
"Oh begitu ya Bu ternyata, pantas saja tidak ada lagi yang berani membawa kendaraan bermotor masuk ke dalam desa ini," ujar Tata.
"Ya begitulah, karena kejadian kecelakaan itu semua orang menjadi penakut dan membenarkan perkataan ketua adat kami tempo dulu."
Tata hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Bu Loli.
"Oh iya Bu permisi, saya pulang dulu ya ingin memberikan nasi bungkus ini kepada Aldi saja daripada tidak termakan. Sepertinya temanku yang satu ini semenjak pagi belum makan sama sekali," ucap Tata. Setelah mendapat anggukan dari Bu Loli gadis itu langsung melenggang pergi menuju rumah milik Pak Bakri yang menjadi tempat tinggal dirinya dan para sahabatnya saat ini.
"Aldi! Buka pintunya Al!" teriak Tata mendapati pintu rumahnya dikunci dari dalam. Tak berselang lama Aldi langsung membuka pintu.
"Ada apa ya Ta kok sepertinya di laut ramai dengan bunyi mesin perahu padahal sekarang belum waktunya berangkat kerja ya bagi para nelayan," ucap Aldi heran.
"Nih makan! Dari tadi kan kamu belum makan pasti sudah sangat lapar," ujar Tata sambil menyodorkan nasi bungkus ke depan dada Aldi.
"Dapat dari mana kamu nasi ini?" tanya Aldi sambil meraih bungkusan yang disodorkan oleh Tata.
"Dikasih tetangga," jawab Tata dan langsung masuk ke dalam dan duduk di atas sebuah kursi panjang yang ada di depan kamarnya. Aldi pun ikut duduk lalu membuka bungkusan itu.
"Yakin ini bisa dimakan?" tanya Aldi memastikan karena tadi pagi di rumah Pak Bakri Tata malah melarang dirinya untuk makan makanan yang telah dihidangkan.
"Yakin lah, kalau tidak yakin kenapa harus diberikan kepadamu? Mungkin saja dari tadi sudah saya buang," ucap Tata sedikit kesal.
"Coba lihat dulu isi bungkusan ini barangkali berubah menjadi makhluk menjijikkan lagi di matamu." Aldi dapat menebak bahwa Tata melarang dirinya untuk memakan makanan di rumah Pak Bakri karena dalam penglihatan Tata makanan tersebut berubah menjadi sesuatu yang menjijikkan walaupun Aldi tidak tahu berubah menjadi wujud apa.
"Nggak ada, itu nasi biasa. Ikannya tempe orak-arik sama gimbal udang," jelas Tata.
"Oke." Sudah memastikan penglihatan Tata benar, Aldi langsung bergegas pergi ke dapur untuk mencuci tangannya sekaligus mengambil air minum. Setelah kembali ke samping Tata dia membaca doa kemudian mulai memakan makanan dalam bungkusan itu dengan lahapnya karena memang dia saat ini sedang kelaparan.
"Oh ya Ta, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Ada apa ya kok sepertinya ramai di laut?"
__ADS_1
"Habiskan dulu makananmu nanti saya cerita," suruh Tata pada Aldi. Dia tidak mau membuat selera makan sahabatnya hilang seketika apabila mendengar bahwa ada salah satu nelayan yang hilang di tengah laut.
"Sekarang sudah selesai kau boleh bercerita," ucap Aldi sambil meneguk segelas air putih.
"Oke, itu ceritanya kenapa bisa ramai di laut adalah karena ada seorang anak yang ikut melaut dalam perahu besar dan sejak tadi pagi-pagi buta dia terjun ke laut dan saat dicari tidak ditemukan lagi. sekarang orang-orang pada bergerak cepat untuk mencari tubuh anak itu. Semoga saja ditemukan dalam keadaan hidup," ucap Tata penuh harap.
"Anak-anak ikut ke laut?" tanya Aldi dengan heran.
