Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 33. Mimpi Apa Nyata?


__ADS_3

"Ibu yang sabar ya, saya tahu sangat berat berada dalam posisi ibu. Namun, satu yang ibu perlu ingat bahwa pasti akan ada hikmah di balik semua yang terjadi dan Tuhan tidak akan pernah menguji manusia di luar batas kemampuannya," ucap Aldi mencoba menenangkan Ibu tersebut.


"Kalau begitu kenapa ada orang yang sampai bunuh diri Kak saat mereka tidak kuat dengan takdir yang dipikulnya?"


Aldi mengacak-acak rambut gadis kecil itu gemas. Gadis kecil itu terlalu pintar menurut Aldi hingga pertanyaannya tidak bisa dia jawab.


"Jawabannya apa ya kira-kira?" Aldi tampak berpikir sedangkan gadis itu hanya menunggu jawaban Aldi dengan bertopang dagu.


"Ayo kenapa Kak?" Rupanya gadis itu sudah mulai lupa dengan kesedihannya dan kini raut wajahnya berganti dengan ekspresi penasaran.


"Itu ... itu karena orang yang bunuh diri itu sudah tidak percaya dengan kebaikan Tuhan yang tersimpan dibalik semua kejadian dan kemampuannya sendiri sehingga dalam pikirannya hanya ingin mati saja. Bukankah pikiran itu akan sangat menguasai dan mengendalikan diri kita? Ya sudah Tuhan mengabulkan apa yang dia inginkan karena keinginan yang jelek terhadap diri sendiri akan lebih mudah tercapai dibandingkan dengan keinginan yang baik."


Gadis kecil itu menggaruk kepala karena tidak mengerti, tetapi meskipun demikian gadis itu mengangguk juga.


"Anak pintar," ucap Aldi lalu terkekeh. Dia tidak mau terlihat bodoh di depan anak kecil, meskipun dia sendiri tidak begitu paham dengan apa yang dia jelaskan tadi paling tidak dia sudah menjawabnya. Konyol sekali, bukan?


Ibu tersebut hanya bisa mengangguk, dalam hati apapun yang terjadi semoga Tuhan selalu bisa menguatkan dirinya. Meskipun dia sudah ditinggalkan tiga laki-laki kesayangannya yaitu dua anak dan suaminya, tetapi dia tidak boleh sampai melakukan hal konyol yang namanya bunuh diri karena masih ada si gadis kecilnya yang masih membutuhkan kasih sayang darinya.


"Aku ngantuk Bu," ucap gadis itu lalu terlihat menguap beberapa kali.


"Tidurlah di sini!" Ibu itu menepuk kedua pahanya yang sekarang dalam posisi duduk bersila agar anak kecilnya itu tidur di atas pahanya.


Gadis kecil itu mengangguk dan langsung merebahkan tubuhnya.


"Kenapa tidak dibawa pulang saja Bu?" tanya Aldi karena kasihan melihat anak kecil harus tidur di tepi pantai tanpa selimut maupun bantal.


Namun, gadis kecil itu sudah terlihat nyenyak dalam pangkuan sang ibu.


Terpaksa Aldi melepas jaketnya untuk menjadi selimut agar gadis kecil itu tidak kedinginan saat tidur. Untung saja tadi saat pulang dia sempat berganti pakaian dan memasang jaket sebelum akhirnya memutuskan mencari Tata keluar dari rumah dan menemui Bu Loli.


Aldi langsung menyelimuti tubuh gadis kecil itu yang sekarang giginya malah bergemeletuk karena menahan dingin. Ingin rasanya Aldi menyalahkan ibu dari gadis kecil yang telah mengajak anak kecil itu agar bermalam di tempat seperti itu.


Apa yang mereka tunggu bukankah para nelayan yang melakukan pencarian sudah pulang ke rumah semua? Apa ibu itu pikir tiba-tiba saja Aldo akan datang dengan dibawa oleh ombak yang berdeburan itu?

__ADS_1


"Sudahlah yang penting aku ada teman untuk bermalam saat ini karena aku belum berani pulang ke rumah," batin Aldi dan langsung merebahkan tubuhnya agak menjauh posisinya dari gadis kecil dan ibunya.


