Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 52. Surat Di Atas Meja


__ADS_3

"Dia siapa?" tanya Tata menunjuk Putri.


"Dia Putri Pak Hasan, pemilik rumah ini," jawab Aldi.


Tata menatap wajah Putri. Putri hanya mengangguk dan tersenyum. Tata mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, ternyata benar rumah itu bukanlah rumah Pak Bakri yang ditempatinya sebelum ini.


"Aku boleh tidak tinggal di sini saja? Aku tidak berani kembali ke rumah itu lagi," mohon Tata.


Aldi menatap Putri dan gadis itu hanya mengangguk saja dengan senyum yang masih tidak lepas dari bibir manisnya.


"Kau yakin Put?" tanya Aldi tidak percaya. Bagaimana mungkin Putri memutuskan tanpa bertanya pada orang tuanya terlebih dahulu.


"Yakinlah Kak, Putri juga yakin kalau ayah sama ibu juga pasti akan merestui."


Semua bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir di tempat itu mengangguk. Mereka sudah tahu tentang kebaikan orang tua Putri dimana mereka begitu ramah dan suka membantu kepada siapapun yang membutuhkan.


"Minum dulu ya Kak." Putri menawarkan teh sambil menuangkan dari ceret ke dalam gelas kemudian menyodorkan ke hadapan Tata.


"Terima kasih Dek," ucap Tata sambil meraih gelas yang diberikan Putri kemudian dia duduk dan langsung meneguk minumannya itu.


"Wah seger sekali teh nya," puji Tata membuat Putri mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih Kak atas pujiannya, tapi kakak jangan berlebihan lah ini biasa saja kok," sanggah Putri. Dimanapun yang namanya teh itu rasanya sama menurut pemikiran Putri yang memang tidak pernah kemana-mana selama ini.


"Nggak berlebihan kok Dek. Ini benar-benar pas manisnya pas hangatnya," ucap Tata lalu terkekeh. Dia sejenak melupakan akan kejadian yang telah menimpa dirinya semenjak semalam.


"Mbak Tata sebaiknya mandi dulu yang Mbak biar Putri ambilkan baju ganti milik Putri," usul Putri melihat baju Tata yang sudah kotor dan penuh dengan tanah.


"Baiklah Dek terima kasih ya atas semua kebaikanmu. Mbak Tata tidak bisa membalas semoga Tuhan yang membalasnya suatu saat nanti."


"Amin. Ayo Mbak kita ke kamar mandi, Putri antar!"


Tata bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah Putri ke dalam. Setelah beberapa saat Putri kembali ke arah Aldi dan membisikkan sesuatu.


"Kak ternyata baju Putri kekecilan untuk Mbak Tata," bisik Putri di telinga Aldi.


"Berikan baju milik ibu saja kalau boleh," usul Aldi juga dengan berbisik.

__ADS_1


"Juga tidak cocok Kak, kebesaran tadi."


"Oh oke kalau begitu aku akan ambilkan milik dia saja di rumah."


"Saya pamit pulang dulu ya Bapak-bapak, ibu-ibu dan kamu juga Put."


"Iya Kak."


"Iya Nak Aldi dan Nak Putri kami juga pamit pulang ya," ucap Pak Amir mewakilkan yang lain.


Terima kasih teh nya," lanjutnya.


"Iya Pak sama-sama," jawab Putri.


Aldi dan semua orang pun meninggalkan kediaman Pak Hasan atau Putri untuk kembali ke rumah masing-masing. Pak Amir menyusul Aldi yang telah terlebih dahulu keluar dari pekarangan rumah Putri dan berjalan menuju rumah Pak Bakri yang selama ini ditempatinya.


"Bagaimana nanti sore? Saya akan menjemput Nak Topan sama Nak Lisa, mau ikut?"


"Iya Pak Aldi ikut. Aldi akan langsung menunggu di pantai saja. Kira-kira jam berapa Bapak bisa menjemput mereka?"


"Oke siap Pak jam 3 Aldi sudah stand by di sana."


"Ya sudah kalau begitu bapak pulang duluan. Nak Aldi tidak mau mampir kah?"


