Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 76. Tertangkap


__ADS_3

"Kak Topan aku takut, aku mau balik!" rajuk Putri.


Topan segera mencekal tangan Putri yang hendak pergi.


"Kak Topan lepaskan!" Putri menghempaskan pegangan tangan Topan.


"Kita sudah kepalang tanggung nih Put masa kembali lagi," protes Topan.


"Putri tidak perduli, Putri takut. Putri ingin segera pergi dari tempat ini." Gadis itu masih merajuk.


"Katanya mau jadi gadis petualang, gini aja udah takut. Cemen tuh namanya."


"Biarin, Putri tidak mengapa dibilang cemen dan Putri mengundurkan diri untuk menjadi wanita petualang."


"Hmm, Topan sepertinya tidak bisa memaksa gadis itu untuk ikut dengannya sebab kalau sikap Putri seperti ini akan sangat merepotkan untuk Topan ke depannya. Putri bisa saja jauh lebih ketakutan dari sekarang sebab Topan bisa memprediksi jauh ke dalam sana keadaan gua akan semakin gelap dan menyeramkan.


"Ya sudah kembalilah keluar dan temui Aldi. Ingat kamu harus hati-hati sebab di tempat ini saya yakin bahaya akan selalu mengintai kita," nasehat Topan.


"Kak topan tidak ikut keluar?"


"Tidak Put kakak masih penasaran dengan tempat ini. Kamu pergilah sebelum orang-orang datang dan menemukanmu berada di tempat ini!"


"Baik Kak." Dengan langkah ragu Putri berbalik dan berjalan keluar menaiki tangga yang berada di lubang goa tadi sedangkan Topan terus berjalan ke depan menyusuri lorong-lorong gua yang sempit dan gelap.


"Hei ada penyusup!" Seorang pria menunjuk ke bawah, ke arah Putri saat gadis itu baru beberapa langkah manapaki anak tangga.


Putri terkejut melihat ada orang di atasnya yang membuka penutup lubang goa. Gadis itu turun lagi dan hendak menyingkirkan tangga dari lubang goa itu agar pria yang menunjuknya tadi tidak bisa turun ke dalam gua tersebut.


Sayangnya tenaganya kurang kuat sehingga dia tidak bisa menyingkirkan tangga itu yang memang terasa berat dalam pegangan tangan Putri. Mata gadis itu melirik ke arah Topan sedangkan Topan yang diliriknya sudah jauh melangkah dan sudah tidak terlihat lagi oleh Putri.


Melihat Putri berusaha untuk menyingkirkan tangga dari tempatnya, pria yang berada di atas itu bergegas turun ke bawah dan berteriak memanggil teman-temannya yang berada di atas hingga akhirnya Putri tertangkap oleh tiga pria dan dibawanya keluar dari goa tersebut.


"Kenapa kau sampai bisa masuk ke gua ini dan bersama siapa kamu masuk ke dalam goa ini?" Sambil menggiring Putri keluar dari goa tersebut mereka mengintrogasi gadis itu.


"A-ku ... a-ku tidak tahu kenapa bisa sampai ada di sini. Tadi bangun sudah berada di dalam gua ini," terang Putri, berbohong.

__ADS_1


"Kau tidak berbohong, kan?" tanya pria itu menyeringai.


"Ti-dak, a-ku berani bersumpah," jawab Putri. Dalam hati, gadis itu meminta ampun kepada Tuhan karena telah berani berbohong padahal sebelumnya Gadis itu tidak suka kebohongan apalagi sampai dirinya yang berbohong.


"Apa di antara kalian ada yang menangkap gadis ini dan menyekapnya ke dalam goa ini?" tanya seorang pria pada pria yang lainnya dan kedua pria yang ditanya itu hanya menggeleng saja.


"Yakin?" tanya pria yang bertanya tadi memastikan jawaban dari keduanya tidak berbohong.


"Yakinlah bos masa kami tidak yakin sih? Memang bos pikir kami ngelindur atau hilang ingatan apa?"


"Kali aja," jawab pria yang dipanggil bos itu.


"Mungkin teman-teman kami yang lainnya bos tadi. Nanti akan kami tanyakan," sambung pria yang lain.


"Baiklah sekarang yang penting kita bawa gadis ini ke mana biasanya kita harus menyekap para pekerja sukarela, pendatang baru."


"Siap Bos."


Ketiga pria itu langsung menggiring Putri ke sebuah bangunan kuno yang sudah tampak berlumut.


