Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 46. Tidak Semudah Itu


__ADS_3

"Jadi yang dicampur dengan air pindang ikan itu adalah mayat yang diblender halus?" Putri menganga kaget mendengar cerita Aldi.


"Iya begitulah," ucap Aldi sambil mengangkat kedua bahunya.


"Kak Aldi tidak salah lihat, kan? Kak Aldi tidak rabun, kan?" Putri berlari ke dalam dan mengambil sesuatu dari dalam kemudian dari jarak jauh Putri mengetes Aldi.


"Ini apa Kak yang di pegang Putri?" tanya Putri sambil menunjukkan benda di tangan kanannya.


Aldi menganga melihat Putri benar-benar ingin mengetes penglihatannya.


"Apa ya?" Aldi tampak berpikir, bukannya dia tidak melihat benda apa yang ditunjukkan oleh Putri, tetapi dia lupa dengan nama barang tersebut. Bagaimana bisa ingat sebab yang ditunjukkan oleh Putri adalah perkakas dapur dan Aldi tidak begitu tahu dengan alat-alat dapur.


"Tuh kan Kak Aldi tidak bisa melihat dengan jelas. Jangan-jangan yang itu juga salah lihat."


"Enak aja kamu Put, Kak Aldi tidak rabun tahu. Nih mata masih jernih dan bisa melihat dengan jelas meskipun dari jarak jauh. Kamu kira mata Kak Aldi mata tua apa," protes Aldi.


"Ih sekarang bukan cuma yang tua Kak Aldi yang tidak bisa melihat yang muda juga sama saja. Apalagi karena pengaruh gadget yang sudah merajalela bahkan sekarang anak kecil pula banyak yang minus atau rabun matanya."


"Iya sih tapi kalau Kak Aldi nggak lah Putri. Jangankan barang yang kamu pegang kaos dalam yang kamu pakai pun Kak Aldi bisa melihat."


Mendengar perkataan Aldi, Putri tampak kaget, syok dan malu secara bersamaan. Wajahnya sekarang tampak memerah seperti kepiting rebus saja.


"Itu namanya bukan mata jernih lagi tapi mata tembus pandang," ucap Putri sambil cemberut.


"Merah muda kan warna kaos dalam mu?" Aldi semakin menggoda Putri membuat wajah Putri dua kali lipat lebih merah dari tadi.


"Ih Kak Aldi ngeres malah ngintip kaos dalam ku," Putri terlihat ngambek.


"Ih siapa yang ngintip, dari sini saja kelihatan tuh warna kaos dalam mu sebab hem yang kamu pakai warna putih. Ya kalah lah warna baju luar mu dengan warna baju dalam mu," jelas Aldi panjang lebar agar Putri tidak salah paham lagi.


Putri segera memeriksa bajunya. Ketika melihat warna merah muda memang mendominasi, Putri malah cengar-cengir sendiri.


"Ah iya, aku baru sadar," ucap Putri cengengesan.


Aldi hanya mengangguk.


"Oh ya Kak sekarang ini apa?" Putri mengingat lagi akan benda yang dipegang di tangan kanannya.


"Astaga masih mau mengetes Kak Aldi?" tanya Aldi heran.

__ADS_1


"Iyalah, Kak Aldi harus bisa menebak baru Putri percaya bahwa Kak Aldi tidak rabun." Gadis itu ngotot kembali.


"Hmm, baiklah. Itu namanya apa ya?" Aldi tampak berpikir keras.


"Ayo apa?"


"Oh aku ingat, itu spatula, kan?" Antara menebak dan bertanya beda tipis.


"Yee, benar," ucap Putri sambil berjingkrak-jingkrak senang.


"Dasar bocah," ucap Aldi heran dengan sikap Putri yang masih tampak kekanak-kanakan.


"Kalau yang ini apa?" tanya Putri lagi sambil menunjuk benda yang dipegang oleh tangan kirinya.


"Itu garpu," jawab Aldi enteng. Siapa yang tidak tahu garpu. Anak kecil aja pasti tahu kalau ditanyakan benda itu.


"Oke, Kak Aldi lulus ujian," ucap Putri membuat Aldi hanya geleng-geleng kepala saja.


Sukses menguji penglihatan Aldi akhirnya Putri kembali ke sisi Aldi dan ikut duduk.


"Berarti mimpiku selama ini benar Kak," ucap Putri. Wajahnya yang dari tadi ceria kini terlihat sendu.


"Iya Kak, bukan cuma satu dua kali Putri bermimpi buruk tetapi, hampir setiap malam Putri bermimpi akan hal itu."


"Mimpi buruk apa?" tanya Aldi penasaran.


"Itu loh Kak Aldi, saya bermimpi bahwa saat karyawan bekerja di pabrik pengolahan petis pas pada proses merebusnya selalu ada karyawan yang seolah masuk ke dalam air yang direbus itu. Air yang di rebus itu seolah mempunyai magnet sehingga menarik salah satu karyawan ke dalam air yang mendidih tersebut dan karyawan tersebut ikut mendidih di dalamnya sampai hancur tak bersisa."


