
Mereka pun melanjutkan perjalanan, menyusuri bagian dalam goa. Lama menyusuri bagian dalam goa akhirnya mereka muncul dan berada dalam bangunan bawah tanah yang sengaja dibuat. Namun, posisi bangunan tersebut masih tersambung dengan goa tadi.
Semakin masuk ke dalam semakin gelap saja keadaan dalam ruangan tersebut.
Tata dan Putri meringis saat melihat mayat-mayat tergantung di atap bangunan bawah tanah itu.
"Al kau ingat dengan wanita ini?" tunjuk Tata pada mayat yang menggantung di depannya. Hampir saja tubuhnya menabrak mayat itu kalau tidak langsung ditarik oleh Putri.
Aldi tanpa mengingat-ingat sesuatu. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Tata, Aldi pernah melihat wajah mayat wanita ini sebelumnya.
"Dia kan wanita yang mengemudikan delman pada saat pertama kali kita tersesat di perkampungan Kenanga."
Akhirnya Aldi sukses mengingat momen di saat mereka berdua benar-benar bingung harus melakukan apa sebab berkeliling seharian masih berada di tempat yang sama. Ketika berhasil berpindah tempat mereka malah berada di sebuah pemakaman dan yang berhasil membawa tubuh mereka ke daerah itu adalah wanita pembawa delman itu yang kini sedang berdiri di hadapannya tanpa nyawa.
"Iya Al dan itu ... itu ... itu semua hantu-hantu yang pernah menakut-nakuti kita bahkan pernah mencekik leherku, dan mereka ... mereka adalah para hantu yang menggotong keranda mayat dan hendak memasukkanku ke dalam keranda tersebut." Tata meringis sambil mengusap lehernya.
Aldi mengangguk membenarkan perkataan Tata yang memang benar apa adanya.
"Berarti yang terjadi pada kita waktu itu adalah pertanda Ta," ujar Aldi masih dengan suara lemah sebab keadaan tubuhnya masih belum pulih benar. Saat ini posisi Aldi pun masih digotong oleh dua orang. Tadi Aldi sempat diturunkan tetapi ternyata pria itu masih belum bisa kuat berjalan.
"Maksudnya? Tata benar-benar tidak paham apa yang dikatakan oleh Aldi.
"Mereka ingin menyampaikan sesuatu kepada kita, tetapi kita sama sekali tidak peka karena waktu itu di hati kita dikuasai rasa takut. Menurut kesimpulanku saat itu mereka ingin memberitahukan bahwa keadaan jasa-jasad mereka belum dikuburkan dengan keadaan yang wajar sehingga mereka bergentayangan di desa Kenanga. Mereka ingin meminta tolong kepada kita untuk mengurus jenazahnya. Namun, karena kita tidak paham mereka akan membawa kita dengan menaiki keranda."
"Oh begitu ya Al?"
Aldi hanya mengangguk.
"Pak saya minta tolong ya, setelah kita semua menemukan jalan keluar dari sini kalian harus ada yang kembali ke tempat ini untuk mengurus jenazah mereka satu persatu agar tidak lagi mengganggu ketenangan warga di desa Kenanga. Saya yakin dengan larangan menggunakan kendaraan bermotor masuk ke desa Kenanga. bukannya selama ini seseorang yang nekat membawa kendaraan bermotor masuk ke dalam jasa ke anak selalu digentayangi oleh makhluk-makhluk tersebut sehingga terjadi kecelakaan."
"Wow hebat Mbak Tata dan Kak Aldi. Dalam satu keadaan dapat menyimpulkan dua kondisi."
"Biasa saja Put ini hanya kesimpulan kami. Benar tidaknya kami tidak tahu, oleh karena itu kita perlu membuktikan dengan membenahi semua mayat-mayat ini. Kalau memang benar setelah mayat-mayat ini dikuburkan secara wajar dan desa aman serta tidak ada lagi kecelakaan saat orang yang melintas masuk ke desa dengan motor ataupun mobil maka apa yang dikatakan kami terbukti benar, begitupun sebaliknya."
"Termasuk tengkorak-tengkorak itu Nak Putri?" tanya seorang Bapak-bapak sambil menunjuk tulang tengkorak yang berserakan di lantai.
"Iya Pak tidak terkecuali."
Para bapak-bapak hanya bisa menelan ludah, tapi mereka sadar memang harus melakukan itu demi kebaikan bersama.
