
Aldi menghindar dari tusukan golok tersebut dengan menyabet pedang di tangannya.
"Arggh!" Pak Langsa mengerang kesakitan, pinggangnya terkena sabetan di pedang.
"Arggh Aldi pun tertusuk di bagian lehernya. Meskipun dirinya menghindar, tetapi ternyata golok di tangan Pak Langsa terlepas dan terlempar begitu saja hingga mengenai leher depannya.
Tangan yang mencekik Pak Hasan tiba-tiba terlepas sedikit demi sedikit. Namun, saat Pak Amir buru-buru menarik tangan tersebut agar segera terlepas pegangan tangan si pria tua itu kuat kembali. Pak Hasan sudah terlihat hampir kehilangan nafas.
Golok yang tadi sempat melukai Aldi terlempar lagi sebab tadi Aldi sempat menepisnya. Golok itu terjatuh di samping Topan. Untung tidak mengenai pria itu yang kini sudah kehilangan kesadaran.
Pak Amir yang melihat golok tersebut menganggur begitu saja di dekatnya langsung meraih golok tersebut. Dengan mengucapkan bismillah dia langsung menusuk tangan dan pergelangan tangan pria tua itu berkali-kali.
"Arggh!" Si tua itupun mengerang kesakitan dan tangan itu terlepas dari leher Pak Hasan. Beberapa saat kemudian si pria itu menghilang seketika menjadi asap-asap hitam dan terbang ke udara. Setelah di udara asap itu mengurai dan akhirnya menghilang begitu saja.
"Uhuk-uhuk." Pak Hasan terbatuk-batuk setelah lehernya terlepas dari tangan pria tua tadi.
"Kau tidak apa-apa Pak Hasan?" tanya Pak Amir begitu khawatir melihat tetangganya itu.
"Tidak apa-apa Pak, hanya sesak nafas saja. Mungkin efek terlalu lama dicekik tadi," jawab Pak Hasan dengan suara yang masih terdengar lemah dan ngos-ngosan.
"Ini minum dulu Pak." Pak Amir membuka tutup botol dan mendekatkan pada mulut Pak Hasan. Pak Hasan menerimanya dan langsung meneguk air mineral tersebut.
"Haah." Pak Hasan menghembuskan nafas, dia merasa alat pernapasannya sedikit lega.
__ADS_1
"Aldi Pak!" Pak Hasan menunjuk Aldi agar Pak Amir segera menghampiri dan membantu pria itu sebab sepertinya Pak Bakri ingin merebut kembali pedang yang ada di tangan Aldi. Saat ini Aldi sedang kesakitan dan memegang leher dengan tangan yang satunya.
Pak Amir mengangguk dan segera berlari ke arah Aldi. Dia menarik Aldi ke belakang dan mengambil pedang yang ada di tangan Aldi. Kemudian Pak Amir langsung mengambil ancang-ancang untuk menghunuskan pedang tersebut ke tubuh Pak Bakri.
Pak Bakri yang merasa dirinya kalah cepat dan tidak memiliki senjata saat ini langsung berlari tunggang-langgang meninggalkan Pak Amir dan semua orang yang kini menjadi musuh-musuhnya.
Pak Amir tidak mengejar Pak Bakri. Sekarang baginya hanya cukup tahu saja bahwa yang melakukan tindak kejahatan di desa itu adalah Pak Langsa dan Pak Bakri. Bukti sudah ada di tangan mereka. Dengan video yang berhasil direkam oleh Topan tadi mereka bisa langsung melaporkan Pak Bakri maupun Pak Langsa ke kantor polisi. Apalagi Aldi dan Topan saat ini sedang membutuhkan pertolongan.
Pak Amir segera membawa Aldi ke dekat Topan. Ternyata setelah diletakkan di samping Topan Aldi pun ikut pingsan.
"Bagaimana ini Pak apakah kita akan pulang sekarang?" tanya Pak Amir bingung sebab Topan dan Aldi sudah sama-sama pingsan sedangkan Pak Hasan sepertinya belum sehat benar.
"Putri dan Tata ke mana?" tanya Pak Hasan, tiba-tiba mengingat kedua gadis yang juga ikut bersamanya.
"Kemana ya Pak?" Pak Hasan begitu khawatir terhadap keadaan putrinya itu. Kalau dia pulang tanpa sang anak dia yakin istrinya pasti akan marah kemudian akan mendiamkan dirinya. Dia juga takut terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya dan Tata. Namun, jika dirinya mencari Putri dan Tata, dia tidak tega meninggalkan Pak Amir dengan kedua orang pingsan di depannya.
"Sebaiknya kita cari Putri sama Tata dulu dan Nak Aldi serta Nak Topan kita tinggalkan saja di sini," saran Pak Amir. Namun, saran itu tidak bisa diterima oleh Pak Hasan.
"Jangan! Tidak baik membiarkan mereka yang pingsan tanpa penjagaan. Kau tunggu saja di sini dan biarkan aku yang mencari putri sama Nak Tata."
"Baiklah." Sambil menjawab seperti itu Pak Amir melihat-lihat golok dan pedang yang sekarang ada di tangannya.
"Sepertinya ada yang aneh dengan dua senjata tajam ini," gumam Pak Amir membuat Pak Hasan yang hendak berdiri mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Pak Hasan penasaran.
"Maksudku sepertinya benda ini sudah dioleskan sesuatu."
Pak Hasan mengernyit dan ikut memeriksanya.
"Kamu benar. Sepertinya dua senjata ini mengandung racun." Pak Hasan menyimpulkan sesuatu menurut analisanya sendiri.
Pak Amir mengangguk membenarkan, memang dia tadi menebak seperti itu. Namun, tidak begitu yakin untuk mengatakan secara to the poin pada Pak Hasan.
"Jadi mereka?" Pak Amir terhenyak mengingat keduanya tadi sempat terkena sabetan pedang maupun golok itu.
"Mereka terkena racun." Pak Hasan pun menjadi kelabakan.
"Pantas saja mereka semua pingsan padahal lukanya tidak terlalu parah."
"Bagaimana ini Pak. Darimana kita bisa mendapatkan penawarnya?" tanya Pak Amir ketar-ketir.
Kedua orang itu tampak berpikir keras tentang apa yang akan mereka lakukan terhadap Aldi maupun Topan.
Saat sedang gusar-gusarnya, Pak Langsa yang tadinya terbaring lemah sebab terkena sabetan pedang dari Aldi terbangun kembali. Dia yang memang mengantongi penawar langsung memasukkan tangan ke dalam saku celananya dan meraih obat penawar itu lalu mengoleskan pada lukanya. Sejenak dia terkulai lemah dan pingsan sebelum obat itu bereaksi. Namun, kini obat itu bereaksi dan dia tersadar kembali dengan kekuatan yang kembali lagi.
Melihat Pak Amir dan Pak Hasan sedang berdiskusi, Pak Langsa mengambil batu besar dan hendak menimpuk pada kepala Pak Hasan dan Amir.
__ADS_1
Bersambung.