"Untuk sementara waktu kamu saya hukum di sini," ujar seorang pria langsung mendorong Putri ke dalam bangunan tersebut lalu mengunci pintunya.


Buk, buk, buk, buk, buk.


Putri tampak memukul pintu dengan tangannya beberapa kali sambil berteriak-teriak agar pria tadi melepaskannya.


"Ah, dasar!" Putri terduduk lemas di lantai sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Gadis itu menyesal tadi tidak ikut dengan Topan. Kalau saja dirinya memilih bersama Topan mungkin saja mereka sekarang sudah menemukan jalan keluar seperti yang Topan yakinkan padanya. Tidak sama sekali tidak menyangka bahwa langkahnya yang berpisah dari topan akan menyeret dirinya ke tempat yang lebih gelap lagi apalagi sekarang dirinya hanya seorang diri.


Putri meringis mendengar suara tangisan di sekitarnya. Sepertinya suara itu berasal dari ruangan yang sama dengannya. Rasa takut bertemu hantu mulai menyergap hatinya lagi.


"Aku harus segera keluar dari tempat ini, tapi aku harus apa?" Putri bangun dari duduknya dan langsung mendobrak pintu, tetapi tenaganya tidak mampu membuat pintu terbuka.


"Gila pintunya kuat sekali." Putri rasanya mau menyerah. Namun dia berpikir saat ini tidak akan ada yang bisa menyelamatkan dirinya kecuali dengan usahanya sendiri atas izin Tuhan Yang Maha Esa tentunya.


Di dalam kegelapan ruangan, tangan Gadis itu meraba-raba mencari sesuatu yang mungkin bisa saja digunakan untuk dirinya menyelamatkan diri.

__ADS_1


Dalam rabaan tangannya ada benda yang panjang, sepertinya itu adalah batangan besi. Dengan sigap Putri langsung memegangnya dan membanting pintu dengan benda tersebut.


Pukulan besi mengenai pintu dan menimbulkan suara yang sangat nyaring sehingga membuat gadis lain yang berada di ruangan sama dengan Putri dan dari tadi hanya menangis langsung terkejut dan ketakutan.


"Siapa itu?" teriak gadis tersebut.


"Eh ada orang lain di sini ternyata," gumam Putri.


"Apakah ada orang di sini!" teriaknya lagi.


"Ya, ya aku ada di sini."


Sepertinya aku kenal suara wanita itu," gumam Putri lalu mencari-cari asal suara tersebut sebab ruangan yang ditempatinya sekarang ini sangatlah luas.


"Put itu kamu kah? Kenapa suaranya seperti putri ya?"


"Iya saya memang Putri dan maaf suara kamu seperti Mbak Tata. Apakah benar dirimu Mbak Tata?"


"Iya Put, aku Tata Put," ucap Putri sambil mengusap air mata di pipinya.


"Bersuara Mbak Tata aku akan mendekatimu!"


"Bersuara apa Put?" tanya Tata bingung.


"Bersuara apapun Mbak Tata, bersenandung boleh aku hanya ingin mencari jejak suaramu agar bisa mendekati dirimu."


"Oh oke." Meskipun dengan keadaan yang masih ketakutan dan suara serak sehabis menangis Tata tetap berusaha untuk menyanyi dan benar saja, cara itu efektif untuk Putri bisa menemukan keberadaan dirinya dalam ruangan tersebut.


"Suaranya fals Mbak Tata," canda Putri sambil meraba lalu memegang tangan Tata dan duduk di dekatnya.


"Iya Put Mbak Tata dari tadi menangis karena berpikir akan berada di tempat ini selamanya sendirian saja. Sekarang Mbak Tata sudah bisa tenang karena ada kamu yang menemani Mbak Tata di sini."


"Waduh Mbak Tata malah seneng Putri ikut tertangkap," protes gadis itu.


"Bukan begitu Put, Mbak Tata hanya takut sendirian. Kalau kita berdua, kita akan mencari jalan keluar bersama-sama. Bukankah kalau bekerja sama, pekerjaan yang berat akan terasa ringan. Begitupun dengan keadaan kita yang sulit begini siapa tahu dengan bekerja sama kita bisa menemukan jalan keluar dari bangunan terkutuk ini."

__ADS_1


"Mbak Tata benar mari kita berjuang untuk bisa keluar dari ruang yang gelap ini."


Bersambung.


__ADS_2