
Semua orang langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Putri.
"Kau benar Nak sepertinya memang ada yang tidak beres. juga di makam itu."
"Ayo kita segera ke sana!"
Orang-orang berlarian ke arah kuburan itu.
"Kenapa kuburan ini juga terlihat aneh seperti kuburan tadi? Apa jangan-jangan makam ini juga salah satu korban dari pembongkaran dari orang yang tidak bertanggung jawab juga?"
"Entahlah Pak mungkin saja. Lebih baik Pak Amir periksa saja!" perintah Bu Dewi pada Pak Amir.
"Saya tidak berani Bu, lebih baik ibu panggilkan dulu suami pemilik makam ini sebelum saya masuk ke dalam dan memeriksanya."
"Tapi suami dari penghuni makam ini sudah dua hari lalu merantau ke Jakarta katanya mereka mau membuka toko di sana," tutur seorang ibu-ibu lain.
"Tidak ada keluarga yang tersisa di sini?"
"Tidak ada Pak semua keluarga dibawa semuanya. Kabarnya mereka akan menetap di sana untuk beberapa tahun," lapor warga yang lain.
"Hmm, baiklah kalau begitu bapak akan masuk, tapi kalian yang jadi saksi ya bahwa saya masuk ke dalam kuburan ini hanya untuk memeriksa, bukan untuk neko-neko." Pak Amir tidak mau timbul fitnah di kemudian hari.
"Baik Pak kami yang akan menjadi saksi apabila terjadi hal yang tidak diinginkan suatu hari nanti." Semua orang setuju dan menjawab serempak.
Baru saja Pak Amir menapakkan kaki di atas tanah kuburan itu terdengar suara tangisan wanita dari dalam.
"Hiks, hiks, hiks."
Sontak saja Pak Amir kaget dan langsung melompat ke belakang.
"Suara apa itu?" Orang-orang tampak mengusap lengannya dimana bulu kuduknya terasa berdiri seketika. Begitupun dengan Aldi dan Putri, tubuh mereka meremang mendadak.
"Kak, siapa yang menangis itu?" tanya Putri dengan ekspresi ketakutan. Tangan gadis itu bergelut di lengan Aldi, tidak mau ditinggalkan mendadak oleh Aldi. Siapa tahu pria itu akan berlari seketika menurut pikiran Putri.
"Masa sih ada setan di siang bolong?" Seseorang bertanya pada orang-orang yang berdiri mematung di sekelilingnya.
"Jangan pergi! Jangan pergi!" Seseorang menahan yang lainnnya agar tidak pergi karena dia sendiri yang takut ditinggalkan.
Bukannya kabur, orang-orang seperti terhipnotis dengan serempak diam dan tak bergeming dari tempat mereka berdiri, seperti putaran waktu berhenti mendadak saja. Hanya Aldi dan Putri serta satu orang lagi yang sadar dan orang tersebut langsung berlari terbirit-birit saat tidak ada yang menjawab ketika dirinya meminta orang yang lain untuk tidak pergi dan meninggalkan dirinya.
"Kak apa yang terjadi dengan mereka semua?" Putri heran melihat keadaan orang-orang di sana.
"Apakah mereka semua kerasukan? Iihh, Putri takut Kak." Gadis itu semakin ketakutan. Sementara semua orang seolah menjadi patung tak terkecuali Pak Amir tangisan di dalam kuburan semakin menjadi.
"Hiks, hiks, hiks, tolong aku! Adakah yang bisa menolongku di sini?"
Aldi langsung sadar bahwa yang menangis itu bukanlah hantu melainkan suara manusia.
"Tunggu! Tunggu!" Aldi melepaskan tangan Putri yang masih bergelayut di lengannya.
"Kak jangan tinggalkan aku!" Putri menarik kembali tangan Aldi.
"Lebih baik kita pulang saja kalau kita tidak ingin bermimpi buruk nanti malam." Gadis itu tampak merengek.
