
Mereka pun langsung membagi tugas, ada yang membawa Aldi dengan langkah cepat meninggalkan tempat tersebut masuk ke sebuah terowongan yang panjang sedangkan yang lainnya masih melakukan aksi perlawanan terhadap beberapa anak buah Pak Bakri.
Tata dan Putri ikut dengan pria yang menggotong tubuh Aldi dibantu 2 pria yang lainnya, sedangkan Topan masih membantu dalam melakukan perlawanan.
"Pak ini jalannya kok terpecah dua, jalan yang mana yang harus kita tempuh?"
"Sebentar Nak Tata saya akan memeriksanya dulu."
Seorang pria masuk ke dalam terowongan yang satu dan memeriksanya ternyata yang satu itu mengarah ke laut.
"Nak Tata ternyata itu jalan yang mengarah ke laut dan di sana saya melihat Pak Bakri sedang melakukan aktivitas penjualan kulit kerang dan binatang laut lainnya pada kapal asing."
"Bagaimana mungkin Pak, apakah ini bisnis ilegal sehingga Pak Bakri melakukan aktivitas jual beli secara sembunyi-sembunyi seperti ini?"
"Sepertinya memang iya sebab kami selama ini memang dipaksa untuk mengumpulkan semua kulit kerang yang memang dilarang untuk diperdagangkan karena keadaan kerang tersebut yang semakin ke sini semakin langka."
"Dan tentu saja usaha yang secara sembunyi-sembunyi ini sudah dapat dipastikan tidak memiliki izin resmi, tapi ya sudahlah keadaan Aldi ini darurat kita tidak perlu mengurusi urusan yang lainnya dulu."
"Iya Bapak benar ayo kita segera bergegas mencari jalan keluar! Sepertinya jalan yang ke arah kiri ini adalah jalan menuju daratan," ujar Tata.
"Oke." Mereka berlima pun berjalan dengan langkah yang lebih besar lagi agar segera sampai ke pintu keluar.
Satu jam perjalanan akhirnya mereka muncul disebuah ruangan yang ada di rumah Pak Bakri.
"Sepertinya ini gudang, itu pintunya mari kita buka." Putri memutar handle pintu dan ternyata pintunya terkunci.
"Pak dikunci."
Kedua orang yang menggotong tubuh Aldi akhirnya berinisiatif untuk mendobrak pintu. Untuk sementara mereka meletakkan tubuh Aldi di atas lantai.
__ADS_1
Brak.
Akhirnya ketiganya berhasil membuka pintu dan langsung menggotong tubuh Aldi kembali dan berjalan keluar ruangan.
"Hai apa yang kalian lakukan dari dalam gudang itu!" teriak pembantu Pak Bakri.
"Kalian mau mencuri ya?"
Namun, kelima orang yang baru datang itu tidak menghiraukan teriakan dan tuduhan yang keluar dari mulut orang-orang di rumah Pak Bakri. Mereka berlima langsung berlari ke luar dari pekarangan rumah Pak Bakri dan meminta tolong pada warga yang ditemui di sepanjang jalan.
"Tolong telepon ambulans!" seru Putri.
"Kau tahu kan Put peraturannya di desa ini?"
"Persetan dengan peraturan di desa ini yang kami inginkan adalah teman kami sembuh segera. Ini bukan main-main lagi sedikit saja Aldi terlambat nyawanya bisa melayang. Tolong pengertiannya!" mohon Tata.
"Kami bukan tidak ingin menolong dengan cara menelponkan ambulans untuk anak ini, tetapi mereka tidak mungkin mau masuk ke daerah ini karena pasti sudah mendengar bahwa setiap orang yang memasuki wilayah ini dengan menggunakan kendaraan bermotor agar terjadi kecelakaan."
"Tapi Nak ...."
"Dicoba dulu Pak kalau tidak dicoba mana tahu mereka bisa atau tidaknya," ujar Putri.
"Baiklah kalau begitu kami akan segera menelpon pihak rumah sakit untuk mengirimkan ambulans ke desa ini semoga saja mereka lebih mengedepankan hati nurani dibandingkan rasa ketakutan mereka sendiri."