"Ya, maksudku bukan anak kecil tetapi anak seusia SMA lah. Dia itu melaut untuk menangkap ikan agar bisa membantu perekonomian keluarganya karena dia tidak memiliki ayah dan memiliki tanggungan seorang ibu dan adik perempuan."
"Kalau begitu aku ikut saja dalam pencarian," ucap Aldi lalu bergegas untuk menyusul yang lainnya.
"Gila ya kamu mau naik apa emangnya, punya perahu?" protes Tata.
Aldi tampak berpikir dan bersamaan dengan itu terdengar seseorang berteriak mengajak yang lain untuk ikut melakukan pencarian.
"Saya ikut Pak!" teriak Aldi sambil melambaikan tangan ke arah pria itu.
"Ayo Dek cepetan! Kita akan segera berangkat!" teriak pria itu lagi pada Aldi dan Aldi pun mengangguk serta berlari ke arah pria itu dan berjalan bersama menuju pinggiran pantai.
Setelah semua orang yang akan ikut dalam perahu itu berkumpul barulah semua orang naik satu persatu ke atas perahu. Setelah semuanya naik pemilik perahu itu langsung mengemudikan perahunya ke tengah laut untuk melakukan pencarian terhadap Aldo.
Sampai di tengah laut hujan mengguyur bumi membuat mereka yang ada di dalam perahu mengeluarkan jaket plastik mereka. Sebuah pakaian dari plastik mirip jas hujan, tetapi lebih tipis. Ada juga yang mengambil jas hujan beneran.
"Nak sini!" Seseorang memanggil Aldi agar ikut berteduh bersamanya. Kebetulan plastik yang dia pakai berukuran persegi empat panjang dan tidak berbentuk seperti pakaian. Jadi muat sampai 2 atau 3 orang.
Aldi mengangguk dan segera mendekat kemudian ikut berteduh di bawah plastik yang dipegang salah satu ujungnya oleh pemiliknya dan sekarang ujung yang satunya dipegang Aldi.
"Begini ya Pak kalau nelayan terkena hujan di tengah laut?" tanya Aldi bersimpati pada kehidupan para nelayan.
__ADS_1
"Ya begitulah Nak, itu makanya orang-orang bilang kehidupan nelayan itu berselimut angin dan berbantalkan ombak. Hujan dan panas sudah menjadi sahabat kami dan kami tidak boleh banyak mengeluh karenanya."
"Iya Pak," jawab Aldi
"Hidup itu memang penuh perjuangan Nak siapa namamu?" tanya pria setengah baya itu.
"Aldi Pak," jawab Aldi.
"Wah hampir mirip ya dengan anak yang hilang yang sedang kami cari sekarang," ucap pria itu heran kenapa nama Aldi dan Aldo sampai mirip. Semoga nasib keduanya tidak sama.
"Pak Zubairi bagaimana ini?" Seorang nelayan tampak panik melihat awan hitam tebal dan besar berjalan ke arah mereka.
"Sepertinya akan ada angin besar ini. Sebaiknya kita menepi."
"Ya sepertinya akan terjadi terjadi badai di sini. Ayo segera menyingkir!"
"Ya Tuhan selamatkan kami."
Terjadi kepanikan di atas perahu bahkan bukan hanya perahu yang ditumpangi Aldi saja. Hampir di atas semua perahu semua orang tampak gusar dan ketar-ketir. Bagaimana kalau bukan hanya Aldi yang hilang tetapi akan ada korban lagi.
"Ayo mundur, kita kembali ke darat!" Semua orang di atas perahu saling berteriak mengingatkan.
Semua orang yang menjadi nahkoda di masing-masing perahu langsung ambil sikap siaga. Mereka langsung memutar perahu mereka sebelum awan hitam pekat itu menyerang ke mereka semua.
Aldi tertegun melihat semuanya, mengapa dirinya merasa ada yang aneh dengan pergerakan awan itu. "Itu awan alami ataukah awan buatan?" tanyanya dalam hati.
"Kalau awan beneran kenapa ikut berbalik saat arah perahu berbalik?"
Bersambung.
__ADS_1