"Terimakasih ya Nak," ucap ibu tersebut saat melihat Aldi hampir menutup matanya.


"Iya sama-sama Bu," jawab Aldi lalu terpejam.


"Andai saja Aldiku masih hidup pasti dia sudah dewasa sepertimu Nak," gumam ibu tersebut lalu ikut terpejam dengan posisi tubuhnya yang masih terduduk. Dia hanya menyandarkan bahunya pada tiang saung yang terbuat dari kayu.


***


"Gelang apa ini?" Aldi terheran-heran sebab menemukan gelang yang sama persis dengan gelang yang diceritakan oleh ibunya Aldo tadi.


"Bukankah ini gelang ibu Aldo yang hilang bersama anak sulungnya?" Aldi tampak menilang-nilang gelang dan membaca nama Aldi yang terpahat dengan kayu di tengah-tengah gelang tersebut. Meskipun tulisan itu kecil sekali, tetapi karena belum pudar masih bisa terbaca dengan jelas.


"Ada apa Al? Tumben kamu masuk ke kamar mama?" Pertanyaan sang mama membuat Aldi kaget.


"Kenapa sih kamu? Kayak maling yang ketangkap basah saja," protes sang mama sambil berjalan mendekat.


"Kenapa sih kamu, sakit?" tanya sang mama sambil menilik wajah Aldi yang semakin tampak pucat saja.


Aldi hanya menggeleng.


"Terus kenapa muka pucat kayak gitu?"


"Tidak ada Ma, mungkin Aldi hanya kurang darah saja," ucap Aldi sambil duduk di tepian ranjang orang tuanya.


"Biar nanti mama telepon papa saja agar setelah pulang dari kantor bisa mampir sebentar di apotik untuk membelikan tablet penambah darah. Eh ngomong-ngomong kamu sebenarnya cari apa?"


"Aldi cari akte kelahiran sama kartu keluarga Ma, bu dosen yang memintanya."


"Oh kalau surat-surat itu ada di laci yang di sana bukan yang di sini." Sang mama menunjuk lemari kecil yang ada di pojok ruangan.


"Oh." Aldi hendak bangkit untuk mengambil surat-surat tersebut. Namun, dicegah oleh sang Mama.

__ADS_1


"Biar mama yang ambil saja, kamu kayaknya nggak sehat takut roboh nanti kalau banyak bergerak." Perempuan setengah baya itu beranjak ke dekat pojok kamar dan membuka laci lalu mengeluarkan kertas yang diminta Aldi. Setelah mendapatkan semuanya ia berbalik dan duduk di tepi ranjang di samping Aldi.


"Ini masukkan ke dalam tasnya langsung biar tidak lupa." Meskipun Aldi sudah dewasa, tetapi mamanya masih saja menganggap Aldi seperti anak kecil. Bahkan dia sering memanjakan anak satu-satunya itu.


"Ma boleh Aldi bertanya dan saya harap Mama bisa jujur sebab apapun itu tidak akan pernah mengubah perasaan Aldi terhadap Mama. Sayang Aldi pada Mama dan papa tidak akan berkurang sekalipun."


Mendengar perkataan putranya tiba-tiba saja hati mama Aldi menjadi risau. Apa yang sebenarnya ingin ditanyakan anaknya itu?


"Ma sebenarnya gelang ini siapa yang membuatkan?"


Mamanya hanya diam tidak menjawab.


"Kenapa Mama diam? Apa Mama memang tidak tahu asal-usul gelang ini darimana?"


Mamanya menggeleng.


"Jadi benar gelang ini ditemukan beserta tubuhku di tepi pantai?"


Pertanyaan Aldi sontak membuat mamanya kaget.


"Apa maksudmu Al?"


"Mama tidak perlu bertanya hanya cukup menjawab saja," mohon Aldi dengan tatapan memelasnya.


"Tidak kamu itu anak mama."


"Aku memang akan selalu menjadi anak Mama apapun yang terjadi."


"Baiklah mungkin memang saatnya sekarang kamu tahu semuanya." Mamanya menjeda ucapan sebentar untuk menarik nafas sebelum akhirnya berkata dengan jujur.


"Ya kamu memang bukan anak kandung mama."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2