
"Sepertinya iya, ayo segera kita lihat!"
Mereka pun berlari di tengah kegelapan malam sebab senter yang mereka bawa entah tertinggal di mana. Penerangan yang mereka andalkan kini hanya dari lampu ponsel semata.
"Awas pelan-pelan kita memasuki area pekuburan lagi. Takut penghuni kuburan ini terganggu dengan derap langkah kaki kita ya berbunyi sedikit keras." Pak Hasan menghimbau semua orang.
Semua orang pun mengangguk dan mulai berjalan seperti biasa.
"Hei tunggu!" Dari arah belakang mereka terdengar suara seorang wanita yang berteriak.
"Siapa?" tanya Pak Amir sambil meraih tangan Putri agar mengarahkan senter ponsel ke arah belakang mereka berdiri.
"Sepertinya aku mengenal suaranya," ujar Aldi.
"Tata mana?" tanya Topan.
Semua langkah terdiam. Mereka langsung menoleh bersamaan ke arah belakang.
"Tata," ucap Aldi kaget melihat Tata berlari ke arahnya dengan berjalan sedikit menjinjit.
Semua orang tidak meneruskan langkah mereka, melainkan menunggu Tata sampai gadis itu tiba di samping mereka terlebih dahulu.
"Kenapa jalannya seperti itu Ta?" tanya Aldi penasaran melihat sahabatnya itu berjalan dengan cara yang tidak biasa.
"Tega kamu Al, masa ninggalin aku sendirian sih!" protes Tata dengan muka yang cemberut dan ditekuk.
"Mana sadar aku kalau kamu ketinggalan Ta. Kamu ngapain juga sih nggak ngikutin kami yang lari dari tadi. Aku pikir kamu sudah ada di belakang kami."
"Iya memang ada di belakang kalian, tapi di belakang yang jauh jaraknya," ucap Tata sewot.
"Lagian Mbak Tata kenapa sih bisa ketinggalan? Emang apa yang Mbak Tata kerjain di sana, masih penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Bu Kunti?" Putri menyambung pembicaraan antara kedua sahabat itu.
"Hehe iya," ujar Tata cengengesan sebab memang benar apa yang dikatakan oleh Putri.
"Direkam nggak Mbak?" tanya Putri penasaran.
__ADS_1
"Beres," ucap Tata sambil menunjukkan cari jempolnya ke hadapan Putri.
"Ya sudah ayo jangan banyak bicara. Kita harus beranjak dari tempat ini karena ada kebakaran di depan sana dan bapak ingin melihatnya secara langsung," ucap Pak Hasan agar mereka melanjutkan langkah mereka dan tidak berhenti hanya sekedar membicarakan omong kosong semata.
Semua orang mengangguk dan langsung melangkahkan kaki mereka untuk berjalan ke arah pabrik betis yang sekarang hanya terlihat api yang berkobar dari bangunannya.
Sementara yang lain berjalan Tata malah duduk berjongkok sambil meringis, rasa-rasanya kakinya sudah tidak kuat berjalan sebab tadi dari atas pohon dia terjatuh dan kakinya mengalami cedera.
"Ayo Ta cepetan! Kamu mau ditinggal lagi?" protes Topan yang melihat Tata malah tidak bersemangat untuk berjalan.
"Kakiku sakit Pan, aku tidak bisa berjalan lagi," rengek Tata sambil memijat kakinya.
Mendengar ucapan Tata, Aldi yang berjalan terlebih dahulu akhirnya berhenti dan menoleh. "Beneran nggak bisa jalan?" tanyanya pada Tata memastikan.
"Iya Al masa aku bohong sih. Kapan aku pernah bohong sama kalian?"
"Ya sudah kalau begitu biar saya gendong saja," ucap Aldi lalu hendak meraih tubuh Tata untuk digendongnya.
"Jangan ah kau masih belum terlalu pulih pasca pingsan tadi!" Tata terlihat khawatir, takut-takut terjadi sesuatu pada Aldi jika dipaksa untuk menggendong tubuhnya yang mungkin terasa berat saat ini.
"Ah nggak apa-apa aku sudah sehat kok," ucap Aldi begitu percaya diri lalu dia segera menggendong tubuh Tata.
Semua orang pun mengangguk untuk kesekian kalinya lalu berjalan dengan tergesa-gesa menuju pabrik praktis, sedangkan Putri tampak cemberut melihat. Tata dalam gendongan Aldi. Dia berpikir Tata hanya mencari kesempatan dalam kesempitan saja agar mau digendong anak Aldi.
