Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 62. Kebakaran


__ADS_3

Setelah meminumkan obat penawar itu pada Aldi, kini Pak Hasan membaringkan tubuh Aldi kembali ke tanah sedangkan sekarang dia beralih mendudukkan Topan di pangkuannya. Pak Amir langsung meminumkan obat penawar yang sudah dicampur air itu ke dalam mulut Topan. Setelah selesai dia memberi kode agar Pak Hasan membaringkan kembali tubuh Topan ke atas tanah disejajarkan dengan Aldi.


Sementara yang lain sedang sibuk dengan obat penawar, kuntilanak dan Pak Langsa masih terus saja bertarung. Tidak disangka ilmu Pak Langsa tinggi juga sehingga kuntilanak itu malah kelihatan kewalahan menghadapi pria setengah baya itu.


Tidak menunggu lama, obat penawar yang telah diminumkan ke dalam tubuh Aldi dan Topan bereaksi, mungkin karena obat itu digunakan dengan cara diminumkan tidak dioleskan seperti yang Pak Langsa lakukan pada lukanya sendiri tadi.


"Kak Aldi sudah sadar?" tanya Putri melihat jari-jari Aldi bergerak. Namun, matanya masih terlihat terpejam.


"Sepertinya iya," jawab Pak Hasan.


"Topan juga, sepertinya sebentar lagi dia akan membuka matanya," sambung Pak Amir.


"Semoga saja," ucap Tata khawatir. Dia tidak tahu bagaimana dia akan keluar tanpa kedua orang sahabatnya ini. Bagaimana kalau para orang tua malah menyalahkan Tata dan Lisa?


"Kembalikan putriku! teriak kuntilanak pada Pak Langsa, suaranya menggema di udara.


"Hei jangan menuduh sembarangan, kau tidak punya bukti! Atau mereka yang telah membohongi dirimu agar mereka bebas dan dirinya salah sasaran," ucap Pak Langsa berkelit.


"Kau tahu aku hafal dengan bau darah dari anakku dan bau tanganmu menggambarkan memang kau penculiknya!" bentak kuntilanak tersebut pada Pak Langsa.


Tata dan Putri juga yang lainnya hanya terbelalak mendengar pernyataan kuntilanak tersebut. Namun, dalam hati kedua gadis itu bahagia sebab kuntilanak itu secara tidak langsung sudah mengakui kejujuran mereka.


"Ah leganya, jadi dia tidak akan menangkap kita lagi," ucap Tata dan Putri yang mendengar hanya mengangguk sambil tersenyum puas.


"Mbak kameranya, jangan lewatkan momen penting ini," usul Putri agar Tata langsung memvideokan pertarungan antara kuntilanak dengan Pak Langsung. Kebetulan gadis itu melihat kamera Topan tergeletak begitu saja di samping ayahnya.


"Ide yang bagus," ucap Tata sambil menunduk dan meraih kamera yang terletak di atas tanah di samping pohon besar.


"Mau apa Nak Tata?" tanya Pak Amir sambil menepuk-nepuk pipi Aldi barangkali pria itu lebih cepat terbangun dari pingsannya jika dibantu dengan memberikan sentuhan sementara Topan sudah membuka mata, tetapi masih terlihat bingung dengan keadaan.


"Mau memvideokan pertarungan antara kuntilanak dan Pak Langsa Pak, siapa tahu jadi koleksi suatu saat nanti," jawab Tata sambil tersenyum ramah.


"Boleh lakukan saja," ujar Pak Amir dan Tata hanya mengangguk.


Tata pun mengarahkan kamera di tangannya pada pertarungan antara dua makhluk berbeda dimensi itu.


"Loh kok." Muka Tata tampak pucat bercampur kaget.


"Kenapa Mbak?" tanya Putri penasaran.


"Kok dalam kamera yang tertangkap hanya tubuh Pak Langsa saja," gumam Tata. Putri langsung melongo ke arah kamera dan memeriksanya.

__ADS_1


"Iya ya Bu Kunti kok nggak ikut ke syuting ya, apa dia demam kamera ya?"


Tata hanya melengos mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Putri.


Dasar Putri, ada-ada saja yang dia tanyakan.


"Ada apa ini?" Aldi dan Topan langsung kaget melihat diri mereka berada di dalam tempat yang gelap dengan remang-remang cahaya yang lebih mendominasi ke arah gelap.


"Pak Langsa bertarung dengan kuntilanak yang menculik Mbak Tata kemarin malam," jawab Putri dan Aldi hanya mengangguk.


Semua orang malah tidak bergeming sedikitpun, daripada memikirkan untuk segera lari dari tempat tersebut mereka semua lebih memilih menyaksikan pertunjukan gratis itu.


"Kurang ajar kamu ya!" bentak kuntilanak itu saat Pak Langsa berhasil membanting-banting tubuhnya ke batang pohon beringin.


