
"Apa?!" Sontak saja sekarang malah Aldi yang terbelalak mendengar jawaban dari mamanya. Saking kagetnya dia malah tidak sadar langsung berdiri dari ranjang.
"Benar Ma?" tanya Aldi antara percaya dan tidak percaya.
"Duduk dulu Al biar mama jelaskan semuanya. Kamu berhak tahu atas semua yang terjadi saat kamu masih bayi karena kamu sekarang sudah cukup dewasa."
"Iya Ma." Aldi duduk kembali menanti mamanya berbicara. Namun, duduknya tidak tenang. Aldi terlihat gelisah.
"Sebenarnya papa dan mama menemukan kamu saat kami sedang piknik di tepi pantai."
Jawaban itu sudah mewakilkan penjelasan panjang yang akan dijelaskan oleh mamanya. Tubuh Aldi menjadi lemas mendengar pernyataan tersebut. Dia tidak menyangka bahwa ternyata selama ini dia hidup bukan dengan orang tua kandungnya sendiri. Tak pernah terpikirkan sedikitpun bahwa mama dan papanya hanyalah orang tua angkat dari Aldi mengingat kasih sayang mereka berdua begitu tulus kepadanya. Kedua orang tua ini benar-benar merawat dirinya seperti anak sendiri dan Aldi sangat menyayangi orang tuanya ini.
"Kami yang waktu itu memang menginginkan anak merasa begitu bahagia menemukan bayi di tepi pantai dengan perahu tanpa awak yang lainnya sebab 5 tahun semenjak kami menikah tidak ada tanda-tanda kehamilan dari mama. Mama menoleh ke sana kemari memastikan apakah ada orang tuamu di sekitar tempat itu sebab mungkin saja kamu hanya ditinggalkan sebentar meskipun itu sangat mustahil, tapi mama harus berjaga-jaga takutnya mama dianggap penculik oleh orang-orang yang melihatnya."
Mama angkat Aldi itu berhenti sejenak. Menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Sebenarnya sangat berat untuk menceritakan masa lalu yang sudah ditutupi bertahun tahun depan rapat. Bahkan mertuanya saja tidak pernah diberitahu bahwa Aldi hanyalah anak angkat sebab mertuanya itu selalu mengungkit soal anak dan mengancam akan menikahkan anaknya lagi dengan perempuan lain yang subur.
Namun, apalah daya Aldi sepertinya sudah mulai mencurigai semua itu dan akan sangat menyakitkan apabila dia malah tahu dari orang lain atau bahkan berjuang mencari tahu sendiri.
"Setelah memastikan tidak ada yang memilikimu sebab saat kamu menangis semua orang hanya terlihat cuek dan pantai itu sebenarnya ramai karena merupakan tempat wisata. Mama langsung mengambilmu dari perahu yang terdampar itu dan papamu langsung mencarikan susu formula dan botolnya. Orang bertanya kenapa membiarkanmu menangis dan kenapa tidak langsung diberikan asi saja. Namun, mama bilang saja bahwa asi mama tidak keluar. Syukurlah tidak ada yang mencurigai bahwa sebenarnya mama itu menemukanmu di atas perahu. Waktu itu kami langsung pulang dan mengatakan pada nenekmu bahwa kami sedang dari rumah sakit habis lahiran. Sontak nenekmu kaget karena selama ini tidak pernah tahu bahwa mama sedang hamil. Namun nenekmu itu terlihat sangat bahagia dan tidak memusuhi mama lagi."
"Memusuhi?" tanya Aldi heran.
__ADS_1
"Ya nenekmu tidak suka pada mama sebab tidak bisa memberikan keturunan, tapi setelah kedatangan dirimu beliau berubah drastis menjadi sangat menyayangi mama. Makanya mama pikir kamu adalah anak pembawa keberuntungan dan mama sangat menyayangi dirimu. Mama meminum obat atau jamu apapun sehingga bisa memberikan Asi padamu dan Alhamdulillah asi mama lancar sehingga kamu tidak membutuhkan susu formula lagi."
Mama angkat Aldi langsung mendekap tubuh Aldi seakan takut kehilangan. "Jangan tinggalkan mama ya, meskipun kamu sudah tahu semuanya." Wanita itu menatap Aldi dengan ekspresi memelas.
Aldi tersenyum lalu mengangguk. "Aldi tidak akan pernah meninggalkan Mama. Mama adalah perempuan terbaik di dunia ini sama dengan ibu kandung Aldi sendiri." Aldi membalas dekapan sang mama membuat pelukan mereka semakin kencang saja.
Aldi mendongak dan menatap wajah sang mama. "Aldi sayang Mama."
"Mama juga sayang Aldi," balas perempuan yang masih terlihat sangat cantik meski umurnya sudah 40 tahun.
Keduanya semakin mengeratkan pelukannya lagi.
"Itu ditemukan saat kami mau memandikan dirimu karena sebelumnya mama dan papa tidak sadar dengan keberadaan gelang itu. Saat melihat nama Aldi di gelang itu papamu langsung memberikan nama Aldi kepadamu dan gelang itu langsung dibuka sebab takut akan melukai dirimu dan disimpan baik-baik sebagai alat ketika kamu ingin mencari tahu siapa sebenarnya orang tuamu kelak saat kamu sudah dewasa, ya sekarang ini."
Aldi mengangguk mantap dan berkata, "Terima kasih ya Ma, atas semua perjuangan dan pengorbanan Mama membesarkan Aldi."
Mama angkatnya hanya tersenyum dan mengangguk setelah itu seakan menghilang dari hadapan Aldi.
"Mama jangan tinggalkan Aldi. Mama mengapa tiba-tiba saja menghilang Ma?" Aldi terlihat panik dan menangis sesenggukan.
"Mama!" Aldi berteriak kencang membuat gadis kecil yang tertidur di sebelahnya jadi kaget dan terbangun.
__ADS_1
"Kalak ada Apa?"
"Hosh, hosh, hosh." Nafas Aldi terengah-engah saat sudah terbangun dengan mendadak dan mulai menyadari bahwa dirinya hanyalah bermimpi.
"Ah syukurlah," gumam Aldi.
"Nak Aldi bermimpi ya?" tanya ibu Aldo yang ikut terbangun karena teriakan Aldi.
"Iya Bu, maaf nama ibu siapa?"
"Saya?" tanya ibu itu sambil menunjuk dadanya sendiri.
"Iya Ibu."
"Nama saya Halimah dan nama putri saya ini adalah Imelda," jawab ibu tersebut dan Aldi hanya manggut-manggut saja.
Apakah yang aku mimpikan ini nyata ataukah hanya bunga tidur yang tidak ada artinya?" gumam Aldi lalu berusaha memejamkan mata kembali. Namun, ternyata dia tidak bisa tidur lagi karena terngiang-ngiang mimpi tersebut dan juga tiba-tiba mengingat Tata yang menghilang entah kemana.
"Kau tidur dimana sekarang Ta? Kenapa tidak pulang?"
**Bersambung**.
__ADS_1