Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
BAB 83. Desa Wisata (Tamat)


__ADS_3

Sementara Aldi berjuang dengan maut ditemani ibu angkat dan ibu kandungnya serta Tata dan Putri di rumah sakit, Topan malah sedang berjuang menenangkan Lisa yang sedang berteriak histeris tidak tahu apa maunya.


"Kenapa dengan dia Bu? Ada apa dengan Lisa?" Topan meminta penjelasan pada Bu Hasan setelah semua mantera yang dia kuasai tidak bisa memberikan efek kebaikan sama sekali pada tubuh Lisa yang masih saja mengamuk.


"Nak Topan, sebenarnya semenjak kepergian kalian berempat waktu itu rumah saya ini tiba-tiba berubah menjadi angker."


Topan mengernyit mendengarkan penjelasan Bu Hasan. "Maksud ibu?"


"Ada makhluk aneh tak kasat mata masuk ke dalam rumah ini. Awalnya Nirmala ditemukan dalam keadaan kacau dalam kamar mandi sambil berteriak-teriak ketakutan dengan tubuh yang gemetar hebat. Namun, setelah Nirmala saya kirim ke pesantren di luar kota akhirnya sekarang yang mengalami hal itu adalah Lisa."


Pak Hasan pun mengangguk dan membenarkan ucapan istrinya.


"Benar Nak Aldi, akhir-akhir ini Nak Lisa sering ditemukan dalam keadaan pingsan tanpa tahu penyebabnya. Bangun dari pingsan dia selalu berteriak-teriak seperti orang kesurupan sambil memegang perutnya dengan erat seolah takut ada yang menyentuh perutnya itu."


Penjelasan Pak Hasan membuat Topan teringat akan ucapan Aldi saat penguburan Bu Langsa selesai.


"Jaga Lisa kalau tidak ingin terjadi apa-apa dengannya!"


Satu hal lagi, Aldi pernah menyebut nama Kiai Asmat di telinga Topan walaupun Topan lupa kapan persisnya Aldi mengatakan hal itu dan atas dasar apa Aldi mengucap nama pria tersebut.


"Mungkin yang Aldi maksud adalah Kiai Asmat yang bisa menolong Lisa. Kalau begitu Pak Hasan, tolong antar saya ke rumah Kiai Asmat sekarang juga!"


"Baik Nak Aldi ayo!"


Mereka berdua pun bergegas menjemput Kiai Asmat yang baru saja selesai mandi.


Mendengar penjelasan dari Topan dan Pak Hasan segera Kiai Asmat mengambil peci dan sorbannya lalu berangkat ke rumah Pak Hasan. Sampai di sana Kiai Asmat langsung merukyah Lisa.


Hari hampir petang, tetapi makhluk yang masuk ke dalam tubuh Lisa masih belum mau keluar, bahkan beberapa kali Lisa memberontak dan hendak kabur.


"Pegang dia jangan sampai lepas!" perintah Kiai Asmat pada semua orang yang ada di dalam rumah Pak Hasan.


Pak Hasan, Bu Hasan serta Topan langsung mengelilingi tubuh Kisa dan memegang erat wanita itu agar tidak kabur-kaburan.


Kiai Asmat memegang kepala Lisa dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang erat bahu Lisa.


"Tolong saya dengan membacakan shalawat."


"Baik Kiai." Semua orang pun membaca shalawat sedangkan Kiai Asmat membaca doa dengan suara yang sengaja dikeraskan.


Lisa berteriak-teriak kepanasan, tetapi semua orang mengabaikan teriakan Lisa hingga wanita itu jatuh pingsan lagi.


"Alhamdulillah." Kiai Asmat mengucapkan syukur kepada Allah sebab melihat sesuatu yang terbang keluar dari tubuh Lisa.


"Gadis ini sudah terbebas."


Namun, Kiai Asmat menjadi kaget saat melihat tubuh Lisa yang tidak biasanya.


"Dia hamil?" tanyanya.


Topan mengangguk.


"Suaminya mana?" tanya Kiai Asmat lagi.


Tidak ada yang menjawab, bahkan Topan pun memilih diam dibandingkan menjawab pernyataan Kiai Asmat.


"Kalau tidak ada yang menjawab berarti saya tidak akan bisa menolongnya lagi jika suatu saat makhluk tadi kembali."


Mendengar perkataan Kiai Asmat akhirnya Topan mengaku.

__ADS_1


"Saya yakin telah menghamili dia Kiai."


"Dan kamu bukan suaminya?"


Topan menggeleng.


"Berarti benar dugaan saya makhluk tadi sangat bebal ditubuh Lisa karena dalam tubuhnya bersemayam anak yang dikandung diluar nikah."


"Maksud Kiai?" tanya Topan tidak mengerti sedangkan Bu Hasan dan Pak Hasan diam saja. Mereka tidak tahu harus menyambung pembicaraan dengan kalimat apa mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


"Makhluk yang merasuki tubuh Lisa tadi sebenarnya datang kemari untuk memusnahkan keturunan dari Pak Langsa. Namun, sampai di rumah ini dia menemukan yang lebih menarik dibandingkan Nirmala. Yaitu bayi dalam kandungan Nak Lisa. Makhluk itu menganggap janin itu adalah bayinya karena memiliki aroma yang sama dengan bayinya yang hilang yang memang sama-sama hasil anak di luar nikah dan sama-sama tidak memiliki seorang ayah."


Bu Hasan menganga mendengar penjelasan Kyai Asmat.


"Terus apa yang harus saya lakukan Kiai?"