"Tidak Pak terima kasih. Saya harus mengambil pakaian Tata dan mengantarnya ke rumah Putri lagi karena ternyata di sana tidak ada pakaian yang cocok buat Tata," jelas Aldi.


"Oke kalau begitu hati-hati ya Nak Aldi."


"Iya Pak. Bapak juga hati-hati assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." Mereka pun berpisah di pertigaan jalan karena ternyata arah menuju rumah mereka sekarang berlawanan.


Sampai di rumah sekarang Aldi punya kebiasaan baru mengetuk pintu dan mengucapkan salam meskipun tahu di rumah tersebut tidak ada orang.


"Assalamualaikum," ucap Aldi bersemangat.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." Masih saja ada yang menjawab panggilan salamnya seperti tadi pagi.


"Dia siapa sih?" Aldi membuka pintu rumah dan melihat ke dalam rumah yang ternyata tidak ada seorangpun di dalam sana. Aldi menoleh ke luar rumah memang tidak ada orang. Namun, dia kaget melihat baju kotor miliknya yang ada di dalam kamar mandi tadi pagi sudah tergantung di jemuran yang terletak di depan rumah, tetapi posisinya agak ke samping.


Aldi langsung bergegas menghampiri baju tersebut. Ternyata benar baju itu sudah dicuci bersih dan malah harum pewangi softener. Keadaan baju tersebut juga hampir kering saat ini berarti ini sudah lama dicucinya.


"Siapa yang melakukan semua ini? Bukankah aku meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci?" Aldi bertanya-tanya dalam hati.


"Siapapun kamu aku ucapkan terima kasih," ucap Aldi dengan gumaman.


"Tapi kumohon jangan menghantuiku ya, aku sudah terlalu capek." Aldi benar-benar merasakan tubuh dan pikirannya yang sudah teramat lelah.


Dia kemudian masuk ke dalam kamar Tata dan mengambil semua perlengkapan milik Tata yang ada di sana sebab Tata sudah tidak menginginkan lagi tinggal di rumah ini.


"Ah semuanya sudah." Aldi bernafas tegas setelah menghemat semua pakaian dan perlengkapan mandi milik Tata.


"Apa aku istirahat dulu ya sebelum pergi ke rumah Putri?" Sebenarnya Aldi sudah tahu bahwa baju yang diambilnya sudah ditunggu oleh Tata di rumah Putri. Namun, punggung Aldi terasa sakit dan butuh istirahat sejenak.


Aldi meninggalkan tas Tata di depan kamarnya itu dan beranjak ke kamarnya sendiri lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Ah rasanya nikmat sekali menyentuh kasur. Mungkin kalau tidur pasti nyenyak."


Namun, dia tidak mungkin tidur sebab Tata masih menunggunya. Setelah sempat beristirahat sejenak, Aldi bangkit lagi dan keluar kamar hendak mengambil tas Tata dan mengantarnya ke rumah Putri.


Baru beranjak satu langkah, Aldi dikagetkan dengan sebuah kertas yang terletak di atas meja di samping ranjang. Kertas itu berisi coretan-coretan dengan pulpen berwarna merah.


Aldi lalu meraih kertas itu dan berkata, "Surat apa ini?" Dia lalu membaca dengan seksama.


Kalau ingin semuanya terkuak datanglah ke ujung jalan di dekat pemakaman dan ikuti orang yang berdiri di bawah pohon bambu nanti malam.


"Apa maksudnya ini dan siapa orang yang menulisnya? Apakah ini serius ataukah ingin bermain-main dan menjebak ku?" Aldi terlihat ragu sekaligus penasaran. Namun, kadang Aldi berpikir rasa penasarannya ini yang membuat dirinya masuk ke dalam masalah. Coba saja kalau tidak penasaran pasti saat ini dirinya dan Tata sudah duduk tenang di dalam rumahnya sendiri.


"Aku harus membicarakan ini dengan Pak Hasan dan juga Pak Amir." Akhirnya cara itulah yang diambil Aldi agar mereka bisa menentukan cara terbaik sebab mereka yang tahu seluk beluk kampung ini.


Aldi melipat kertas tersebut dan memasukkan ke dalam kantong celananya. Setelah itu pergi ke rumah Putri dengan membawa tas Tata di tangannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2