
"Tuh kan, nih anak kayak tahu semuanya," batin Aldi lagi.
"Kak Aldi kenapa sih memandang Putri seperti itu," protes Putri pada Aldi.
"Tidak ada apa-apa kok Put," sahut Aldi berbohong.
"Kak Aldi kalau memang sakit kita pulang saja yuk biar Putri nanti bikinin teh hangat agar Kak Aldi tidak mual-mual lagi."
"Gak usah deh Put, Kak Aldi tidak ingin merepotkan Putri, lagipula Kak Aldi masih ingin melihat proses pembuatan petis di pabrik ini. Kalau Kak Aldi belum dapat ilmu Kak Aldi tidak mau pulang," ujar Aldi masih saja ngotot padahal kepalanya sudah terasa pusing sedari tadi.
"Biar nanti Putri minta tolong salah satu dari pekerja di sini untuk memvideokan kegiatan pembuatan petis dan nanti Putri akan kasih videonya pada Kak Aldi."
Aldi menggeleng tidak mau, dia tidak puas kalau hanya melihat melalui video. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri proses pembuatan petis di pabrik ini.
"Baiklah kalau Kak Aldi ngotot tidak mau pulang, tapi Putri tidak tanggung jawab loh kalau Kak Aldi sampai sakit hanya gara-gara mual-mual terus mengendus bau amis dari air ikan tersebut," ucap Putri sok ngancam.
Aldi hanya menjawab ucapan Putri dengan anggukan.
"Yuk masuk lagi Put aku ingin melihat dan merekam sendiri cara pembuatannya."
"Oke," jawab Putri lalu masuk terlebih dulu disusul Aldi di belakangnya.
Mereka berdua menyaksikan perebusan dari awal di mana masih berupa air yang amis hingga penambahan bahan-bahan sampai mengental menjadi petis.
"Waw sudah jadi ya Put?" tanya Aldi, puas sudah mengetahui cara pembuatannya.
"Ya begitulah Kak, amisnya tadi sudah berubah aroma menjadi harum sekali, bukan?" Putri mengambilnya sendok dan sedikit menyendok petis tersebut sambil meniup-niup.
"Ngapain kamu?" tanya Aldi heran dengan kelakuan Putri.
"Aku tidak tahan Kak ingin mencicipi rasanya karena sangat menggugah selera ini." Putri terus meniup-niup petis yang ada di tangannya.
Putri tidak salah, kalau Aldi tidak melihat hal semalam pasti pria itu juga ingin sekali merasakan nikmatnya petis di hadapannya. Pasti Aldi akan langsung mengajak Putri untuk rujakan melihat tadi ada buah mangga yang bergelantungan di pohon mangga milik Pak Hasan di rumahnya. Namun, karena melihat hal menjijikkan semalam Aldi jadi sama sekali tidak berniat walaupun hanya sekedar mencicipinya.
"Kak Aldi mau?" Sebelum memasukkan ke dalam mulutnya sendiri terlebih dahulu Putri menawarkan dan mendekatkan sendoknya pada bibir Aldi.
Tubuh Aldi merinding lalu tanpa sadar mengibaskan tangannya sehingga sendok yang dipegang Putri jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Ih Kak Aldi kalau tidak suka biasa saja kali, tidak usah sewot seperti itu," protes Putri dengan ekspresi cemberut. "Orang Putri susah-susah lagi niupnya dari tadi main dijatuhkan saja," imbuhnya.
"Sorry Put tadi kakak kaget habisnya kamu ngangetin saja sih." Aldi ikut protes.
"Sudah Put gitu aja ngambek, kan bisa ambil yang lain," protes seorang pekerja juga.
"Ogah ah males niup lagi." Putri cemberut.
"Ih adik Putri yang manis kalau kamu ngambek seperti ini kecantikanmu jadi hilang," goda Aldi.
"Eh jadi aku cantik ya Kak?" Putri senang sekali dikatakan cantik oleh Aldi.
"Bukan cantik, tapi imut," ucap salah seorang pekerja perempuan di tempat itu. Setelah mengatakan hal itu perempuan itu tertawa-tawa sendiri dan yang lainnya malah ikut tertawa.