__ADS_1
"Baiklah, untuk saat ini yang penting kita temukan dulu jalan keluar, masalah mayat-mayat ini kita akan urus kemudian."
Tata dan Putri mengangguk kemudian meneruskan langkah mereka dengan pelan sebab takut menginjak tulang tengkorak.
"Mbak! Itu kan Kak Topan." Putri menunjukkan salah satu tubuh diantara banyaknya mayat yang tergantung.
"Iya kah?" Tata langsung memeriksanya dan ternyata benar yang tergantung di sana itu adalah Topan.
"Pak tolong lepaskan teman saya ini!" mohon Tata sambil menunjuk Topan yang nafasnya sudah terlihat tersengal-sengal. Sepertinya sudah lama Topan tergantung di atas sana.
Sebagian bapak-bapak pun beraksi menyelematkan Topan.
"Ada yang membawa pisau?"
"Ada ini." Seorang bapak-bapak mengeluarkan pisau dari samping perutnya. Sengaja pria itu menyematkan pisau di dalam lipatan celananya untuk berjaga-jaga.
"Tapi susah ini, bagaimana caranya melepaskan ikatan tali di lehernya sementara tempat Nak Topan digantung terlalu tinggi sementara kita tidak punya kursi, atau meja sebagai pijakan. Tangga pun di sini tidak ada.
Seorang menunduk dan memberikan bahunya. "Naiklah! Gunakan punggungku sebagai pijakan untuk menyelamatkan dirinya."
Beberapa orang menganggu. Ada yang naik ke atas punggung orang tersebut dan beberapa membantu memegangi agar seimbang dan tidak jatuh.
Tali yang mengikat leher Topan putus sudah. Beberapa orang menerima tubuh Topan dan menurunkan dengan hati-hati.
"Terima kasih banyak," ucap Topan dengan suara seraknya.
"Ada yang membawa air tadi?" Tata menanyakan air minum barangkali Topan membutuhkannya.
"Ini Nak Tata."
Tata meraih botol air dari tangan bapak-bapak dan menyerahkan pada Topan.
Setelah Topan selesai minum mereka melanjutkan perjalanan kembali.
"Nak Topan tidak perlu digotong seperti Nak Aldi, kan?"
"Tidak Pak terima kasih, saya masih kuat berjalan," sahut Topan.
"Baiklah kalau begitu kita langsung meneruskan perjalanan kita."
__ADS_1
Mereka berjalan dan terus berjalan hingga saat pada ruangan yang menikung mereka ketahuan oleh pihak lawan.
"Hei mau kemana kalian?"
"Hei jangan kabur kalian!"
"Tangkap mereka!"
Akhirnya terjadi pertempuran sengit lagi oleh pihak Pak Bakri dan pihak bapak-bapak yang ingin menyelamatkan diri.
"Awas Nak Tata merunduk!" teriak seorang bapak-bapak ketika anak buah Pak Bakri hendak menebas tubuh lawan dengan membabi buta.
Jleb.
Lepas dari Tata ternyata tusukan pedang mengenai perut Aldi yang untuk sementara ditidurkan di lantai.
"Arrghhh!" Aldi mengerang kesakitan.
"Al!"
"Kak Aldi!" teriak Tata dan Putri bersamaan. Suara keduanya menggema memenuhi ruangan.
Seseorang langsung menggendong kembali tubuh Aldi. "Ayo cepat! Kita harus segera membawa Aldi ke rumah sakit.
"Hentikan dulu pendarahannya Pak." Tata panik.
Putri segera menarik kerudungnya sendiri sebagai kain untuk membebat perut Aldi.
"Kau yakin Put melepaskan jilbabmu?" tanya Tata disela-sela rasa ketakutannya.
"Tidak ada cara lain Mbak. Allah Maha Tahu bahwa sekarang dalam keadaan darurat. Jadi saya yakin insyaAllah dia akan mengampuni diriku, mengampuni semua diantara kita."
Tata mengangguk. "Aamiin dan semoga Aldi masih dapat diselamatkan."
"Aamiin."
Sementara seorang bapak membebat perut Aldi untuk menghentikan pendarahannya yang lain masih bertarung menaklukkan anak buah Pak Bakri.
"Ayo Pak kita bawa Aldi segera!"
__ADS_1
Bersambung.