
"Wei apa yang kau lakukan!" seru Aldi ketika membuka pintu kamar mandi dan melihat Topan seolah mengejar sesuatu dengan mulut yang terlihat menganga karena saking kagetnya.
"Sst, jangan berbisik!" Topan meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
Aldi mengernyitkan dahi. "Ada apa sih?" tanyanya dengan suara berbisik.
"Tuh lihat!" Topan menunjuk nasi yang masih melayang-layang tak tentu arah.
"Wah siapa tuh yang memegang nasi itu, apakah makhluk yang sama dengan yang mandi bersamaku waktu itu?" Tentu saja Aldi hanya bertanya dalam hati.
Aldi tidak banyak bicara, pria itu langsung mengikuti arah Topan melangkah.
"Kok berhenti di sini?" Topan pun menghentikan langkah seketika melihat nasi seolah berhenti di depan sebuah lukisan yang dipasang di ujung lorong-lorong yang beberapa hari lalu Bu Loli katakan adalah luwang mayit. Aldi terbentur tubuh Topan hingga tubuh keduanya hampir terjungkal sebab saat Topan berhenti mata Aldi melirik ke sana kemari.
"Al kalau jalan hati-hati dong! Malah nabrak begini," protes Topan.
"Lah malah nyalahin aku, kamu aja yang berhenti mendadak. Kalau nggak, mana mungkin aku akan nabrak kamu," balas Aldi malah ikutan protes.
"Itu ... itu nasinya masuk ke dalam lukisan," tunjuk Aldi pada lukisan yang menutupi dinding pembatas antara lorong dengan keadaan di luar rumah.
"Ayo Pan kita periksa saja!" Aldi langsung menggandeng tangan Topan serta menariknya mendekati lukisan di dinding tersebut.
Pelan-pelan mereka berdua menyingkap lukisan besar yang menyamai tinggi Topan.
"Tidak ada apa-apa dibalik lukisan ini, tapi kemana nasinya tadi menghilang?"
Aldi hanya menggeleng sambil matanya fokus menatap gambar lukisan, dimana gambar lukisan itu adalah gambar laut yang ada perahunya dengan lentera yang berpijar kecil di tengah-tengah perahu. Yang Aldi heran kenapa di belakang perahu itu malah terdapat gambar pria keriput dengan kedua mata yang seolah melotot ke arah mereka berdua. Giginya bertaring panjang.
"Apa yang kamu lihat Al, itu hanya gambar laut saja. Mungkin gambar laut yang ada di kampung ini walaupun saya tidak tahu itu mengambil anggel darimana saat melukis," tebak Topan.
"Yang aku permasalahkan bukan lautnya ataupun perahunya Pan, tapi yang aku heran gambar pria tua yang ada di belakang itu. Apa kamu tidak merasa ada yang janggal?"
Mendengar perkataan Aldi, Topan langsung mengamati lukisan di tangannya terutama pada gambar orang tua yang disebutkan oleh Aldi tadi.
"Aku merasa pria tua ini mirip Pak Bakri," tebak Topan.
"Nah itu yang aku pikirkan," ujar Aldi.
__ADS_1
"Mungkin itu cuma refleksi dari pemilik rumah ini saja Al. Rumah ini 'kan milik Pak Bakri sedangkan lukisan laut itu adalah laut di kampung ini."
"Kamu memang benar, tapi yang saya pikirkan adalah kenapa wajah Pak Bakri dibuat dengan gigi yang panjang bertaring seperti itu dan bola matanya seolah melotot hampir keluar. Lihatlah secara seksama, wajah itu terlihat mirip hantu dibandingkan dengan mirip manusia!"
"Kau benar, apa maksud dari semua ini?"
Aldi mengangkat kedua bahunya dan mengatakan, "Aku juga tidak tahu."
Mereka berdua menurunkan dan menaruh lukisan itu bersandar di dinding sebelah Topan berdiri dan keduanya kini tampak termenung, larut dalam pikiran masing-masing. Tentu saja memikirkan hal apa yang tersembunyi di balik lukisan itu.
Sementara keduanya termenung, muncullah Putri dan Tata dari balik pintu rumah yang memang sedang terbuka karena Topan tadi lupa untuk menutupnya.
Sebenarnya Putri dan Tata tadi sudah mengucapkan salam, akan tetapi karena tidak ada yang menjawab salam mereka, kedua gadis itu langsung nyelonong masuk ke dalam.