__ADS_1
"Tunggu sebentar Put, lepaskan pegangan tanganmu dan kak Aldi tidak akan mungkin meninggalkanmu."
"Beneran? Janji?" Gadis itu masih ragu Aldi akan kabur meninggalkan dirinya.
"Iya kakak janji. Kau kira kakak tidak akan kena masalah kalau sampai meninggalkan dirimu di tempat ini dan kau malah menghilang? Ayahmu pasti akan memakan diriku karena ibumu akan melaporkan bahwa tadi kamu pergi bersamaku." Niatnya ingin menyakinkan Putri bahwa dirinya tidak akan meninggalkan gadis itu. Eh malah membuat gadis itu cemberut.
"Kok ngambek sih?" protes Aldi melihat wajah Putri yang tadinya menunjukkan raut ketakutan sekarang malah berubah mendekati marah.
"Abisnya Kak Aldi kejam. Masa menuduh sembarangan," kesal Putri.
"Menuduh? Memang Kak Aldi menuduh apa?" tanya Aldi bingung. Dia sama sekali tidak merasa dirinya menuduh Putri apapun.
"Manuduh ayahku kanibal," jawab gadis itu sambil mencebik. "Tadi Kak Aldi mengatakan ayah kalau marah akan memakan Kak Aldi," lanjutnya.
"Astaghfirullah hal adzim." Aldi meraup wajahnya antara kesal dan mau tertawa.
"Ada-ada saja kamu Put, Kak Aldi kan cuma bercanda.
"Oh cuma bercanda? Gadis itu ceria kembali. Namun, kembali meringis tatkala mendengar suara tangisan yang terdengar lebih kencang dan keras lagi dari dalam tanah kuburan.
"Kak takut." Mulai merengek lagi dan bergelayut di lengan Aldi kembali.
"Sudahlah Put daripada kamu begini terus lebih baik kamu baca ayat kursi saja kalau takut." Aldi mencoba melepaskan tangan Putri dengan hati-hati.
"Kakak mau mengintip suara itu, lepas dulu ya!" mohon Aldi dan dirinya langsung menempelkan telinganya ke tanah makam tersebut.
"Baiklah, baca ayat kursi kan?" tanya Putri lagi memastikan.
"Bismillahirrahmanirrahim, bismikallahumma ahya wa amut." Do'a Putri terlihat sangat khusuk. Namun gagal total. Bagaimana tidak gagal dia mau mengusir setan apa mau tidur?
"Bhahahaha." Aldi gagal fokus. Yang tadinya ingin mengintip suara tangisan dari dalam sana malah fokus mendengarkan do'a Putri.
"Ih kenapa Kak Aldi malah ketawa sih? Apa jangan-jangan Kak Aldi kerasukan juga. Kalau yang lainnya kerasukan setan diam Kam Aldi beda sendiri. Kayaknya Kak Aldi kerasukan setan tawa." Putri bergidik ngeri, menyesal dirinya tadi tidak berlari bersama bapak tadi.
Putri langsung mengambil ancaman untuk kabur dari tempat itu.
"Put jangan pergi, temenin Kakak di sini!"
Putri jadi galau, haruskah dia berlari dan meninggalkan Aldi ataukah bertahan tapi khawatir Aldi kerasukan.
"Putri Kak Aldi baik-baik saja kok, tidak kerasukan seperti dugaan mu!" tegas Aldi.
"Tapi ... kenapa Kak Aldi malah tertawa sendiri?" tanya Putri ragu.
"Hahaha, kau takut apa ngantuk sih? Gimana Kak Aldi tidak tertawa, kamu tuh disuruh baca surat Yasin kok malah baca do'a tidur," protes Aldi.
Putri terlihat kebingungan "Masa sih Kak? Putri nggak ngerasa begitu kok."
Putri lalu membaca do'a tadi. "Bismillahirohmanirohim bismikallahumma ahya ...." Oh iya ya Kak."
