
"Kalau awan beneran kenapa ikut berbalik saat arah perahu berbalik?"
"Hei anak muda kenapa bengong di situ? Kemarilah!" Seorang nelayan memanggil dirinya untuk mendekat.
Aldi mengangguk dan berjalan ke arah para nelayan yang sedang berkumpul di tengah-tengah perahu.
"Bapak merasa tidak ada yang aneh dengan awan itu?" tanya Aldi kepada satu nelayan yang ada di perahu tersebut."
"Aneh kenapa?" tanya seorang nelayan mendengar ucapan Aldi.
"Bapak lihat saja dari banyaknya perahu yang lari dari awan hitam itu, tetapi hanya perahu kita yang seakan diincar. Awan itu seakan mengejar kita kemanapun perahu ini melaju."
"Benarkah Nak Aldi? Saya coba untuk mengubah arah dulu ya?" tanya pemilik perahu penasaran dengan pernyataan Aldi.
"Jangan main-main Pak Hasan kalau kita salah mengambil langkah bahaya bisa terjadi pada kita semua," cegah Pak Zubairi.
"Tenang Pak dalam kondisi ini memang kita tidak boleh gegabah mengambil keputusan. Namun kalau benar apa yang dikatakan Aldi berarti kita perlu mengambil langkah cepat dan untuk membutuhkan semuanya itu benar adalah dengan cara melakukan percobaan ini."
"Baiklah kalau ini sudah menjadi keputusan Pak Hasan, tapi ingatlah untuk selalu berhati-hati," ucap pak subairi pasrah.
Pak Hasan pun mencoba memutar laju perahunya, dan ternyata benar apa yang dikatakan Aldi awan itu pun ikut berputar dan mengejar perahu mereka. Kini awan hitam yang pekat itu bergulung-gulung seperti angin ****** beliung yang hendak menelan perahu mereka.
"Ayo pak Hasan percepat laju perahunya!" Orang-orang di atas perahu menjadi panik kembali saat awan hitam yang bergulung-gulung itu hendak menyentuh perahu mereka.
"A was berpegangan yang kuat perahu ini bisa saja terpental saat awan berpadu angin itu menyambar perahu kita!"
Semua orang pun bersiap-siap menjaga diri mereka masing-masing. Pak Hasan semakin mempercepat laju perahunya hingga mendekati perahu yang lain.
"Tolong hentikan perahunya dulu! Kami akan berpindah ke perahumu," seru Pak Hasan kepada perahu yang ada di depannya. bukannya berhenti perahu yang ada di depannya itu mana menakjubkan perahunya dengan lebih kencang lagi melihat awan itu semakin mendekat.
__ADS_1
"Ah tidak bisa diajak kerjasama," ucap Pak Zubairi sambil memukul badan perahu karena kesal kepada orang-orang yang ada di dalam perahu yang ada di depannya.
Pak Hasan tidak putus asa, dia mencoba mendekatkan perahunya pada perahu lainnnya.
"Tolong jangan ngebut dulu, saya ingin memindahkan penumpang di perahu ini ke perahumu karena perahu kami saat ini bocor mungkin saja sebentar lagi tenggelam." Terpaksa Pak Hasan malah bohong agar perahu yang didekatinya itu mau bersimpati dan mau menolongnya.
Benar saja pengendara perahu itu memelankan laju perahunya. Perahu yang dikemudikan Pak Hasan pun mendekat ke arah perahu tersebut.
"Ayo lompat!" teriak Pak Hasan agar orang-orang yang ada dalam perahunya langsung melompat ke perahu temannya itu. Dua orang berhasil melompat. Namun, ketika yang lainnya hendak melompat juga tiba-tiba awan hitam yang berhembus kencang itu mendekat lagi sehingga membuat perahu yang ada di depannya itu langsung mempercepat laju perahunya lagi.
Pak Hasan berbelok arah agar perahu yang tadi tidak ikut dikejar oleh awan tersebut.
Berusaha dan berusaha lagi begitu seterusnya untuk membebaskan orang-orang yang ada dalam perahunya agar terbebas dari kejaran awan aneh tersebut. Mendekati perahu yang satu dan yang lainnya hanya untuk menyalin orang-orang yang ada di atas perahunya.
Kini tinggallah Pak Hasan dan juga Aldi du dalam perahu tersebut.
"Nak Aldi kenapa kamu tidak ikut melompat tadi?" tanya Pak Hasan penasaran karena saat yang lain melompat ke perahu lain Aldi malah diam saja.
"Kenapa mengkhawatirkanku? Seharusnya kamu ikut melompat tadi biar bebanku hilang karena orang-orang pulang dalam
keadaan selamat," keluh Pak Hasan.
"Bapak pikir beban Bapak akan hilang? Tidak Pak, Bapak tidak pulang juga akan menjadi beban. Keluarga Bapak pasti akan menanyakan Bapak dan mereka bisa saja menyalahkan orang-orang karena telah meninggalkan Bapak seorang diri di tengah laut dalam keadaan seperti ini.
"Tapi keselamatanmu lebih penting. Kamu masih muda Nak Aldi perjalananmu masih panjang sedangkan bapak sudah tua kalaupun bapak mati di sini bapak ikhlas agar kalian selamat," ucap bapak tersebut pasrah.
"Mungkin Bapak ikhlas, tapi keluarga Bapak tidak mungkin mengikhlaskan begitu saja, saya yakin itu Pak," ucap Aldi menyadarkan Pak Hasan.
"Kau memang benar Nak, hidup memang seperti itu. Apa yang kita rasakan kadang tidak sama dengan yang keluarga kita rasakan apalagi orang lain yang bukan berasal dari keluarga kita. Aku menyukai kepeduliamu," ucap Bapak tersebut kagum.
__ADS_1
Sementara berbicara Pak Hasan tetap saja menambah dan menambah lagi kecepatan perahunya agar awan hitam itu tidak dapat mengejarnya hingga pada suatu saat perahunya berhenti dan macet karena kehabisan bahan bakar sedangkan Pak Hasan lupa membawa cadangan solar di dalam drigen.
"Apa yang terjadi Pak?" tanya Aldi penasaran karena perahu berhenti secara mendadak.
"Solarnya habis Nak sepertinya kita harus melaut di sini sepanjang hari sampai ada yang menemukan perahu kita."
Muka Aldi pucat mendengar berita dari Pak Hasan.
"Bagaimana, kamu menyesalkan kan tidak melompat ke perahu lain tadi?"
"Iya Pak saya memang menyesal, tetapi saya lebih menyesal kalau meninggalkan Bapak di tengah laut ini seorang diri." Entah mengapa setelah banyak hal yang dilalui oleh Aldi bersama Tata rasa penakut Aldi semakin pudar sedikit demi sedikit dan sekarang dia menjadi pria yang jauh lebih tenang.
"Awas Nak Aldi!" teriak Pak Hasan melihat awan hitam dan pekat itu menyentuh perahunya dan terasa menggoncang-goncangkan badan perahu.
Terlihat dari dalam awan itu keluar tangan hitam yang hendak mencekik leher Aldi.
"Awas Nak Aldi!" pekik Pak Hasan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Aldi dengan tenang seolah berbicara dengan manusia.
"Ikutlah denganku maka akan kubiarkan pria di hadapanmu selamat." Tangan yang tadinya terulur mencekik sekarang berubah ingin menggandeng tangan Aldi.
Aldi hampir saja menerima uluran tangan makhluk itu kalau saja Pak Hasan tidak langsung berteriak.
"Jangan diterima dia makhluk yang jahat!"
Sontak saja Aldi tersadar dari keadaannya yang seperti terhipnotis.
"Kalian memang perlu dihancurkan," ancam makhluk itu dan segera bersiap menyerang.
__ADS_1
Aldi dan Pak Hasan tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka kini hanya mengandalkan kekuatan do'a dan hafalan surat-surat yang mereka hafal.
Bersambung.