
"Tidak itu tidak mungkin. Aku harus kembali ke alamku," ucap Tata dengan ekspresi panik.
"Kau tidak akan pernah bisa kembali kecuali aku sendiri yang mengantarmu," ucap sundel bolong itu dengan suara yang besar dan membulat lalu tertawa melengking memenuhi seluruh ruangan.
"Tidak, aku harus kembali kumohon lepaskan aku. Aku tidak bersalah, aku tidak pernah melakukan yang kami tuduhkan," jelas Tata lagi lalu mulai menangis. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
"Cup-cup-cup anak manis kamu tidak boleh menangis karena ibu akan selalu ada di sampingmu," ucap sundel bolong itu sambil mengelus-elus bahu Tata sehingga membuat Tata semakin menangis kenceng.
"Mimpi apa aku semalam hingga aku harus seperti ini bahkan keadaaanku sekarang miris melebihi mimpi buruk," batin Tata.
"Hiks ... hiks ... hiks, aku ingin pulang," rengek Tata mulai menjadi anak manja lagi.
Melihat Tata semakin menangis sundel bolong itu menyingkap baju di bagian dadanya sendiri lalu mengeluarkan buah dadanya dan mencoba untuk menyusui Tata.
"Jangan menangis terus, minumlah air susuku biar kamu tidak habis lagu," ucap makhluk itu sambil menggesekkan buah dadanya ke mulut Tata.
Tata meringis, bau anyir terendus di hidungnya. Segera Tata menutup hidung dengan Tangan yang satu dan tangan yang lainnnya membekap mulutnya sendiri agar tidak dipaksa untuk menyusu dari makhluk aneh tersebut.
Makhluk itu tetap memaksa dengan menggesek-gesek terus sedangkan Tata masih menutup mulut dengan kuat sambil menggeleng tidak mau.
"Ayo saya yakin setelah kamu minum ini akan menjadi sehat dan kuat," rayu mahkluk tersebut.
"Aku tidak mau," ucap Tata masih dengan mulut yang ditutup.
"Kalau tidak mau kamu bisa kelaparan di sini." Sundel bolong itu memaksa dengan menarik tangan Tata dengan kuat.
"Aku tidak mau!" Tata terus saja memberontak. Dia tidak mau menjadi bayi setan setelah mengonsumsi asi dari makhluk aneh tersebut.
Melihat Tata tidak mau dan terus memberontak akhirnya sundel bolong itu berisiniatif mengambil sebuah wadah yang berbentuk seperti gelas lalu memeras air susunya ke wadah tersebut sebab akan sangat susah memberi asi secara langsung pada Tata.
"Dasar sundel bolong aneh, mau apa kamu sekarang?"
"Tidak mau apa-apa hanya ingin menghilangkan hausmu agar tidak rewel," jawab sundel bolong itu dengan entengnya.
__ADS_1
"Sudah kukatakan aku tidak haus." Tata bergidik ngeri sekaligus jijik melihat asi yang diperas masuk ke dalam gelas berwarna merah dengan aroma membusuk.
"Hoek, hoek." Belum apa-apa Tata sudah muntah bagaimana kalau sampai cairan itu benar-benar masuk ke dalam perutnya.
"Aku menyerah kalah," ucap Tata pada makhluk yang masih saja tampak fokus memeras asinya.
"Siapa yang bertanding? Kita tidak sedang mengikuti lomba," jawab sundel bolong itu.
"Maksudku apa yang akan aku lakukan untukmu agar kau bisa membebaskan diriku kembali ke alamku?" tanya Tata mencoba memberi penawaran.
"Hmm, kau tidak akan bisa melakukannya." Sundel bolong itu meremehkan.
"Cepat katakan aku akan berusaha mewujudkannya!" Tata begitu menggebu-gebu. Dalam kondisi seperti ini sikapnya berubah-ubah.
"Baiklah kalau begitu setiap hari kau harus mempersembahkan darah padaku," ucap sundel bolong itu menantang.
"Darah?"
"Ya darah."
"Kau yakin?" Sundel bolong itu tidak percaya.
"Ya mudah saja kalau aku bisa membawakan dirimu darah ikan atau darah ayam, mudah bukan?"