Cerita Putri cukup membuat Aldi terhenyak.


"Apakah cerita Putri itu memang adalah sebuah pertanda bahwa pabrik itu menggunakan cara yang tidak sehat?" tanya Aldi dalam hati.


"Putri berpikir pemilik pabrik itu melakukan pesugihan hingga akan memakan tumbal karyawannya sendiri. Namun, dugaan Putri tidak pernah terbukti sebab tidak ada kecelakaan kerja sekalipun di sana, jadi Putri abai dan tidak pernah mengatakan pada orang lain ataupun pada orang tua sendiri. Namun, melihat ekspresi Kak Aldi saat berada di sana Putri jadi curiga kembali," jelas Putri.


"Dan ternyata mimpimu memang benar cuma dengan versi yang lain. Bukan karyawan yang masuk ke dalam sana, tetapi mayat orang lain."


"Dan itu lebih menjijikkan lagi Kak. Kasihan orang-orang yang telah mengonsumsi petis buatan pabrik tersebut. Mereka tidak sadar telah menjadi kanibal." Putri bergidik ngeri.


"Untung Putri dan juga ayah sama ibu tidak pernah makan petis buatan pabrik itu meskipun ibuku adalah salah satu pekerja di sana. Mulai besok Putri akan melarang ibu bekerja saja." Gadis itu berkata dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Yakin nggak pernah makan?" tanya Aldi tidak percaya. "Kalau beli dipasaran kan kamu tidak dapat menebak itu buatan pabrik mana."


"Yakin Kak, orang Putri dan ibu tidak pernah beli. Kemarin-kemarin bibi kan juga memproduksi petis dan juga menjualnya. Namun, karena cuma usaha rumahan hasilnya tidak seberapa dan kalah harga sama pabrik itu. Kata orang-orang yang pernah merasakannya kalah aroma juga." Putri seperti mau mual saat dirinya mengingat bahwa dia hampir saja makan petis itu kalau saja sendok yang dipegangnya tidak dijatuhkan oleh Aldi. Dalam hati bersyukur Aldi berinisiatif menjatuhkan sendok di tangannya itu.


"Sekarang bibimu masih juga berproduksi?"


"Tidak lagi padahal dulu Putri selalu dikasih sebab ibu dan Putri selalu membantu."


"Wah sayang ya padahal yang harus dikembangkan seharusnya usaha bibimu itu yang lebih jujur dibandingkan pemilik pabrik itu yang bukan hanya curang tetapi biadab."


"Ya seharusnya begitu, tetapi mau gimana lagi kecuali kalau pemilik pabrik itu sudah ketahuan busuknya. Kak Aldi bongkar dong semuanya, kasihan dong orang-orang yang telah mengonsumsi hasil dari produksi di pabrik itu."


"Tidak semudah itu Put, kita harus mencari bukti dulu biar tidak dibalik dengan tuntunan pencemaran nama baik."


Putri mengangguk membenarkan ucapan Aldi.


"Oh ya Kak, teman kakak sudah ditemukan?" tanya Putri mengingat Aldi tadi mengatakan tidak sengaja bertemu orang yang telah melakukan hal yang aneh dan bejat itu saat melakukan pencarian terhadap Tata sahabatnya.


"Belum," jawab Aldi dengan suara lemah sebab ketika mengingat Tata dia seperti tidak berdaya. Dia bingung akan mencari kemana.


"Kapan Kak Aldi rencananya akan mencari sahabat kakak itu lagi?" tanya Putri penasaran.


"Entahlah Put, Kak Aldi bingung harus mencari kemana."


"Ayolah semangat Kak Aldi, memang tidak ada jejak begitu? Nanti Putri bantuin deh cari Mbak Tata itu." Putri menawarkan diri.


"Jangan Put, kamu itu perempuan dan masih kecil lagi. Kak Aldi tidak mau membawamu dalam bahaya," larang Aldi. Dia tidak mau lebih repot lagi. Bagaimana kalau sampai Tata belum ditemukan malah Putri juga menghilang. Aldi tidak mau ambil resiko. Dia juga tidak mau dimarahi oleh Pak Hasan dan Bu Hasan kalau sampai terjadi sesuatu pada diri anak gadisnya.


"Ah Kak Aldi tidak asyik, mau dibantu malah tidak mau," ucap Putri cemberut.


Tiba-tiba mereka melihat orang beramai-ramai lewat di hadapan rumahnya.


"Ada ya Put, kok jadi ramai begini?"


"Entahlah Kak, Putri juga tidak tahu. Putri ke sana dulu ya untuk bertanya." Putri menunjuk orang yang berbondong-bondong lewat di depan rumahnya dan Aldi hanya mengangguk.


"Ada apa gerangan?" gumam Aldi penasaran.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2