
"Awas!" Putri dan Tata yang berjalan menuju ke tempat itu hanya bisa berteriak tatkala melihat samar-samar bayangan yang ingin menghantamkan batu ke kepala bayangan lain. Meskipun tidak bisa melihat dengan jelas, tetapi Putri yakin salah satu dari bayangan orang yang akan ditimpuk kepalanya itu adalah ayahnya.
Putri sebenarnya ingin berlari menghampiri tempat Pak Hasan berada. Namun, kedua tangan dan kakinya diikat oleh gadis berbaju putih panjang dan memiliki bolong di bahu itu. Begitupun dengan Tata, mereka berdua hanya bisa berjalan dengan cara melompat seperti pocong.
"Lepaskan kami! Kami kan sudah berjanji akan menunjukkan siapa orang yang telah mencuri anakmu!" seru Tata pada kuntilanak yang sempat menculik dirinya itu.
"Hem, kau pikir aku akan percaya padamu? Kalau ku lepaskan kau bisa kabur lagi," ucap kuntilanak itu sambil melotot ke arah Tata.
"Kali ini saya janji tidak akan kabur lagi." Tata merayu kuntilanak itu.
"Jangan berani-berani membohongiku," ucap kuntilanak itu dengan ekspresi geram. Dia tahu Tata sedang berusaha ingin kabur darinya.
"Put benar, kan Pak Langsa itu orang yang suka menculik janin dalam perut mayat dalam kubur atau bayi yang sudah dikubur?" bisik Tata di telinga Putri.
"Iya Mbak," jawab Putri juga dengan berbisik.
"Apa yang kalian rencanakan?" Kuntilanak itu menatap tajam kedua gadis yang ada di hadapannya.
"Tidak, saya hanya bertanya pada teman saya ini apakah dia benar-benar melihat orang yang tengah menggali kubur dan mengambil janin lalu membawanya kabur dari pemakaman dan mencincangnya dengan kasar," sahut Tata
"Bukan aku yang melihat tapi Aldi," bisik Putri. Bagaimana mungkin Tata malah menyebut dirinya yang memergoki hal aneh itu padahal Putri sudah jelas menceritakan bahwa Aldi lah yang melihatnya.
"Sama saja," ucap Tata sambil mengedipkan mata kepada Putri.
"Benar kan kamu melihat dengan mata kepala sendiri?" tanya Tata lagi.
"Benar," jawab Putri dengan suara yang lugas.
"Dan sepertinya pelakunya masih ada di sana," tunjuk Putri ke arah orang yang hendak menghantam kepala Pak Amir dan Pak Hasan yang kini sedang berkelahi sebab Pak Hasan langsung merasakan seperti ada orang di belakangnya.
"Baiklah awas kalau kalian membohongiku. Bukan hanya akan ku tawan, kalian akan kucincang-cincang menjadi abon." Kuntilanak itu mengancam.
"Baiklah, saya bersumpah kami tiga berbohong dan lepaskan kami agar bisa membawamu kepadanya sebelum orang itu kabur," janji Tata.
"Baiklah, tapi kalau kalian berani membohongiku dan kabur maka bayi yang ada dalam kandungan yang berada diantara kalian akan saya ambil."
__ADS_1
Putri dan Tata membelalakkan mata mendengar perkataan kuntilanak itu. Kedua gadis itu saling pandang dengan bingung.
"Mbak Tata hamil?" tanya Putri syok. Dia pikir Tata hamil dengan Aldi mengingat mereka tinggal dalam rumah yang sama di kampung ini.
"Tapi mereka kan cuma beberapa hari tinggal di desa ini? Tapi bisa juga Mbak Tata hamil sebelum datang ke tempat ini," batin Putri sibuk dengan prasangkanya sendiri.
"Enak saja kau menuduhku hamil, kamu aja kali," sanggah Tata.
"Eh mana ada, pacar aja aku nggak punya memang bisa hamil dengan siapa?" bantah Putri.
"Ih jangan-jangan diantara kita berdua tanpa sadar ada yang sudah dihamili makhluk halus," gumam Putri bergidik ngeri.
Tata hanya mengernyit mendengar perkataan Tata.
"Mbak Tata pernah bermimpi diajak tidur seorang pria nggak? Bisa saja itu bukan mimpi, tapi hanya kenyataan cuma itu berada di luar kesadaran Mbak Tata."
Andai saja tangan Tata tidak terikat ingin rasanya dia menjitak kepala Putri yang tertutup hijab berwarna biru itu. Bisa-bisa Putri menanyakan hal seperti itu.
"Tidak pernah kamu mungkin yang pernah," tuduh Tata.
"Lah siapa yang menuduh, saya kan hanya bertanya."
"Bertanya nggak begitu nada suaranya Kak." Putri terlihat cemberut.
"Sudah jangan bertengkar suara kalian menyakiti telingaku tahu!" bentak kuntilanak yang jengah mendengarkan perselisihan keduanya.
"Aish, ini kuntilanak apa manusia sih. Kalau mendengar orang bertengkar malah telinganya panas, tapi kalau aku baca doa, dia malah cekikikan," gerutu Tata.
"Put, sebaiknya kita bertengkar terus yuk!" ajak Tata pada Putri dan Putri hanya membelalakkan mata, tidak percaya dengan apa yang diminta oleh Tata.
"Sudah aku buka ikatan kalian tapi ingat kalau kalian kabur bayi haram itu akan menjadi incaranku."
Sontak keduanya semakin kaget.
"Bayi haram?"
__ADS_1
Keduanya saling tuduh dalam hati. Kuntilanak itu memegang tangan Tata lalu meniupnya. Tali dari akar tumbuhan yang mengikat Tata pun terlepas sendiri. Kuntilanak itu pun menunduk dan melakukan hal yang sama pada betis Tata.
Tata bernafas lega. Dirinya sudah bebas dari ikatan sekarang.
"Awas kalau kabur kau tidak akan bisa bertemu dengan temanmu ini lagi untuk selamanya," tekan kuntilanak itu.
Tata hanya bisa menelan ludah mendengar ancaman itu, meskipun dalam hati memang tidak pernah ada keinginan sedikitpun untuk meninggalkan Putri sendiri. Bisa diprotes seluruh kampung dia kalau kembali tanpa anak dari Pak Hasan itu.
Kini kuntilanak itu melakukan hal sama pada Putri. Melepaskan ikatan Putri dengan cara meniup-niup tali dari akar itu.
"Bu Kunti ayo kita segera ke sana sebelum orang yang ku maksud tadi kabur dari tempat ini!" ajak Putri membuat Tata malah tertawa mendengar sebutan Putri untuk kuntilanak itu.
Putri berlari ke arah Pak Hasan disusul Tata di belakang dan kuntilanak yang terbang di atas mereka.
"Itu dia penjahatnya yang suka mencuri janin. Mungkin bayi Bu Kunti dia juga yang mengambilnya," ucap Putri dengan suara yang ngos-ngosan sehabis berlari sambil menunjuk Pak Langsa yang sekarang hampir saja mencekik kepala Pak Amir.
"Kau ... kau ... selamat," ujar Pak Hasan begitu senang melihat anaknya dalam remang-remang cahaya lampu pekuburan. Pria itu begitu bersyukur putrinya kembali dalam keadaan baik-baik saja. Namun, dia mengernyit kenapa putrinya dan Tata malah kembali dengan makhluk halus yang mengerikan itu.
Bukankah kedua gadis itu sebenarnya adalah anak-anak yang penakut yang hanya pura-pura sok berani?
"Ya dia pelakunya. Dia yang telah banyak melakukan pembongkaran makam yang ada di sini," tunjuk Tata kepada Pak Langsa juga, membuat kuntilanak itu langsung terbang ke arah pria berambut jambul itu dan mencengkeram kepala Pak Langsa dan membawanya ke udara.
Pak Langsa memberontak dengan menendang-nendangkan kakinya di udara sambil membaca mantra-mantra yang telah dihafalnya dari pria tua berjanggut putih yang merupakan gurunya itu.
Celetik.
Sebuah botol kecil jatuh dari udara. Sepertinya jatuh dari saku celana pak Langsa.
"Pak Amir mungkin itu penawarnya!" teriak Pak Hasan yang melihat benda kecil itu terjadi di depan Pak Amir.
Pak Amir sigap, langsung menunduk dan meraih botol kecil itu. Setelah botol kecil itu berada di tangan, Pak Amir membuka tutup botol dan sedikit menuangkan serbuk yang ada di dalamnya ke dalam botol yang berisi air mineral.
"Cepat minumkan air itu kepada Nak Topan dan Aldi!" perintah Pak Hasan lagi sambil mendudukkan posisi Aldi agar bisa mudah meneguk air yang sudah dicampur dengan serbuk penawar tersebut.
Bersambung.
__ADS_1