Sepanjang perjalanan Putri tidak bicara Gadis itu hanya sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Cepetan Put! Kok langkah kamu semakin lama malah semakin lambat sih?" protes Pak Amir sebab memang Putri benar-benar terlihat lemah saat ini hanya untuk bergerak saja seolah tidak ada tenaga.
"Kalau capek ayah gendong." Sang ayah menawarkan diri.
"Nggak lah Yah Putri masih kuat berjalan sendiri kok." Terpaksa memaksakan diri agar bersemangat berjalan kaki. Sedari kecil ayahnya memang suka mengajarkan Putri agar selalu mandiri.
Beberapa saat berjalan akhirnya mereka semua sampai di belakang gedung pabrik petis. Di sana ternyata sudah banyak orang-orang berkerumun menyaksikan kobaran api yang membubung tinggi. Beberapa orang tampak berlari sambil menyiramkan air pada kobaran api itu. Berbagai macam cara pun sudah dilakukan warga untuk meredam api tersebut. Namun, tindakan mereka tidak berhasil sama sekali karena dalam sekejap bangunan sudah rata dengan tanah akibat terlalap si jago merah yang begitu ganas.
"Sudah, kita pulang!" Orang-orang mengajak yang lainnya agar kembali ke rumah masing-masing sebab api sudah padam.
__ADS_1
"Iya ayo, yang penting api tidak menjalar kemana-mana. Rumah kita aman. Lagipula siapa suruh Pak Langsa tidak datang ke sini malah kami yang repot-repot mau menyelematkan pabriknya dan pemiliknya sendiri malah tenang-tenang saja," protes seorang harga yang tidak tahu apa-apa mereka pikir Pak Langsa tidur nyenyak di dalam rumahnya saat ini.
"Iya ayo balik."
Mereka semua pun melangkah meninggalkan tempat ini.
"Alhamdulillah ya Yah satu masalah sudah kelar," ucap Putri begitu bersyukur dengan keadaan pabrik itu sekarang.
"Iya Put semoga nanti kalaupun ada yang membangun pabrik lagi bisa amanah dan dapat dipercaya. Bukan seperti Pak Langsa yang melakukan pesugihan seperti ini," sambung Pak Hasan.
"Ya sudah sekarang kita pulang dulu. Istirahat dan besok kita akan membicarakan tentang target selanjutnya. Masalah Pak Bakri belum kelar, bukan?"
"Iya."
"Pak! Pak!" Bu Hasan berlari-lari ke arah suaminya.
"Ada apa? Ibu baru tahu kalau pabrik ini kebakaran? Sudahlah Bu lebih baik ibu bekerja yang lainnya saja daripada harus bekerja di pabrik yang tidak benar ini," saran Pak Hasan. Dia pikir istrinya sedang sedih sekarang sebab tempatnya bekerja sudah tidak ada lagi.
"Bukan itu Pak, bukan," ucap Bu Hasan dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Kenapa Bu, apa terjadi sesuatu pada Lisa?" Topan khawatir karena telah meninggalkan kekasihnya itu hanya berdua saja dengan Bu Hasan di rumahnya.
bukan di sana topan tapi bulan sah ucap Bu Hasan dengan tubuh yang gemetaran.
"Ada apa sih Bu? Ibu kok sepertinya ketakutan seperti ini?" tanya Pak Hasan penasaran dengan sikap istrinya yang seperti orang dikejar hantu saja.
"Benar Pak, ibu benar-benar takut. Tadi saat ibu mendengar pabrik petis ini kebakaran ibu langsung berlari untuk memberitahukan kepada Bu Langsa, tetapi sampai di sana ...."
"Ada apa Bu? Apa yang terjadi di sana? apa Bu Langsa pingsan mendengar berita ini?" tanya Pak Hasan sambil memegang pundak Bu Hasan agar lebih tenang.
"Bukan Pak bukan, tapi ibu melihat Bu Langsa dicekik oleh makhluk yang memakai pakaian panjang berwarna putih dengan rambut terurai panjang. Saat ibu sampai di dekat Bu Langsa ternyata wanita itu sudah tidak bernyawa. Ibu takut Pak, ibu takut," ujar Bu Hasan dengan wajah pucat dan bibirnya gemetar karena menahan rasa takut dengan apa yang dilihatnya tadi.
"Benarkah? Apakah itu kuntilanak yang kita lihat tadi yang telah membunuh Bu Langsa?" tanya Aldi tidak percaya.
"Bisa saja," jawab Pak Amir.
__ADS_1
"Baiklah lebih baik kita sekarang langsung ke rumah Pak Langsa untuk melihat keadaan Bu Langsa dan putri-putrinya," usul Pak Hasan yang disetujui oleh semua orang yang masih berada di tempat itu.
Bersambung.