Pohon beringin bergetar, keluarlah makhluk-makhluk yang mengerikan dari batang pohon tersebut dan langsung menyerang Pak Langsa secara bersama-sama.


Semua orang menganga menyaksikan pemandangan yang terpampang jelas di hadapannya meskipun dengan penerangan seadanya.


"Kau sudah sehat Nak Aldi dan Nak Topan?" tanya Pak Hasan memastikan.


"Alhamdulillah Pak, sepertinya sudah," jawab Aldi.


"Nak Topan bagaimana?" tanya Pak Amir.


"Berarti sudah bisa berlari?"


"Insyaallah bisa Pak," jawab keduanya.


"Kalau begitu sekarang kita bersiap-siap untuk pergi sebelum semua makhluk-makhluk itu melihat keberadaan kita. Kita tidak tahu kan ke depannya akan seperti apa? Bisa saja mereka juga akan menyerang kita saat sudah menghabisi Pak Langsa," jelas Pak Amir.


"Siap Pak," jawab semua orang yang berkumpul itu kecuali Tata yang masih asyik dan fokus dengan kamera.


"Satu, dua, tiga, kabur!" Pak Amir langsung berlari terlebih dahulu diikuti oleh semua orang terkecuali Tata yang seolah tidak peduli keadaan sekitar.


Pak Langsa tampak dikeroyok oleh beberapa makhluk yang keluar dari batang pohon beringin tadi dan langsung diikat oleh beberapa makhluk sedangkan kuntilanak itu terlihat murka sambil mencakar seluruh tubuh Pak Langsa dengan kuku-kukunya yang panjang, tajam dan berwarna hitam itu.


"Arrgh, panas!" teriak Pak Langsa merasakan panas menjalar ke seluruh tubuhnya seolah kuku-kuku kuntilanak itu mengandung banyak racun.


Kuntilanak itu tidak mendengarkan rintihan Pak Langsa dan terus saja mencakar hingga kulit tubuh Pak Langsa mengelupas dan melepuh seperti terbakar di bara api yang berkobar.


Tata yang melihat kejadian itu hanya bisa menutup mulutnya kaget. Dia lebih kaget lagi saat menoleh semua teman-temannya sudah tidak ada di sekitarnya.

__ADS_1


"Alamak, aku ditinggalkan seorang diri." Tiba-tiba tubuh Tata bergetar, dia ketakutan lagi.


Tata melihat lagi tubuh Pak Tata yang kini mulai berubah menjadi cairan seperti lilin yang mencair terkena api.


"Awas!" Tata berteriak tatkala dirinya melihat cairan itu berjalan ke berbagai arah. Gadis itu langsung melompat ke pohon dan bergelantungan pada sebuah ranting pohon.


"Jangan lepas dulu!" gumamnya seolah memohon pada pohon tersebut saat cairan itu mengalir di bawah kakinya.


"Apa ini?" Aldi kaget tatkala melihat ke belakang ada cairan yang terlihat lengket seperti slime dan berjalan ke arahnya.


Semua orang menoleh dan melihat kepada benda yang ditunjuk Aldi.


"Apapun itu amankan diri kalian. Jangan sampai tubuh kalian ada yang menyentuh cairan tersebut karena bisa saja cairan itu mengandung racun," ucap Pak Hasan mengingatkan pada semua orang.


Semua orang pun kelabakan lalu mencari perlindungan sendiri-sendiri. Topan dan Pak Amir langsung memanjat pohon sedangkan Pak Hasan melompat ke batu yang tinggi. Aldi melompat dan bergelut pada sebuah ranting seperti yang Tata lakukan.


Kini tinggal Putri yang melompat-lompat tidak karuan, dia tidak tahu harus berbuat apa. Aldi yang melihat putri kebingungan akhirnya melompat lagi ke bawah dan menggendong tubuh Putri lalu membawanya memanjat sebuah pohon. Namun jarak mereka tidak begitu tinggi seperti yang lainnya.


"Tahan jangan sampai jatuh!"


"Bagaimana ini Kak, tubuh Putri sudah mau merosot ke bawah."


"Tahan Put setelah cairan ini lewat baru kita turun lagi."


Beberapa saat kemudian semua cairan itu sudah melewati kaki-kaki mereka. Semua orang langsung melompat ke bawah dan bernafas lega.


"Akhirnya kita terbebas dari cairan aneh itu."


Dar!


Dar!


Dar!


Dari kejauhan terdengar sesuatu yang meletus beberapa saat kemudian terlihat kobaran api di udara.


"Kebakaran!"


Mereka semua terlihat kaget.


"Kalau dari arahnya, saya pikir itu adalah pabrik petis milik Pak Langsa yang terbakar," tebak Pak Amir.

__ADS_1


"Sepertinya iya, ayo segera kita lihat!"


Bersambung.


__ADS_2