"Darah manusia bukan darah yang lain!" Bentak sundel bolong itu membuat Tata langsung terbelalak kaget hingga duduknya terpental ke belakang.
"Bagaimana sanggup? Jika sanggup akan aku lepaskan dirimu, tapi kalau kamu ingkar janji maka siapapun orang yang dekat denganmu akan menjadi tumbalnya.
"Apa?!"
Tata menjadi syok mendengar kata-kata sundel bolong itu. Dia pikir daripada orang lain yang menjadi korban biarlah dia saja yang berkorban. Menjadi anak angkat sundel bolong pun akan dia lakukan asal tidak harus menerima ASI darinya.
"Bagaimana setuju?"
__ADS_1
Tata menggeleng lemah membuat sundel bolong itu tertawa renyah dan suara tawanya menggelegar memenuhi seluruh ruangan.
***
Di tengah laut Aldi dan Pak Hasan hanya termenung menopang dagu mereka menanti orang-orang yang akan menyelamatkannya.
"Dimana orang-orang ya Pak? Sebentar lagi keadaan akan semakin gelap. Apa iya kita akan bermalam di tengah lautan?" tanya Aldi dengan suara yang lemah dan putus asa.
"Tenang Nak Aldi kalau kata putri saya tadi orang-orang sudah bergerak ke sini. Saya sudah memberitahukan posisi kita berada sekarang."
"Semoga saja ya Pak," ucap Aldi dengan penuh harap. Jujur Aldi tidak pernah naik perahu sebelumnya. Dia tidak bisa membayangkan bahwa dirinya akan menginap di laut dalam perahu kecil seperti itu dan dalam keadaan perahu macet.
"Ini Nak Aldi kamu makan dulu. Saya lihat bibirmu itu pucat pasti kamu kelaparan dan kedinginan, bukan? Sepotong roti mungkin cukup untuk pembakaran dalam tubuh." Pak Hasan mojodorkan roti ke tangan Aldi.
Aldi ragu untuk menerimanya. "Terus bapak makan apa?"
"Kamu tenang saja tidak perlu memikirkan bapak. Bapak sudah terbiasa seperti ini. Saat mengalami macet seperti ini bapak pernah tidak makan selama 2 hari 2 malam sebelum akhirnya ditemukan oleh nelayan yang lainnya."
Aldi hanya mengangguk lalu menerima roti tersebut dari tangan Pak Hasan.
"Terima kasih Pak," ucap Aldi sambil membuka plastik yang membungkus roti. Diam sebentar untuk berdoa dalam hati lalu memakan roti tersebut dan mengunyahnya.
"Bagi dua ya Pak?" Aldi menawarkan pada Pak Hasan lagi, merasa tidak enak jika hanya makan seorang diri.
"Tidak usah habiskan saja semuanya bapak masih kenyang," bohongnya.
Aldi mengunyah roti dengan lahapnya. Memang jika makan di tengah laut akan terasa dua kali nikmatnya dari makanan yang kita santap di darat meskipun menunya sama. Bahkan mungkin bukan hanya dua kali, tiga kali lebih nikmat pun bisa jadi. Siapapun yang tidak percaya bisa mencoba tidak hanya di tengah laut di bibir pantai pun juga bisa. Ternyata makan di laut itu bisa meningkatkan selera makan kita. Bisa dicoba saat kita sedang tidak nafsu makan sepertinya akan berhasil.
"Terima kasih Pak," ucap Aldi lagi.
Pak Hasan hanya mengangguk lalu menatap ke atap langit yang semakin gelap saja. Dalam hati sebenarnya khawatir takut orang-orang tidak gerak cepat dalam menjemputnya. Kalau dirinya sih memang sudah biasa bermalam di laut, tapi yang dia khawatirkan adalah Aldi yang tidak pernah melaut sekalipun. Apalagi dia adalah orang kota yang katanya tidak pernah berpetualang kemanapun. Pak Hasan khawatir anak itu akan masuk angin dan jatuh sakit.
"Pak itu dia Pak, mereka sedang menuju kemari!" teriak Aldi dengan girang sambil menunjuk dua perahu yang mengarah ke tempatnya duduk padahal dalam mulutnya roti yang dikunyah nya belum ditelan seutuhnya.
__ADS_1
Bersambung.