
Baru saja Aldi sampai di depan pintu pagar, Putri langsung berlari menghampiri Aldi.
"Mana Kak bajunya? Kok lama banget sih, Mbak Tata kedinginan tuh menunggu pakaiannya dari tadi. Jangan-jangan Kak Aldi ketiduran ya tadi?" protes Putri panjang lebar.
"Ish, tahu aja nih orang."
"Tuh kan apa Putri kira. Pasti ketiduran makanya lama."
"Nggak tidur Put, Kak Aldi cuma tiduran sebentar sebab punggung Kak Aldi rasanya sakit dan kangen menyentuh kasur," ucap Aldi sambil terkekeh.
"Sama aja," ucap Putri sambil meraih pakaian Tata yang ada di tangan Aldi lalu berlari masuk ke dalam rumah dan memberikan pakaian tersebut kepada Tata yang dari tadi hanya memakai handuk saja. Menyesal Tata tadi tidak memakai baju Bu Hasan meskipun kebesaran sebab menunggu Aldi terlalu lama baginya.
"Ini Kak." Putri menyodorkan pakaian ke tangan Tata.
"Sudah sampai dia, nggak ikut pingsan katanya?" tanya Tata kesal sebab Aldi terlalu lama.
"Tidur-tiduran sebentar katanya Kak, maklum dia sudah lama tidak tidur katanya. Tubuhnya terasa remuk."
Mendengar penjelasan Putri, Tata mengangguk. Dia menjadi maklum sebab selama ini Aldi memang mencari dirinya dan mungkin saja benar dia tidak sempat tidur.
"Kak Tata cepat ganti bajunya ya sebab Putri sudah menyiapkan makanan di ruang makan. Pasti Mbak Tata lapar, bukan?"
"Wah terima kasih nih Dek Put. kebetulan Mbak Tata memang sedang lapar sekarang sebab dari kemarin sore belum makan."
"Ya sudah kalau begitu saya ingin menemui Kak Aldi dulu kasihan dia sendirian di luar."
"Oke Dek Putri."
Putri mengangguk dan langsung bergegas keluar menemui Aldi. Dia kaget menyadari keadaan Aldi yang belum berubah sejak pulang tadi.
"Ya ampun Kak, jadi kamu pulang tidak sempat mandi dan berganti pakaian begitu? Pakaianmu yang kotor yang dipakai di kuburan tadi masih kamu pakai?" heran Putri melihat kondisi tubuh Aldi yang masih kotor.
"Hehe ... belum sempat Put," ucap Aldi sambil cengengesan.
Mendengar jawaban Aldi Putri hanya tepuk jidat dibuatnya.
"Nah Kak Aldi tiduran sebentar saja kamu sudah protes apalagi kalau sampai kak Aldi masih harus mandi dan berganti pakaian, tambah lama dong Kak Aldi kembalinya ke tempat ini?"
"Iya juga ya. Ya sudah deh, Kak Aldi mandi saja sana biar Putri ambilkan baju milik ayah."
"Emang ayahmu nggak marah kalau bajunya dipakai Kak Aldi?" tanya Aldi ragu.
__ADS_1
"Ayah tidak pernah marah kalau Putri berbuat kebaikan," jawab Putri dengan ekspresi wajah yang begitu tenang.
Dari sikap Putri ini sudah terbukti bahwa keluarga mereka hidup harmonis dan Putri begitu dekat dengan kedua orang tuanya. Baik Putri maupun orang tuanya memiliki sikap yang sama yaitu baik dan suka membantu orang lain. Mungkin itulah yang telah ditanamkan oleh kedua orang tua Putri di benak anaknya sehingga Putri mewarisi watak kedua orang tuanya.
"Baiklah kalau begitu kamar mandinya dimana?"
"Ayo Kak, Putri antar sekalian Putri mau ambil baju ayah."
"Oke Aldi mengikuti langkah Putri dari belakang menuju kamar mandi.
"Ini kamar mandinya ya Kak, Putri ambilkan baju dulu ya."
"Oke Put terima kasih banyak."
"Sama-sama Kak Aldi."
***
Sekarang Aldi dan Tata sudah sama-sama selesai mandi dan berganti pakaian. Mereka berdua beserta dengan Putri sudah duduk di kursi meja makan dan siap menyantap makanan yang sudah dihidangkan oleh Putri.
"Ini kamu yang mau masak sendiri Dek Put?" tanya Tata sebelum mereka berdua memulai makan siang.
"Iya Kak Putri yang masak, cuma masih dibantu ibu tadi pagi. Ini tadi Putri hanya menghangatkan saja," jelas Putri.
