Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 68. Peringatan Kakek Tua


__ADS_3

Matahari mulai nampak samar-samar di ufuk timur dan saat itulah para warga laki-laki di tempat itu mulai berani untuk berangkat ke pemakaman untuk menggali kuburan buat Bu Langsa dan juga putrinya Ningsih.


Para wanita pun sudah sejak subuh tadi berkecimpung di dapur, memasak untuk diberikan kepada semua orang yang telah membantu dalam proses pemakaman Bu Langsa dan putrinya. Ada juga yang membantu memandikan dan mengkafani dua jenazah ini di halaman rumah.


Tidak ada keanehan seperti semalam di dapur sehingga membuat ibu-ibu menjadi bisa memasak dengan tenang.


Beberapa jam berlalu akhirnya mayat Bu Langsa dan Ningsih sudah selesai disucikan dan dikafani juga dishalatkan.


Kini orang-orang hanya menunggu kabar dari makam saja apakah sudah selesai ataukah belum penggaliannya.


Seorang lelaki tampak berlari-lari dan memberikan kabar pada warga bahwa kuburan untuk kedua jenazah sudah siap.


Warga langsung menggotong mayat Bu Langsa terlebih dahulu menuju pemakaman karena keranda mayat di tempat itu hanya satu saja. Setelah pemakaman terhadap Bu Langsa selesai barulah mereka kembali lagi ke rumah dan membawa tubuh Ningsih untuk dimakamkan di samping sang ibu.


Pemakaman selesai, akhirnya warga bisa bernafas lega. Seorang ibu paruh baya tampak membagikan nasi bungkus yang sempat dimasak oleh para ibu-ibu di dapur Bu Langsa sedari tadi pagi.


Semua warga beranjak dari pemakaman untuk pulang ke rumah masing-masing. Sambil berjalan, mereka masih saja menceritakan kejadian aneh yang semalam mereka lihat.


Di kuburan hanya menyisakan Pak Hasan, Bu Hasan, Putri dan juga Aldi bersama Topan dan Tata yang menemani Nirmala yang seakan enggan untuk meninggalkan makam ibu dan adiknya itu.


Nirmala masih terlihat duduk berjongkok sambil menangis sesenggukan. Dia berbicara panjang lebar dan bertanya pada ibunya yang sudah menjadi penghuni kuburan itu apa yang akan dilakukan dirinya pasca kehilangan orang tua dan saudaranya dengan air mata yang seakan tidak mau berhenti mengalir.


"Aku takut Bu jika harus tinggal sendirian di rumah." Begitulah curhat terakhir Nirmala pada ibunya itu.


Bu Hasan mendekat, mengusap-usap bahu Nirmala dan menenangkan gadis itu.

__ADS_1


"Neng Nirmala bisa tinggal bersama Putri di rumah kami."


"Bolehkah Bu?" tanya Nirmala tidak percaya Bu Hasan menawarkan itu semua. Dia benar-benar takut jika harus kembali ke rumahnya sendiri apalagi harus tinggal sendirian.


"Iya kamu akan ibu anggap seperti anak ibu sendiri. Mau ya jadi anak ibu?" Bu Hasan tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan Nirmala tinggal seorang diri di rumah orang tuanya apalagi kala mengingat kejadian aneh yang terjadi di rumah Bu Langsa membuat Bu Hasan khawatir akan terjadi sesuatu juga dengan gadis itu.


Dengan air mata yang masih bercucuran, Nirmala mengangguk sambil tersenyum.


"Terima kasih Bu."


"Iya. Ayo sekarang kita pulang," ajak Bu Langsa sambil menggenggam tangan Nirmala. Nirmala pun menurut dan ikut bersama keluarga Bu Hasan dan juga teman-teman Aldi pulang ke rumah Bu Hasan.


"Aldi!" Saat Aldi hendak melangkahkan kaki untuk menyusul teman-temannya kakek yang tadi sempat menolong Bu Hasan agar tubuhnya bisa kembali seperti semula muncul lagi padahal pria ini tadi menghilang begitu saja selama proses memandikan sampai menguburkan.


"Tugasmu sudah hampir selesai, tetapi berhati-hatilah karena kuntilanak itu tidak akan berhenti mengganggu kalian semua sebelum keturunan dari Pak Langsa musnah semuanya. Satu hal jagalah dengan baik temanmu yang bernama Lisa itu karena dirinya berpotensi diganggu makhluk tersebut." Kakek itu memberikan peringatan.


Aldi terhenyak mendengar nama Lisa yang disebut. Apa kesalahan Lisa sehingga Kakek tersebut menyatakan demikian?


"Terus apa yang akan kami lakukan agar makhluk itu pergi dari daerah ini atau mungkin saja bisa dimusnahkan?"


"Hanya kiai Asmat yang bisa menolong kalian semua maka carilah pria itu agar kalian bisa memusnahkan makhluk jahat itu."


"Kiai Asmat? Siapa dia dan dimana keberadaannya sekarang ini?" tanya Aldi penasaran.


"Tanyalah pada orang kampung siapa dia dan yang jelasnya beliau sedang terjebak di dunia lain." Sontak Aldi kaget mendengarkan informasi dari kakek tersebut.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Kembalilah tinggal di rumah Pak Bakri dan dari sana kamu bisa mengungkap segala misteri yang membuat orang-orang hilang tanpa jejak."


Aldi terpaku sesaat. "Apa maksudnya ini?"


Ketika hendak bertanya lagi ternyata pria tua yang berdiri di hadapannya sedari tadi malah menghilang.


"Kek! Kek! Dimanakah dirimu!" teriak Aldi.


Ada yang menepuk pundak Aldi membuat lelaki itu kaget dan langsung menoleh.


"Eh kamu bicara dengan siapa sedari tadi?" tanya Topan yang melihat Aldi sedari tadi hanya bicara seorang diri. Sejak menyadari Aldi sudah tidak berjalan di sisinya Topan berbalik dan melangkahkan kakinya kembali mendekat pada Aldi.


"Dengan kakek yang tiba-tiba muncul di rumah Bu Langsa tadi," jawab Aldi.


"Tapi kenapa aku tidak melihat dia tadi? Yang kulihat kamu hanya bicara ngawur saja sendirian," protes Topan.


"Ayolah Al meskipun kita tinggal di desa yang penuh keanehan ini kita harus tetap menjaga kewarasan otak kita," imbuhTopan.


"Terserah kalau kamu tidak percaya, tapi satu hal yang harus kamu ingat, jaga Lisa baik-baik kalau tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padanya!"


"Akh kamu seperti pria indigo saja," keluh Topan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2