuan bayi?"
"Bukan Tante, kehilangan bayi dalam keadaan terbawa oleh perahu dan sampai sekarang tidak ditemukan."
Penjelasan Putri sungguh membuat mata sepasang suami istri itu membelalak.
"Kamu dengar dimana cerita seperti itu Nak?" tanya wanita tersebut.
"Dari ibu karena itu adalah salah satu peristiwa menggemparkan yang sempat dialami salah satu warga di kampung kami belasan tahun yang silam."
"Kira-kira sudah berapa tahun?"
Sekitar sembilan belas atau dua puluhan sih, itu kata ibu."
Kedua suami istri d itu saling pandang dengan ekspresi yang susah ditebak.
"Bisa antarkan kami ke orang tua yang kehilangan anak itu?"
"Bisa Om, Tante."
"Kalau begitu kita berangkat sekarang. Desa kalian sudah bisa dilewati mobil, kan?"
Putri mengangguk ragu.
"Nak Tata bisa minta tolong jagain Aldi? Saya ingin menemui orang tua Aldi sebelum terlambat. Nanti kalau ada apa-apa sama Aldi segera hubungi Tante!"
"Oke siap Tante."
Putri dan kedua orang tua angkat Aldi pun pergi ke desa Kenang untuk menjemput Bu Fatimah agar menemui putra sulungnya di rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung.