Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 48. Jejak Tata


__ADS_3

"Dan dia siapa?" bisik Aldi di telinga Putri sambil menunjuk pria berambut jambul itu dengan ekor matanya.


"Dia itu adalah pemilik pabrik petis yang kita datangi tadi," jawab Putri pun dengan suara yang berbisik.


"Oh," ucap Aldi sambil mengangguk-angguk.


"Emang kenapa Kak, apakah dia orangnya ataukah malah menyuruh orang lain lagi?" tanya Putri penasaran.


"Kalau Kak Aldi tidak salah lihat sepertinya dia sendiri yang melakukannya tadi malam. sudahlah Put kita jangan membahas tentang ini di tempat ini sekarang takut timbul pertanyaan dari para ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di sini dan saya belum mempunyai bukti yang kuat untuk menuduh pria itu yang telah melakukan aksi pembongkaran makam semalam."


Putri hanya menjawab perkataan Aldi itu dengan anggukkan kepala. mereka kemudian fokus kembali melihat ke dalam makam di mana bapak tadi yang dikatakan Putri adalah suami dari penghuni makam tersebut ikut melompat ke dalam dan memeriksa keadaan istrinya.


"Kurang ajar! Kalau saya tahu siapa orangnya yang telah berani melakukan hal ini kepada istri saya, akan ku injak-injak dia sampai sesak nafas," ucap bapak tadi wajahnya terlihat murka dan penuh amarah. Bagaimana tidak murka kesedihan pasca ditinggalkan istri dengan anak yang masih ada dalam kandungan belum reda ditambah lagi dengan berita yang sangat memilukan ini. Bapak ini tidak akan pernah memaafkan penjahat yang telah melakukan kekejaman terhadap mayat istrinya.


"Kita pulang saja yuk!" ajak Aldi tidak ingin berlama-lama tinggal di tempat itu. Sepertinya aura di tempat itu semakin panas kala melihat bapak tadi marah. Aldi yakin kalau sampai ada salah satu yang menyahut dan perkataannya sampai menyinggung pasti akan ada perselisihan atau bahkan perkelahian di tempat itu.


"Kenapa terburu-buru Kak Aldi? mau mencari Mbak Tata ya? ikut dong," rajuk Putri.


"Oh iya ya untung kamu mengingatkan. Ayo kita cari Tata di sekitaran sini sebab semalam saya melihat jejak Tata seolah dibawa ke tempat ini."


"Oke ayo."


Mereka pun meninggal makam itu dan beralih ke makam lain dan mencari-cari keberadaan Tata dengan bekas darah yang tertinggal semalaman.


"Itu dia!" Aldi menunjuk bekas darah yang hampir mengering.


"Oh iya Kak benar kita ikuti saja bekas darah ini," usul Putri.


"Hei kalian mau kemana?" tanya orang-orang melihat Aldi dan Putri malah melihat-lihat makam yang lain.


"Apa yang kalian lakukan di situ?" tanya yang lain.


"Kami melihat bekas darah di sini Pak, jadi berhubung teman kami hilang semalam kami ingin mencarinya barangkali ini darah dari tubuh teman saya yang terluka," jelas Aldi panjang lebar.


"Temanmu hilang? Bukankah yang kami tahu temanmu itu dibawa ke poskesdes desa. Apakah memang sudah kembali?" tanya bapak yang mengantarkan Aldi dan Topan serta Lisa menggunakan perahunya tempo hari.


"Bukan mereka Pak temanku yang satunya lagi," jawab Aldi.


"Maksudmu teman yang kamu tinggal di rumah waktu kita mengantarkan 2 temanmu yang lain? Yang saat kita pulang dari poskesdes sepertinya temanmu itu muntah-muntah?" tanya bapak tersebut mengingat momen saat pulang dari mengantar Lisa dan Topan.

__ADS_1


"Benar Pak dia."


"Mengapa bisa hilang dan kemana kedua temanmu yang itu?"


"Mereka berdua belum pulang Pak. Mereka menyerahkan penjemputan mereka pada saya sedangkan saya terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk menyewa perahu untuk menjemput keduanya. Apalagi pikiran saya sedang bercabang Pak. Saya sedang stres memikirkan teman saya yang satunya lagi yang tidak tahu kemana rimbanya."


"Biar untuk kedua temanmu itu serahkan saja sama bapak sebab nanti sore bapak yang akan menjemputnya."


"Memang bapak nanti sore tidak mau berangkat melaut?"