Sampai di dalam rumah Tata dan Putri mencari keberadaan Topan dan Aldi hingga mereka berdua menemukan kedua sahabatnya itu termenung di samping sebuah lukisan.
"Ayo Put cepetan hampiri mereka. apa sih yang mereka pandangi hingga termenung seperti itu?"
Putri mengangguk dan berjalan cepat menyamai langkah Tata yang dibuat panjang padahal biasanya langkah gadis ini kecil. Namun, karena saking penasaran dengan Aldi dan Topan langkahnya panjang agar cepat sampai.
"Dar!"
"Setan-setan-setan." Topan reflek melompat-lompat.
"Astagfirullahaladzim, ngapain sih Ta ngagetin segala? Kalau jantungku copot bagaimana?" protes Aldi kesal.
"Tenang saja kalau jantungmu lepas dan tidak bisa dipasang lagi, nanti Tata ambilin jantung pisang. Di belakang rumah Putri itu banyak pohon pisang," ujar Tata sambil terkekeh dan Putri pun ikut terkekeh mendengar perkataan Tata.
"Dasar sahabat Lucknut kau. Aku hampir jatuh tahu," protes Topan juga ikut kesal.
"Lah suruh siapa kamu melompat? Aku tidak menyuruhmu, bukan? Lagipula kamu 'kan pemberani. Di kampus sering ikut organisasi tim pemburu hantu, kenapa sampai di desa ini malah nyalimu ciut seketika, ditepuk pundaknya saja sudah ketakutan," protes Tata meremehkan. Dia ingin balas dendam karena selama ini Topan selalu meremehkan keberanian Al di dan dirinya.
"Aku cuma kaget Ta bukan takut," bantah Topan.
"Ya sudah maju sana kenapa berhenti di sini?"
Topan dan Aldi mengernyit, tidak paham apa yang dimaksud oleh Tata.
__ADS_1
"Mau maju ke mana? Memang di depan ada musuh atau ada hantu? Kamu pikir aku mau main pukul-pukulan dengan tembok begitu?" protes Topan pada Tata.
"Lah mana ada tembok?" Dalam penglihatan Tata di depan Aldi dan Topan berdiri itu terlihat sama dengan yang ada di lukisan tadi.
"Tuh ada kakek tua yang menantangmu di belakang sana. naik perahu dan lawanlah pria itu!"
Tentu saja Aldi, Topan dan Putri syok mendengar perkataan Tata yang ngawur begitu saja. Mereka pikir Tata sekarang sedang stres sehingga pikirannya tidak fokus.
"Mana ada Ta, itu cuma tembok putih bersih," bantah Aldi.
"Masa sih kalian cuma melihat tembok? Aku malah melihat laut, air laut pasang, perahu besar yang ada lenteranya dan seorang pria tua yang wajahnya mengerikan."
"Itu 'kan seperti yang ada di lukisan!" seru Aldi dan Topan secara bersamaan, keduanya benar-benar kaget.
"Maksudnya?" tanya Tata tidak paham sebab dirinya belum melihat lukisan tadi.
Topan membalik lukisan sehingga yang tadinya menghadap tembok kini beralih menghadap Topan dan yang lainnya.
Tata kaget dan langsung mendekati ke arah lukisan itu dengan setengah berlari. Tak sengaja dirinya membentur tembok tempat lukisan tadi tergantung.
Buk.
Semua orang heran ketika melihat tubuh Tata terbentur tembok itu, tembok putih tersebut tersingkap ke atas seperti tabir saja.
"Waw, indah sekali!" seru Putri melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
"Kau benar Ta, ini seperti yang kau jabarkan tadi. Seperti lukisan ini," sentuh Topan akan lukisan tadi.
"Wah ini benar-benar air!" seru Putri sambil memainkan air laut tersebut.
"Bukankah dinding ini tidak mengarah ke laut?" tanya Aldi tidak percaya sebab laut di desa itu berada di belakang dapur bukan dibelakangnya lorong-lorong itu.
"Sepertinya ini menuju ke dunia lain," ujar Topan.
"Dunia lain?" tanya Aldi, Putri, dan Tata serempak.
"Ya benar, kini saatnya kita bertualang," ujar Topan dan semua orang hanya tercengang mendengar usul dari Topan.
__ADS_1
Bersambung.