"Iya pak terima kasih cepat lakukan!" Tata nampak gusar hingga tidak sadar kata-katanya seperti orang yang memerintah orang-orang di sana.
Tidak masalah, semua warga di sana mengerti keadaan Tata yang sedang panik karena terlalu menghawatirkan Aldi.
"Bagaimana pak?" tanya Tata kemudian, saat seseorang selesai menelpon pihak rumah sakit
__ADS_1
"Alhamdulillah mereka mau Nak dan kita berdoa saja semoga ambulans sampai ke tempat ini dalam keadaan sopirnya yang selamat."
"Amin kami semua pasti akan berdoa untuk keselamatan pak sopir ambulans itu agar luka Aldi segera bisa ditangani."
Sementara menunggu ambulans datang, Tata teringat pada aktivitas yang dilakukan Pak Bakri di laut tadi yang diceritakan oleh bapak-bapak yang duduk di sampingnya itu. Gadis itu langsung mengambil ponselnya dan menelpon Topan lalu memberitahukan semua yang dilihat oleh bapak-bapak tersebut. berharap Topan dan yang lainnya bisa menindak mereka dan bisa mengatasi masalah itu.
***
"Bapak yakin akan membawa mobil ambulans ke desa Kenanga? Kenapa tidak dilimpahkan saja kepada Pak Marwan sebab hari ini kan jadwal beliau bawa mobil ambulans? Apakah Bapak tidak pernah mendengar rumor yang beredar di masyarakat bahwa seseorang yang berani memasuki desa Kenanga menggunakan kendaraan bermotor tidak akan kembali dalam keadaan selamat."
"Yakin Bu, pihak desa tadi berjanji untuk memberikan hadiah jika saya mau menjemput pasien dari sana. Lumayan loh Bu untuk membayar hutang-hutang kita selama ini. Lagipula menyelamatkan orang itu adalah sesuatu hal yang baik ya, kan? Jadi saya yakin Tuhan pasti akan menyelamatkan hambanya yang ingin berbuat baik."
"Baik Pak, Bapak hati-hati." Istri dari sopir ambulans itu terlihat khawatir sebenarnya. Namun, karena desakan ekonomi dia terpaksa mengizinkan suaminya untuk membawa mobil ambulans ke desa Kenanga yang terkenal dengan kisah yang menyeramkan terhadap pengendara kendaraan bermotor yang berani melintas ke daerah itu.
Pak Narko adalah sopir ambulans yang sudah berpuluh-puluh tahun mengabdi di rumah sakit itu akhirnya memberanikan diri membawa mobil ambulans masuk ke desa Kenanga.
Di sepanjang perjalanan pria tua itu tidak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan agar masih memberikan umur yang panjang dan bisa kembali ke keluarganya dalam keadaan masih bernyawa.
"Apa itu? Apakah ini pertanda aku akan mengalami nasib yang sama dengan pengendara sebelumnya?"
Pak Narko mulai khawatir sebab di sepanjang perjalanan berbaris para hantu yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Ya Allah selamatkan aku. Aku tidak mau meninggalkan istriku dalam keadaan hutang yang masih banyak sebab kalau itu terjadi aku pasti berat menghadapi hisab di alam akhirat nanti karena mati dalam keadaan membawa hutang." Pak Narko mencoba menguatkan diri dan mencoba untuk berkonsentrasi menyetir daripada melihat ke arah samping kanan dan kirinya yang menunjukkan sosok-sosok makhluk yang terus saja melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Namun senyum mereka membuat Pak Narko merasa lebih ngeri.
"Itu ambulans nya datang pak!" Kedatangannya disambut dengan antusias oleh warga.
"Alhamdulillah akhirnya aku sampai." Pak Narko mengusap wajahnya dan mengucapkan syukur.
"Ayo mana pasien yang akan dibawa ke rumah sakit?" tanya Pak Narko sebab orang-orang tidak gerak cepat memasukkan tubuh Aldi ke dalam mobil. Sepertinya para warga melupakan Aldi yang butuh penanganan cepat sebab lebih fokus kepada kebahagiaannya melihat ada kendaraan bermotor yang sukses masuk ke desa tersebut tanpa ada halangan apapun.
__ADS_1
Bersambung.