"Sepertinya tidak karena nanti malam sepertinya di desa ini warganya akan mengadakan rapat atau kumpul bersama masalah dan berdiskusi mengenai bagaimana selanjutnya warga kita kedepannya bersikap mengingat terlalu sering ada pembongkaran makam di wilayah ini."


"Baik Pak kalau begitu terima kasih banyak."


"Sama-sama Nak Aldi."


Aldi hanya mengangguk dan tersenyum ramah.


"Nak Putri ayahmu ke mana?" Bapak itu beralih bertanya pada Putri.


"Ikut pencarian Aldo Pak bersama bapak-bapak yang lainnya."


"Pak Amir sendiri tidak ikut?"


"Tidak Nak sebab tadi bapak sedang sakit kepala dan saat mendengar berita buruk tentang pembongkaran makam ini bapak paksaan untuk bangun padahal kepala masih cenat-cenut," jawab bapak yang dipanggil Pak Amir itu oleh Putri.


"Kalau Bapak sakit ditunda dulu penjemputan Lisa dan Topan dulu Pak atau kalau ada perahu yang berkenaan biar saya meminta bantuan mereka saja."


"Tidak apa-apa Nak Aldi ibu sudah membuatkan santan yang dicampur dengan gula dan telur ayam kampung di rumah. Bisanya setelah meminum itu kepala bapak sedikit mendingan. Hanya saja tadi bapak belum sempat meminumnya."


"Baiklah Pak kalau begitu, semoga benar-benar sembuh setelah meminum jamu itu," ucap Aldi.


"Itu mah bukan jamu tapi minuman segar," sanggah Putri.


"Tahu aja Nak Putri kalau sama minuman enak," goda Pak Amir.


"Emang enak? Nggak amis gitu?" tanya Aldi penasaran. Dia tidak pernah meminum jamu sekalipun. Aldi membayangkan makan telur ayam mentah saja sudah mau mual apalagi harus memakannya.


"Enggak lah Kak enak dan mantap malah. Putri suka kalau ditambah es jadi semakin enak."

__ADS_1


"Kalau ditambah es mana bisa menyembuhkan kepala Put," protes Pak Amir.


"Kan Putri memang tidak pernah sakit kepala," jawab Putri enteng.


"Ya ya bolehlah kalau begitu. Ayo bapak bantu mencari temanmu itu."


Aldi dan Putri sama-sama mengangguk. Mereka bertiga langsung mengikuti jejak darah itu.


"Yuk kita ikut juga barangkali jejak darah itu malah menunjukkan tempat orang jahat ini menyembunyikan janin yang sudah di ambil dari perut mayat ibu tadi." Beberapa orang menyusul Aldi, Putri dan Pak Amir.


Pria berambut jambul di dalam makam tadi menyembulkan kepalanya dan melihat kemana sebagian orang-orang itu pergi. Melihat mereka pergi dengan arah yang berlawanan dengan arahnya semalam pria itu bernafas lega.


"Semoga orang-orang beralih memikirkan teman pria itu yang hilang. Aku harus memeriksa setelah ini apakah aku meninggalkan jejak semalaman," batin pria berambut jambul itu lalu melompat keluar kuburan.


"Ini sepertinya mengarah ke kuburan yang paling ujung sana," tebak Pak Amir melihat jejak darah yang tetap belum berakhir."


"Bukankah itu juga kuburan wanita yang mengandung 7 bulan dan kata orang-orang yang melintas sepertinya wanita itu beranak dalam kubur," tutur Bu Dewi.


"Ih Bu Dewi nih nakut-nakutin Putri aja," protes Putri sambil berkedip ngeri, bulu kuduknya langsung berdiri semua. merinding-rinding disko rasanya.


"Apa sih Put kalau takut jangan ikut," protes Bu Dewi lagi.


"Takut tapi kepo," rajuk Putri.


"Jangan-jangan temanmu itu yang Nak Aldi yang pemakan janin?" goda Pak Amir pada Aldi.


"Mana mungkin Pak? Dia lihat darah saja sering muntah apalagi sampai memakan sesuatu yang tidak pantas dimakan," sanggah Aldi.


"Bercanda Nak Aldi," ucap Pak Amir sambil tersenyum ramah.


"Iya Pak nggak apa-apa kok. Aldi mengerti kok bahwa pamir memang bercanda."


Pak Amir hanya membalas ucapan Aldi dengan mengangguk.


"Pak itu kuburannya sepertinya


juga tanahnya turun ke bawah!" Putri menunjuk kuburan yang berada di paling ujung yang ada di depannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2