Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 57. Satu Bukti


__ADS_3

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.00 malam semua orang sudah bersiap-siap di rumah Pak Hasan.


"Bagaimana sudah siap semuanya?" tanya Pak Hasan mengantisipasi apakah masih ada yang belum siap diantara semua orang yang hadir.


"Siap Pak," jawab mereka serempak.


"Alat-alat yang perlu kalian bawa sudah disiapkan semuanya?" tanya Pak Hasan lagi


"Beres Pak semuanya sudah siap."


"Oke kalau begitu sekarang kita langsung berangkat dari tempat masing-masing. Ingat sembunyi jangan sampai kalian ketahuan menguntit karena itu akan membuat rencana kita menjadi gagal."


"Insyaallah Pak kita akan selalu berhati-hati agar tidak ketahuan dan juga agar tidak ada bahaya yang menghampiri kami."


"Amin," ucap Pak Amir dan Pak Hasan.


"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang."


Semua orang tampak mengangguk. Setelah berpamitan pada Bu Hasan mereka langsung berangkat dan menuju tempat masing-masing yang sudah ditentukan.


Sebenarnya keinginanmu apa sih Put? Malah mengusulkan ikut dalam misi seperti ini." Tata mengalihkan perhatian dengan mengajak Putri berbicara padahal dirinya takut melihat pemandangan kuburan yang gelap dan suram.


"Nah Mbak Tata kalau nggak setuju mengapa malah menyambut baik keinginan Putri?" Putri pun tak kalah protes.


"Terpaksa karena tidak ingin Topan selalu mengejek kakak. Mentang-mentang dirinya pemberani dia selalu mengejek orang yang penakut," jawab Tata dengan ekspresi cemberut.


"Oh begitu toh alasannya. Bagus dong Kak jadi gara-gara Kak Topan Mak Tata nanti akan menjadi seorang wanita yang pemberani."


"Ogah, sebenarnya saya nggak mau ketemu kuntilanak itu lagi. Bagaimana kalau kuntilanak yang telah menyekap saya kemarin malam menemukan saya berada di sini dan menangkap lagi? Lagian apa gunanya coba para perempuan seperti kita ini ikut?" Tata bergidik ngeri mengingat kejadian kemarin malam di mana dirinya dipaksa untuk meminum air susu yang berbau anyir dari payudara kuntilanak tersebut.


"Memangnya kuntilanak itu ngapain saja sama Mbak Tata?" tanya Putri penasaran.


"Aku tuh mau dikekepin terus tahu sama dia, nggak boleh pergi ke mana-mana. Udah itu dipaksain minum ASI lagi, katanya dia akan menjadikan Mbak Tata itu anak angkat karena kebetulan pipi nggak Tata tembem kayak bayinya yang hilang," jelas Tata keadaan ekspresi tubuh yang terlihat jijik.


"Padahal asi yang keluar darinya adalah darah yang berbau anyir dan busuk. Siapa coba yang mau minum ASI kayak gitu, ASI manusia aja Mbak Tata nggak mau, apalagi kuntilanak. Emang Mbak Tata bayi apa," keluh Tata panjang lebar.


Putri malah tertawa mendengar cerita Tata.


"Kok kamu jadi tertawa sih Put? ih ngeselin," ucap Tata sambil cemburut dan menggerakkan kakinya di tanah.


"Jangan begitu Mbak kakinya, nanti yang ada dalam kuburan bangkit kalau Mbak berisik seperti itu." Putri mengingatkan membuat Tata langsung membeku sebab takut apa yang dikatakan Putri memang menjadi kenyataan.

__ADS_1


"Put itu apa sih?" Tata terlihat takut melihat sesuatu yang kecil mengeluarkan cahaya dari atas sebuah kuburan.


"Itu hanya kunang-kunang Mbak, kenapa harus takut?" Sambil berbicara Putri menangkap kunang-kunang itu dengan kedua tangannya.


"Nih lihat lucu, kan? Makhluk kecil ini berguna banget, mengeluarkan lentera di kegelapan malam." Putri melihat kagum pada kunang-kunang tersebut.


"Seperti manusia, meskipun kita merasa kecil dibandingkan dengan orang lain bukan berarti kita tidak berguna sedikitpun. Memberikan semangat pada orang lain yang membutuhkan pun sama halnya memberi lentera pada kehidupan orang lain yang membutuhkan."


Tata malah menggaruk-garuk kepalanya mendengar Putri malah berperan seperti seorang motivator.


"Eh itu-itu lihat Put!" Tata menunjuk seorang manusia yang berjalan mengendap-endap di sekitaran pekuburan. "Dia bukan Paman Hasan ataupun Paman Amir, kan Put?"


"Sepertinya memang bukan." Putri yang memang hafal dengan postur tubuh dan gesture atau cara Pak Amir dan Pak Hasan bergerak bisa memastikan bahwa orang yang berjalan jauh di depannya sana bukanlah ayahnya ataupun Pak Amir.