"Iya Kak."
"Tapi dia hebat loh Ta, masih kecil-kecil begini dia sudah mengambil alih semua pekerjaan Rumah. Masak, menyapu dan bersih-bersih rumah menjadi tanggung jawabnya sebab Bu Hasan sebagai ibunya juga sibuk bekerja selain ayahnya yang juga melaut," tutur Aldi dengan begitu bangga melihat keuletan Putri.
"Oh ya? Hebat dong. Kak Tata saja nggak begitu pintar masak paling tahunya cuma masak nasi sama telur dadar doang." Setelah mengatakan itu Tata langsung terkekeh.
"Kalau kamu tuh pinternya masak air doang," ujar Aldi lalu ikut tertawa.
"Ya begitulah harap maklum. Bikin telur dadar aja keseringan gosong. Masih enak masak pakai magic com kalau nggak pasti nasinya langsung hangus hahaha." Tata tertawa lebar.
"Jangan tertawa lebar kayak gitu dong Tata! Kamu itu mengingatkanku pada wanita berbaju putih panjang dan berambut panjang yang punggungnya bolong," ujar Aldi sambil bergidik ngeri.
"Ih jangan samakan aku sama kuntilanak ya," protes Tata tidak suka.
"Nah kan memang begitu kenyataannya, suara tawamu persis seperti dia," ucap Aldi lagi membuat Tata langsung cemberut.
"Ih suaraku merdu tahu, mau dengar aku nyanyi?" tantang Tata.
__ADS_1
"Jangan-jangan! Aku takut nanti telingaku jadi budeg mendengar suaramu. Hihi, hihihi," ucap Aldi menirukan tawa kuntilanak.
Melihat keduanya tampak berdebat kecil-kecilan Putri hanya tertawa. "Aneh-aneh juga orang dewasa," pikir Putri dalam hati.
"Mana ada tawaku begitu," protes Tata.
"Ya siapa tahu aja kamu sudah dilatih oleh ibu angkatmu itu." Perkataan Aldi semakin membuat Tata cemberut.
"Sudah, sudah!" Kalau berdebat terus kapan makannya?" Akhirnya Putri menengahi perdebatan yang tidak perlu itu sebab takut akan berkembang menjadi perselisihan yang sebenarnya.
Aldi dan Tata mengangguk. Meskipun Tata sebenarnya masih kesal dengan Aldi dan ingin membalas perkataan Aldi. Namun, dia urung sebab harus menghargai Putri sebagai pemilik rumah.
"Ya sudah yuk kita makan. Kak Aldi yang pimpin doanya!" perintah Putri.
Aldi mengangguk dan langsung memimpin doa sebelum makan. Setelah selesai berdoa mereka langsung mengambil nasi dan lauk pauk yang sudah terhidang di atas meja.
Waktu makan menjadi lama sebab Tata makan seperti orang kerasukan dan seakan tidak mau berhenti makan.
"Hei Ta! Itu perut apa gentong yang lubang sih? Jangan-jangan kamu diajari rakus ya sama ibu angkatmu?"
Sontak saja ada buah pisang yang jatuh di atas kepala Aldi.
"Tata!" protes Aldi sambil mengusap kepalanya yang sakit.
"Biarin suruh siapa mengejek, mengatakan aku anak kuntilanak," protes Tata lagi.
"Canda doang, sudah gih teruskan makannya! Tapi ingat Bu Hasan sama Pak Hasan belum makan, jangan dihabiskan!" Aldi memperingatkan agar Tata tahu diri sebagai tamu.
"Nggak apa-apa Kak, Mbak Tata pasti sangat lapar sebab dari kemarin sore nggak makan. Lagian untuk makan ayah sama ibu masih ada stoknya di dapur," jelas Putri membuat Tata tersenyum menang ke arah Aldi sambil meledek dengan cara mengedip-ngedipkan matanya.
"Cepetan makan karena setelah ini saya akan berembug masalah serius dengan kalian!" desak Aldi.
"Baiklah." Tata buru-buru menyudahi makannya.
"Berembug masalah apa?"
"Ini, tadi aku menemukan kertas ini di atas meja di kamarku padahal rumah aku tinggalkan dalam keadaan terkunci," tutur Aldi memulai pembicaraan.
"Apa setelah kembali rumah yang Kakak tinggali sudah dalam keadaan terbuka?" tanya Putri.
"Tidak masih terkunci dan anehnya pakaian kotorku yang ada di dalam kamar mandi sudah tergantung di jemuran dalam keadaan bersih dan wangi."
__ADS_1
"Apa!" Tata dan Putri kaget dan berteriak serempak.
Bersambung.