Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 78. Melarikan Diri


__ADS_3

"Siapa itu!" teriak seseorang melihat sekelebat bayangan mereka.


"Gawat kita ketahuan."


"Ayo Kak kita segera lari!" teriak Putri. Mereka bertiga pun bergegas mempercepat lari mereka. Namun, sayang mereka bertiga telah dikepung dari berbagai arah.


"Bagus-bagus ternyata mangsa kita bertambah lagi ya." Seseorang berkata sambil bertepuk tangan dan tersenyum sinis.


"Hei pemuda, jangan bersikap sok jagoan ya di sini! Nasibmu tidak akan berbeda dengan mereka-mereka karena kalian tidak akan bisa melarikan diri dari tempat ini. Hahaha." Pria yang lain menunjuk para pekerja paksa dengan tawa yang menggelegar di udara.


"Atau bisa jadi nasibmu akan lebih parah dari mereka, mati!" tekan yang lain dalam intonasinya.


Tanpa banyak berkata Aldi langsung melawan beberapa orang tersebut, bahkan Putri dan Tata pun ikut beraksi walaupun mereka meskipun tidak tahu caranya bertarung.


Pertarungan tidak bisa terelakkan, tenyata Tata dan Putri termasuk hebat dalam memukul dan menghindari pukulan lawan. Ada beberapa lawan yang berjatuhan baik di tangan Aldi maupun di tangan kedua gadis itu.


Para pria yang menjadi pekerja paksa di tempat itu bukannya membantu malah menyaksikan saja. Sepertinya mereka terpana dengan aksi Putri dan Tata yang notabenenya adalah seorang perempuan, tetapi, sudah pandai menyingkirkan lawan.


"Dasar bedebah! Kalian ke sini pasti sengaja dan ingin mengacau!" Salah satu pria yang menjadi lawan Aldi marah besar dan langsung memukul Aldi beberapa kali. Aldi tidak bisa melawan sebab tubuhnya sudah dipegang tidak orang sementaranya Tata dan Putri juga dalam keadaan diserang sehingga tidak bisa membantu Aldi.


Bug, bug, bug.


Aldi tersungkur ke tanah dengan mulut yang memuncratkan darah kemudian pria itu kehilangan kesadaran.


"Kak!"


"Al!"


Putri dan Tata hanya bisa menjerit sedangkan dirinya harus menghadap pukulan yang bertubi-tubi dari pihak lawan.


Saat mendengar jeritan Tata dan Putri barulah para pekerja itu tersadar untuk membantu. Mereka yang melihat pertarungan itu segera berlari.


"Taruh dia di dalam bangunan tua itu sebelum kami eksekusi!" perintah anak buah Pak Bakri pada beberapa tawanannya itu.


"Hei apa yang kalian lakukan? Mengapa malah menyerang kami?" Para penjahat itu panik.


"Seharusnya sudah dari dulu kami melakukan ini. Sayangnya kami terlalu tergiur dengan janji-janji palsu kalian yang akan melepaskan kami jika sampai pada waktunya. Buktinya sampai saat ini belum ada satupun dari kami yang kalian lepaskan juga dari tempat ini. Apalagi waktu yang kalian maksud adalah waktu kematian kami?"


"Ya benar, seharusnya kami semua memusnahkan kalian semua para penjahat, walaupun kita tidak punya jalan keluar dari tempat ini paling tidak, hanya kami orang yang baik yang akan menjadi pengusaha di tempat ini."


"Kalian akan kelaparan di tempat ini kalau tidak ada kami."


"Kami tidak perduli!"


Bug, bug, bug.


Perkelahian terus berlanjut.

__ADS_1


"Nak Tata kalian selamatkan Nak Aldi!"


"Baik Pak."


Tata dan Putri menyingkir dari perkelahian dan menggotong tubuh Aldi.


"Akan dibawa kemana ini Put?"


Putri kemudian mengingat akan goa yang sempat di masukinya bersama Topan sebelum dirinya di tangkap.


"Ayo ikut aku!"


Tata pun mengangguk dan mengikuti langkah Putri sambil terus menggiring tubuh Aldi.


