Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 67. Mayat Bangkit


__ADS_3

"Saya juga tidak tahu, jangan-jangan roh Bu Langsa tidak terima dengan kematiannya yang mendadak," sahut seorang warga.


"Hus, tidak boleh ngomong sembarangan! Tidak baik menuduh mayat seperti itu." Seorang warga menyenggol bahu orang yang menerka-nerka tadi.


"Sudah ayo kita masuk ke dalam lagi barangkali dapur sudah aman dan tidak ada yang menabuh sendok dengan piring lagi," ajak salah seorang warga.


"Ogah ah, ibu saja sana yang masuk, saya tidak mau membantu memasak. Saya sangat takut, bagaimana kalau tiba-tiba ada hantu di dapur itu dan mencekik diriku seperti yang terjadi pada Bu Langsa? Jangan-jangan malah kuntilanak yang mencekik Bu Langsa tadi kembali sebab Neng Nirmala masih hidup atau mungkin makhluk itu malah mencari keberadaan Pak Langsa yang tidak tahu dimana rimbanya sekarang."


"Ya sudah kalau begitu aku ajak yang lainnnya saja."


"Silahkan, aku mau pulang saja." Wanita itupun bergegas keluar dari pekarangan rumah Bu Langsa dan hendak pulang ke rumahnya. Baru satu meter melangkah wanita itu berbalik dan berlari sekuat tenaga kembali ke rumah Bu Langsa.


"Ada apa Bu Nila, katanya mau pulang kok malah ikut lomba maraton," goda seorang ibu yang melihat Bu Nila itu kembali ke sisi mereka padahal tadi sudah pamit pulang.


"Itu ... itu ... ada makhluk aneh yang menggantung di pohon nangka," ucap Bu Nila dengan tubuh gemetaran.


"Makhluk aneh apa sih maksudnya?" Orang-orang mendekat ke arah Bu Nila dan melihat wajah Bu Nila yang menunjukkan raut ketakutan.


"Itu ada wanita yang menggunakan dress panjang berwarna putih dan melotot ke arahku. Matanya terlihat berlubang besar, tetapi meneteskan air mata darah." Bu Nila bercerita masih dengan tubuh yang gemetaran. Orang-orang yang mendengarkan cerita Bu Nila pun ikut bergidik ngeri. Kulit-kulit mereka meremang seketika seakan bulu kuduknya berdiri semua.


"Auuuw!"


Saat tegang-tegangnya mendengar cerita Bu Nila, terdengar teriakan dari dalam rumah.


"Ada apa itu?"


Semua orang yang berada di halaman rumah berlari masuk ke dalam.


"Ada apa?" tanya warga serempak.


Tanpa ada yang menjawab pun mereka langsung tahu apa yang terjadi di dalam. Mereka melihat mayat Bu Langsa yang kini malah duduk.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, apa Bu Langsa hidup kembali?"


Tidak ada yang menjawab pertanyaan ini sebab orang-orang yang ada di dalam ruangan tampak tegang dan berlari ke pojok ruangan.


Putri dan Tata tampak menghadap tembok dan menutup matanya. Mereka berdua benar-benar merasa takut sekarang.


"Apa yang terjadi Pak Amir? Pak Hasan?" Seorang lelaki tua berkalung surban tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan mendekat ke arah Pak Hasan dan Pak Amir untuk meminta penjelasan.


Pak Amir dan Pak Hasan yang masih terlihat syok tidak bersuara sedikitpun. Jangan ditanya Bu Hasan, dia memeluk Putri dari belakang sambil menangis. Seumur hidup dia tidak pernah melihat keanehan itu dan sekarang dirinya malah dihadapkan dengan hal-hal yang berada diluar nalar. Kalau dirinya tidak sigap tadi untuk kabur dari hadapan Bu Langsa mungkin tubuhnya kini lengket dalam pelukan Bu Langsa karena mayat wanita itu saat terbangun langsung merentangkan tangan dan hendak memeluk Bu Hasan.


"Ada yang bisa menjelaskan?" tanya pria tua berkalung sorban itu karena Pak Amir maupun Pak Hasan yang ditanya tidak ada yang menjawab.