Putri menggaruk rambutnya yang tidak gatal yang tertutupi oleh kerudung saat menyadari dirinya memang membaca doa yang tidak sesuai dengan yang dia inginkan pada kondisi saat ini.
"Benar kan kamu ngantuk? Yuk deh tidur di sini! Ini kasurnya lembut loh." Aldi menepuk tanah di bawahnya dengan tangan.
__ADS_1
"Ih nggak lah Kak, Putri masih mau hidup seribu tahun lagi." Gadis itu nyengir kuda.
"Kalau Kak Aldi mau silakan dicoba duluan!" Tantang Putri.
"Tuh ada apa di belakangmu!"arti menunjuk ke arah belakang Putri.
"Apa sih Kak?" Putri takut lagi. Seorang bapak-bapak datang dan menepuk pundaknya.
"Aaaaaa!" Putri lalu berteriak kencang sekali karena kaget sekaligus takut.
"Ada orang di luar? Tolong?" Suara tangisan di dalam kuburan tadi berubah menjadi permintaan tolong.
"Kok ada yang minta tolong?" tanya bapak-bapak tadi yang baru sampai dan berdiri di samping Putri.
"Bapak ngagetin saja sih! Untung Putri tidak punya penyakit jantung kalau sampai putri mengidap penyakit jantung bapak yang harus bertanggung jawab." Putri sedikit kesal kepada bapak-bapak yang berdiri di sampingnya kini.
"lebay banget sih Put. Gitu aja bisa menyebabkan orang penyakit jantung, aneh kamu." Pria itu tak mau kalah dengan Putri malah membalas dengan protesan.
"Tolong!!! Siapapun yang ada di luar tolong saya! Saya sudah terlalu lama di dalam sini. Rasanya sesak nafas dan mau mati. Hiks, hiks, hiks. Adakah orang yang mau menolongku?"
"Tata! Itu seperti suara Tata." Aldi kaget bercampur senang. Sepertinya dirinya akan menemukan Tata saat ini juga.
"Mbak Tata? Mbak Tata ada di dalam kuburan?" Putri keheranan.
"Pak tolong itu di dalam sepertinya suara teman saya. mungkin dia terjebak tinggal masuk ke dalam lubang kuburan seseorang."
"Temanmu?" tanya bapak-bapak yang baru datang tadi.
"Iya Pak temanku yang hilang sejak kemarin sore."
"Baik-baik, tunggu sebentar, Saya akan mengambil cangkul yang ada di kuburan tadi." yang dimaksud kuburan di sini adalah kuburan yang tadi ditemukan mayatnya dalam keadaan dibelah perutnya.
"Baik Pak terima kasih atas bantuannya."
Sementara bapak tadi pergi mengambil cangkul bapak-bapak dan ibu-ibu yang tadinya mematung tetap saja mematung dan tidak bergerak sama sekali. soal mereka terkena totokan saja sehingga tidak bisa bergerak.
"Kak Aldi mereka semua ini kenapa sih?" Putri masih terlihat bingung dengan keadaan sekitar.
Beberapa saat kemudian bapak yang mengambil cangkul itu kembali.
"Pak bagaimana dengan nasib mereka?" tanya Aldi sambil menunjuk bapak-bapak dan ibu-ibu yang mematung itu.
"Kalau menemukan manusia dalam keadaan mematung seperti itu kau totok saja mereka."
Bapak itu langsung mempraktekkan dengan melakukan aksi seperti menotok pundak semua orang yang berdiri dan akhirnya sukses. semua orang itu tersadar kembali.
"Ada apa ini?" mereka langsung bertanya-tanya apa yang terjadi terhadap dirinya.
"Sudahlah jangan pikirkan itu, ayo bantu kami menggali kuburan ini karena sepertinya ada manusia yang terjerembet masuk dan terjebak di dalam sini."
"Baik ayo," ucap mereka serempak dan kemudian kompak menggali tanah yang masih basah itu dengan tangan mereka.
Bersambung.
__ADS_1