"Kau yakin akan turun ke sana Put?" Tata tak percaya Putri mengajaknya turun ke dalam lubang goa yang begitu dalam. Bagaimana mungkin dirinya bisa turun dengan tangga yang tinggi itu sementara ada Aldi yang harus dibawanya.


"Bismillah Mbak, kita bisa. Ayo kita jangan menyerah sebelum berusaha. itu adalah tempat teraman bagi kita agar menghindar dari kejaran mereka."


Mau tidak mau terpaksa Tata mengangguk. Mereka berdua kemudian turun ke bawah dengan terbit-birit sebab susah sambil menggotong tubuh Aldi. Mereka hampir jatuh beberapa kali. Untung saja mereka masih bisa menjaga keseimbangan dan tangganya juga tegap, tidak oleng sehingga dengan susah payah mereka pun sampai juga ke bawah.


"Itu mereka masuk ke sana!" Ada beberapa orang ternyata yang mengejar mereka.


"Mbak kita geser tangganya!" ajak Putri setelah meletakkan tubuh Aldi di bawah.


Tata mengangguk. Dengan sigap keduanya menggeser tangga agar tidak ada yang berhasil turun.


"Tahan Mbak, ini demi keselamatan kita bersama."


Mereka pun lebih gigih lagi hingga akhirnya berhasil menyingkirkan tangga dari lubang goa tersebut.


"Ah akhirnya beres." Tata menepuk kedua tangannya.


"Mbak itu!" Putri menunjuk seorang pria yang tadinya mau turun melalui anak tangga, tetapi tangganya keburu diseret sehingga tubuh pria itu nampak terbang oleh penglihatan Putri.


Bug.


Tubuh pria itu jatuh membentur bagian bawah goa dengan keras. Kepalanya pecah dan keluar darah bahkan lidahnya menjulur keluar.


"Dia mati mengerikan Mbak, aku takut," rengek Putri.


"Bagaimana kalau dia jadi hantu?" lanjutannya.


"Tenanglah tidak akan ada hantu di sini," ucap Tata menenangkan Putri padahal di dalam hatinya ketakutannya juga sama.


Sementara penjahat yang lainnya, nyalinya ciut melihat temannya jatuh dan tewas di dalam goa. Mereka akhirnya berbalik dan tidak melanjutkan pengejarannya terhadap Aldi dan kedua gadis itu.


"Bagaimana caranya menyadarkan Aldi?" Tata tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


"Kita cari Kak Topan saja dulu, barangkali dia belum jauh dan bisa membantu kita."


"Topan ada di sini?"


"Ya aku tadi sama Kak Topan di sini. Dia nyari jalan keluar di tempat ini tapi aku nggak berani masuk ke goa lebih dalam lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dan malah tertangkap."


"Oh jadi kamu tadi bersama Topan?"


"Iya kami bersembunyi bersama di atas, eh nggak tahunya malah menemukan lubang ini."


"Ya sudah kamu cari Topan sana!"


"Nggak mau, aku takut."


"Ya udah kamu yang jagain Aldi biar aku yang masuk lebih dalam buat cariin Topan."


Putri melihat mayat yang tidak jauh dari tempat Aldi terbaring dan menggeleng.


"Terus bagaimana Put?"


"Kita cari sama-sama."


"Mana mungkin Put, bagaimana dengan Aldi?"


"Tinggal saja sebentar toh di sini tidak ada hewan buas."


Tata menggeleng. "Tidak mungkin Put aku tidak tega meninggalkan dia sendirian."


Akhirnya keduanya dia di tempat, sama-sama memikirkan bagaimana caranya menyadarkan Aldi tanpa bantuan Topan.


Suasana di dalam goa semakin lama semakin gelap. Sepertinya di luar saat ini sedang hujan sehingga berimbas pada keadaan dalam goa juga.


"Dingin Mbak, apa hujan di luar?"


Tata memperhatikan ke segala arah goa dan melihat ada setetes air yang jatuh dari sana.


"Sepertinya iya Put itu ada yang bocor."


Putri mengangguk.


"Haus, haus!" Tiba-tiba Aldi sadar dan meminta minum.


"Kak Aldi sadar Mbak," ucap Putri antusias.


"Dia minta air Put bagaimana caranya?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2