Orang-orang hanya diam dan menatap aneh pada pria tua yang tiba-tiba saja ada di tengah-tengah mereka semua. Semua orang berpikir darimana datangnya pria tua itu sebab mereka tahu pria itu bukanlah warga di kampung kenanga.


"Mengapa akhir-akhir ini kampung kita menjadi aneh ya?" Seorang warga bertanya dengan berbisik di telinga warga lain yang berdiri di sampingnya.


"Aku juga tidak tahu, sepertinya banyak hal aneh terjadi setelah kedatangan 4 mahasiswa itu. Apa sih yang sebenarnya dilakukan mahasiswa tersebut hingga membuat penghuni makhluk gaib di desa ini menjadi marah?"


"Aku juga. Aku tadi nanya padamu kok sekarang malah kamu jawab dengan pertanyaan pula."


Masih tidak ada yang membuka suara sebab yang berada dalam rumah tadi syok semua. Yang berada di luar meskipun tidak begitu syok tapi tidak melihat kronologi bagaimana mayat itu bisa duduk.


"Aldi kamu bisa menjelaskan?" tanya pria tua itu beralih bertanya pada Aldi. Aldi terbengong-bengong melihat pria tua ini sebelumnya memang sering masuk di mimpinya. Namun, saat dalam mimpi pria ini hanya terlihat tersenyum lalu menghilang begitu saja begitupun dengan mimpi selanjutnya. Tidak ada bedanya sekalipun. Pria tua itu muncul tiba-tiba, tersenyum dan hilang secara tiba-tiba pula.


"Kakek siapa?"


"Nanti kamu akan tahu sendiri siapa aku." Kakek itu terlihat tersenyum membuat Aldi semakin penasaran saja.


"Ternyata orang ini ada dalam dunia nyata," batin Aldi. Sebelumnya dia pikir kakek tersebut hanya ada di alam mimpi saja.


"Sekarang jawab pertanyaanku dulu! Mengapa mayat wanita ini bisa duduk?"

__ADS_1


"Itu Kek, tadi ada kucing hitam yang datangnya secara tiba-tiba dan melompati mayat Bu Langsung. Setelah dilompati kucing tersebut tiba-tiba saja Bu Langsa bangkit dan duduk seperti ini," terang Aldi tentang apa yang dilihatnya tadi. Kebetulan saat kejadian itu berlangsung Aldi baru sampai di rumah itu dan masih berdiri di depan pintu hendak masuk ke dalam rumah.


"Oh begitu, kalau demikian mari bantu kakek agar tubuh wanita ini kembali ke posisi semula."


"Memangnya bisa Kek, bukankah kalau orang yang sudah meninggal badannya sudah kaku?"


"Insyaallah bisa atas izin Allah SWT, mari kita mencobanya!"


"Baik Kek." Aldi mendekat ke arah kakek itu dan pria tua itu menggandeng tangan Aldi sebab Aldi terlihat ragu-ragu untuk mendekati mayat Bu Langsa.


"Duduklah bantu kakek memegang tubuh wanita ini."


Aldi pun duduk dan melakukan apa yang diperintahkan oleh kakek tersebut meskipun perasaannya takut dan ragu.


"Pegang bahunya!"


"Baik Kek."


Aldi memejamkan mata, menarik nafas berat, lalu memegang punggung mayat Bu Langsa.


Pria tua itu tersenyum pada Aldi lalu dengan tangannya mencoba mengembalikan tubuh Bu Langsa ke posisi semula. Yaitu posisi lurus berbaring.


Dengan tangan-tangannya yang menekan seperti orang memijit pria itu berusaha agar Bu Langsa bisa kembali berbaring dari posisi duduknya.


"Tidak bisa ya Kek?" Aldi tidak tahan jika harus berlama-lama memegang mayat. Bisa gemetaran tangannya nanti.


"Sebentar." Kakek itu tampak membaca doa-doa sebelum menyentuh badan Bu Langsa lebih lanjut.


Setelah membaca doa, pria itu meniup tangannya sendiri lalu menyentuh badan Bu Langsa seperti membalurkan minyak.


Bug.

__ADS_1


Tubuh Bu Langsa terjatuh ke belakang dan terbaring kembali. Untung saja Aldi segera menghindar kalau tidak pasti dirinya sudah tertindih mayat tersebut.


Bersambung.


__ADS_2