"Putri, Putri," ucap mereka.
"Emang aku boneka Barbie apa, dikatakan imut segala."
"Iya deh kamu cantik dan imut. Yuk pulang!" ajak Aldi pada Putri.
Aldi menurut. Mereka langsung pamit pada Bu Hasan.
"Bu, kami pulang duluan ya Bu," pamit Putri pada ibunya.
"Iya, hati-hati kalian ya," sahut Bu Hasan.
"Iya Bu," jawab Aldi.
Mereka pun meninggalkan bangunan itu dengan berjalan kaki. Setelah sampai di depan rumah Pak Hasan mengajak Aldi untuk singgah sebentar.
"Ayo mampir lagi Kak, biar Putri bikinkan teh dulu."
"Nggak usah deh Put, di rumahmu nggak ada orang, Kak Aldi takut timbul fitnah. Berabe nih jadinya kalau sampai kita diarak keliling kampung," ucap Aldi sambil terkekeh. Dia pernah mendengar cerita temannya yang juga berasal dari kampung, tetapi bukan kampung ini bahwa dirinya langsung digerebek saat pacaran dengan kekasihnya di dalam rumah si wanita saat rumah dalam keadaan kosong. Mereka langsung didesak untuk dinikahkan dan kalau tidak mau diancam akan diarak keliling kampung.
"Itu kalau berbuat mesum Kak. Kalau nggak mana mungkin diarak," sanggah Putri.
"Iya sih cuma kan katanya kalau laki-laki sama perempuan duduk berduaan saja maka ditengah-tengahnya akan ada se...tan...," ucap Aldi dengan suara yang membulat menakut-nakuti Putri.
__ADS_1
"Ih Kak Aldi ah malah ngomongin setan. Putri kan jadi takut sendirian di rumah," rengek Putri sambil bergelayut di lengan Aldi karena memang benar-benar takut.
"Kenapa harus takut sih, gitu doang."
"Pokoknya Kak Aldi nggak boleh pulang sebelum ayah sama ibu kembali. Ini gara-gara Kak Aldi. Putri kan jadi takut." Gadis itu terlihat mau menangis.
Aldi menghela nafas berat. Menyesal tadi dia menakut-nakutinya Putri. Padahal hanya bercandaan saja.
"Baiklah Kak Aldi temani Aldi di sini. Biasanya ibu dan Pak Hasan pulang jam berapa?" tanya Aldi ingin mereka-reka kira-kira berapa lama dia harus tertahan di rumah Putri.
"Kalau ayah nggak bisa di prediksi sebab kan cari orang yang hilang. Nggak tahu baliknya kapan. Kalau ibu biasanya dhuhur baru pulang."
"Oh oke, kalau begitu Kak Aldi akan tungguin kamu sampai ibu datang."
"Oke siap." Muka Putri jadi ceria kembali.
"Tapi Kak Aldi tunggu di teras saja ya untuk menghindari fitnah," ujar Aldi.
"Baik Kak, tidak apa-apa yang penting Kak Aldi tidak meninggalkan Putri," ucap Putri dengan senyum yang merekah kembali.
Aldi mengangguk dan duduk di kursi sedangkan Putri masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian gadis kecil itu keluar dengan sebuah tikar di tangannya. Setelah sampai di samping Aldi dia menghamparkan tikar tersebut di atas lantai.
"Biar Kak Aldi tidak sakit pinggang duduk terus mending nungguin Putri sambil tiduran."
"Hemm." Aldi mengangguk.
Putri pun ikut mengangguk kemudian kembali ke dalam lagi. Sekarang dia kembali dengan sebuah bantal di tangannya.
"Kak Aldi tiduran dulu gih, biar Putri buatkan teh hangat dulu."
"Nggak usah repot-repot Put mending kamu istirahat saja di dalam. Kamu tenang saja Kak Aldi tidak akan kabur kok."
"Nggak Kak, nggak repot kok dan Putri yakin Kak Aldi tidak akan ingkar janji," ucap Putri sambil berjalan meninggalkan Aldi menuju dapur yang ada di samping rumahnya.
Bersambung.
__ADS_1