"Nikahi Nak Lisa secepatnya sebelum makhluk itu datang lagi dan memperdaya lebih jauh terhadap tubuh Nak Lisa."


"Minggu depan saya akan menikahinya Pak Kyai."


"Kenapa harus menunggu minggu depan? Sekarang saja!" tekan Kyai Asmat.


"Tapi saya belum memberitahu keluarga saya juga keluarga Lisa Pak kyai."


"Kan ada telepon? Hubungi mereka secepatnya!"


"Baik Pak Kyai."


Topan pun segera menghubungi orang tuanya sendiri juga orang tua Lisa.


Beruntung saat itu mobil sudah bisa masuk ke dalam desa tersebut sehingga orang tua dari keduanya bisa bergerak cepat.


"Yang penting sudah sah perkara mau dirayakan besar-besaran boleh kapan saja," ujar Kiai Asmat.


"Iya Pak Kiai, terimakasih atas bantuannya," ujar keluarga dari kedua mempelai.


"Terima kasih juga ya Pak Hasan, Bu Hasan dan untuk semua warga yang telah melindungi anak saya," ucap orang tua Lisa. Yang mereka tahu di kampung sangat kompak akan mengucilkan anak yang telah hamil diluar nikah, mungkin mengusir atau mengaraknya. Namun, ternyata warga tidak melakukan itu semua. Orang tua itu masih bisa bersyukur sebab putrinya masih memiliki kesempatan hidup dan memperbaiki diri.


Perbuatan zina dan hamil diluar nikah adalah perbuatan dosa, sangat tidak disarankan dan hina. Namun, mengucilkan dan membuly pelakunya sampai merasa minder dan bunuh diri juga tidak diperkenankan. Nasehat yang baik dan bijaksana lebih baik dari segala-galanya agar tidak ada pengulangan yang sama.


"Hei ada kabar baik." Seorang warga berlari-lari menghampiri warga lainnya.


"Kabar apa sih?"


"Pak Bakri sudah berhasil ditangkap saat mau melarikan diri menggunakan sebuah perahu dan polisi memvonis hukuman mati sebab selain sebagai pelaku penyelundupan kulit kerang langka dia juga kanibal. Ternyata Pak Bakri memakan daging-daging manusia yang sudah menjadi tengkorak itu akibat dari syarat pesugihannya."


"Kau tahu darimana berita itu?"


"Lihat saja tivi, memang kalian pikir aku berbohong apa."


Pak Hasan langsung menghidupkan televisi dan semua orang mengangguk membenarkan melihat berita tersebut.


***


Satu bulan kemudian Aldi terbangun dari tidur panjangnya. Hari itu juga pria itu diperbolehkan pulang. Untuk sementara Aldi akan tinggal di rumah Bu Fatimah dan setelah aktif berkuliah lagi dia akan tinggal bersama orang tua angkatnya.


"Ada apa ini Ta, kok kampung ramai sekali?"


Tata yang mendapat pertanyaan dari Aldi langsung tersenyum.

__ADS_1


"Karena sekarang kendaraan bermotor sudah bisa masuk ke kampung ini sehingga banyak warga yang langsung membeli mobil ataupun motor dan lagi, goa dan terowongan bawah tanah serta pantai yang berada di atas goa tersebut sekarang menjadi destinasi wisata di kampung ini," jelas Tata.


"Benarkah?" tanya Aldi hampir tidak percaya. Namun, senyumnya pun ikut mengembang.


"Iya Kak nggak percayaan sih, perahu yang kita tumpangi waktu itu menjadi daya tarik tersendiri. Banyak orang-orang yang menyewa sebab perahu itu akan kembali ke tempat semula sehingga para pengunjung tidak takut terbawa arus hingga jauh," jelas Putri. "Dan lagi, Kak Topan sama Mbak Lisa sudah menikah," lanjutnya.


"Apa? Dasar tuh anak nggak ngundang-ngundang," keluh Aldi.


"Emang bisa mengundang orang yang koma?" protes Tata.


"Tapi hebat ya kampung ini sudah banyak perubahan," ujar Aldi.


"Yang hebat itu Kakak sama teman-teman yang bisa mengubah kampungku menjadi seperti ini," ucap Putri sumringah.


"Berkat kamu juga Put yang selalu mendukung kami. Eh kampungku juga ya."


Putri mengangguk mendengar kalimat dari Aldi.


"Oh ya Al, biaya kuliah kita berempat sudah dijamin pemerintah sampai kita lulus S2."


"Iya kah Ta?"


Tata mengangguk. "Bahkan Putri juga dapat," lanjut Tata.


"Benar Put?"


"Iya Kak."


Aldi tersenyum, mereka bertiga pun saling melempar senyum sambil mengangkat tangan untuk tos.


"Hari ini aku benar-benar bahagia karena saat membuka mata banyak kebahagiaan yang terpampang nyata."


"Aku juga bahagia Al."


"Aku juga Kak. Yuk kita temui Kak Lisa dan Kak Topan di rumah Putri."


"Mereka belum kembali?"


Tata menggeleng.


"Kami sepakat untuk kembali ke kota bersama-sama, seperti dulu kita masuk ke kampung ini bersama-sama," jelas Tata.


"Jadi masih menungguku nih?"


"Ya jelas lah Al masa menunggu kuntilanak itu lagi."


"Hus Mbak jangan sebut itu lagi, entar kembali."


"Tidak ada Put, sekarang aman."


Mereka bertiga tertawa lepas.


......................


Terima kasih bagi yang masih setia. Kisah ini kuakhiri sampai di sini dan mohon maaf jika ada kesalahan. Sampai jumpa.👋


Assalamualaikum, wr. wb.🙏


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2