"Kalau begitu kita ikuti saja ya put!"


"Oke Mbak, ayo!" Putri menarik tangan Tata agar lekas bergerak mendekat ke arah pria itu.


"Put merunduk, sepertinya dia melihat ke arah kita! perintah Tata dan mereka berdua langsung sigap duduk menunduk dibalik sebuah kuburan.


Mereka berdua masih mengawasi pria itu dari balik batu nisan sebuah kuburan.


"Sepertinya dia tidak melihat kita, ayo Mbak ikuti lagi!"


"Sepertinya dia menuju gubuk kecil itu." Tata menunjuk gubuk kecil yang ada di bawah pohon yang batangnya sangat besar.


"Loh kapan gubuk itu ada?" Putri tampak heran melihat ternyata di bawah pohon itu ada gubug bambunya.


"Kau tidak tahu?" tanya Tata ikut heran.


Putri mengangguk.


"Tidak tahu kapan dibangun, hari Jumat yang lalu masih belum ada dan biasanya kalau ada yang bangun gubuk itu pasti Putri tahu sebab pasti ada warga yang akan melaporkan pada ayah."


"Ayahmu Pak RT?"


"Bukan Kak Pak RT nya di sini tuh Pak Bakri, cuma warganya lebih dekat dan banyak berembuk ke ayah kalau ada sesuatu yang penting sebab Pak Bakri kayak abai gitu sama laporan warga. Mereka memaksa ayah yang menjadi pak RT tapi ayah nolak katanya tidak enak sama beliau."


Tata hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Putri.


"Kak, Kak, itu ...." Putri menunjuk pada arah gubuk di mana diatasnya terbang asap putih yang mengepul.

__ADS_1


Tata terbelalak melihat ke arah yang ditunjuk Putri. Dia mengingat kejadian saat dirinya tersesat dua hari waktu itu. Keanehan seperti ini tidak asing lagi baginya meskipun masih belum bisa mengantarkan Tata pada keberanian menghadapi hal-hal yang diluar normal.


Kedua gadis itu menatap dengan tajam ke arah gubuk tersebut.


"Jangan lupa kameranya Mbak!" Putri memperingatkan Tata agar tidak Alpa bahwa mereka berdua sekarang sedang mencari bukti. Jadi setiap keanehan yang dilihat tidak boleh lepas dari rekaman.


Tampak asap putih itu menyentuh atap gubuk dan bersamaan dengan itu gubuk terbuka dan menampakkan sesosok pria itu dengan kumis tebal dan janggut menjuntai ke bawah dan semuanya berwarna putih, baik pakaian maupun kumis dan jenggotnya.


"Dia siapa?" tanya Tata sambil melihat dari arah kameranya.


"Saya juga tidak tahu," ucap Putri karena memang sebelumnya tidak pernah sekalipun melihat pria tua itu.


"Tidak pernah lihat?" tanya Tata lagi memastikan.


"Tidak Mbak tidak pernah lihat dia begitu asing bagi Putri."


"Oke sepertinya kita perlu mendekat Put sebab kita tidak bisa menguping pembicaraan mereka karena jaraknya yang begitu jauh," usul Tata dijawab anggukan setuju dari Putri.


"Ayo Kak kita mendekat," ajak Putri dan mereka berdua lalu berjalan dengan mengendap-ngendap lagi ke arah mereka.


Putri dan Tata mencari jarak yang aman. Namun, masih tetap bisa mendengar pembicaraan antara pria yang dibuntutinya tadi dengan pria tua berjanggut putih tersebut. Mereka berdua bersembunyi di balik pohon yang juga besar dan rindang dan sepertinya tempat mereka berdiri sekarang tidak bisa terlihat dengan jelas dari arah gubuk tersebut.


Sambil memperhatikan pembicaraan kedua orang aneh di depannya mereka sambil merekam kejadian tersebut.


"Put apa ini maksudnya?" tanya Tata tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mereka membicarakan tentang tumbal yang harus dikorbankan apabila pria yang duduk di hadapan pria berjangkut itu ingin terus menjadi orang kaya dan semua orang menurut kepadanya."


"Astaghfirullahaladzim jadi selama ini orang-orang yang hilang di laut dan tidak pernah kembali ulah pria itu." Putri menutup mulutnya kaget.


"Apa maksudmu Put?" tanya Tata lagi dia masih belum paham atau semuanya.


"Maksudnya Mbak nelayan yang hilang di tengah laut sedari dulu karena memang dijadikan tumbal oleh pria itu."


"Oh."


"Tunggu, tunggu! Sepertinya aku mengenal pria itu." Putri meraih ponsel di tangan Tata dan memperbesar gambarnya.


"Ya ampun dia kan Pak ...."


"Heh ngapain kalian di sini?" Sontak kata dan Putri langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu ...," ucap Tata dengan tubuh gemetaran.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2