Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 42. Kecurigaan Putri Pada Aldi


__ADS_3

"Oke ayo semua!" ajak Pak Hasan.


Mereka semua mengangguk dan langsung berjalan tanpa ada lagi yang berbicara. Sekitar dua puluh lima menit akhirnya mereka sampai ke pabrik pengolahan petis yang semalam diintip oleh Aldi.


Bu Hasan langsung bergabung dengan para pekerja yang lain yang sudah sampai terlebih dulu, menyiapkan alat dan bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengolahan petis yang tentunya bahan-bahannya itu berada di ruangan yang satunya lagi. Jadi mereka bekerja sama mengangkut dari ruangan sebelah ke ruangan itu.


Sementara Bu Hasan dan yang lainnya mempersiapkan bahan, Putri lebih memilih menemani Aldi untuk berjalan-jalan di tempat itu.


"Ke sana yuk Kak!" Aldi mengangguk dan mengikuti langkah Putri menuju tungku perapian.


"Ini tempat apa ya Put, tempat memasak gitu?" tanya Aldi.


"Iya Kak, ini tempat memasak air ikan agar menjadi petis," sahut Putri dengan senyuman manisnya.


"Manisnya senyumanmu sayangnya kamu masih kecil dan aku sudah bernadzar pada Tata," batin Aldi. "Tapi kalau kalian mau diduakan sih boleh." Lagi-lagi Aldi berbicara dalam hati lalu terkekeh sendiri.


Putri tampak mengernyitkan dahi. "Kenapa Kak Aldi malah terkekeh? Ada yang lucu?" Putri merasa aneh pasti ada yang tidak beres pada diri Aldi.


"Ah nggak kakak cuma ingat sama teman kakak," sahut Aldi sekenanya.


"Oh." Putri hanya mengangguk meskipun penasaran kenapa mengingat temannya itu Aldi bisa tertawa. Apakah ada hal lucu yang terjadi pada teman Aldi itu? Entahlah Putri tidak mau tahu dan tidak perlu tahu dia sama sekali tidak perduli sebab tidak mengenal teman dari Aldi.


"Air ikan?" tanya Aldi lagi.


"Iya maksud Putri air hasil rebusan ikan pindang. Nanti akan diolah di tungku ini, dikasih tambahan bahan-bahan lainnnya lalu direbus di sini."


"Kenapa nggak pakai kompor saja?" tanya Aldi penasaran sebab zaman modern sekarang semuanya sudah serba canggih. Kenapa malah masih memakai perapian kuno seperti tungku yang ada di hadapannya sekarang.


"Ini desa Kak dan juga pabrik kecil-kecilan. Jadi kalau semuanya harus memakai kompor gas, yang ada biaya produksi membengkak dan pasti akan lebih mahal dan nggak akan nutut hasilnya dibandingkan sama biaya produksi. Bisa-bisa pemilik usaha ini akan bangkrut. Lagi pula katanya sih dengan menggunakan kayu bakar maka rasa yang didapat dari olahan air ikan ini menjadi petis lebih harum. Katanya sih Kak Putri juga nggak paham, cuma dengar kata-kata ibu-ibu yang seperti itu."

__ADS_1


Aldi hanya manggut-manggut saja mendengar cerita Putri yang katanya tahu dari para ibu.


"Itu air rebusan ikannya." Putri menunjuk drum plastik berukuran besar yang letaknya di dekat dinding ruangan itu.


"Itu?" Aldi kaget bukan kepalang melihat yang ditunjuk Putri adalah air yang seperti berwarna cokelat saja menurut penglihatan Aldi semalam dari ventilasi gudang di atas sana.


"Kenapa Kak Aldi kaget?" tanya Putri heran melihat ekspresi Aldi yang seolah tidak biasa.


"Tidak apa-apa," jawab Aldi singkat dan mencoba menyembunyikan ekspresi wajahnya agar Putri tidak curiga.


"Apakah Kak Aldi mengetahui sesuatu yang tidak Putri ketahui di tempat ini?" Gadis itu masih penasaran melihat Aldi yang masih terlihat syok saat dirinya menunjuk drum plastik tersebut. Sekeras apapun Aldi


menyembunyikan, raut wajahnya tetap dapat ditebak oleh Putri.


"Mana ada? Kak Aldi cuma beberapa hari saja di sini. Orang baru masa' lebih tahu dari penghuni lama. Nggak mungkin, bukan?"


Putri menilik wajah Aldi seolah ingin melihat pria itu serius ataukah tidak.


"Nggak lah, kakak nggak tahu apa-apa," ujar Aldi dan Putri hanya mengangguk saja.


Aldi bernafas lega Putri tidak mendesaknya untuk jujur.


"Yuk ke sana kalau Kak Aldi ingin lihat!" Putri menarik tangan Aldi agar mendekat ke arah drum plastik tersebut.


Sebenarnya Aldi ingin menolak, tetapi tangannya sudah jauh ditarik oleh putri dan kini mereka sudah sampai di depan drum plastik. Tangan Putri terulur untuk membuka penutup drum plastik tersebut sedangkan Aldi tampak meringis melihatnya. Dia sangat mengingat bagaimana pria aneh tadi malam memasukkan daging manusia yang sudah diblender halus memakai blender yang besar dan dimasukkan ke dalam air tersebut lalu diaduknya.


"Hiih." Dengan memandang air itu saja Aldi sudah merasa jijik apalagi sampai menyentuh dan bahkan mengkonsumsinya.


"Kenapa sih Kak, Kak Aldi kok sepertinya jijik gitu?" tanya Putri lagi sebab Aldi tampak meringis menatap air berwarna keruh itu.

__ADS_1


Aldi hanya menggeleng.


"Sepertinya Kakak jijik melihat air ini. Apa ada yang kakak tahu mengingat pagi-pagi buta ayah melihat kakak berlari dari tempat ini?"


Aldi menatap tajam mata Putri. Sepertinya gadis kecil itu mengetahui sesuatu.


"Jangan memandangku seperti itu, Putri risih," ucap gadis itu padahal sebenarnya bukan risih melainkan takut.


"Eh sorry. Mengenai air ini kakak memang agak jijik sebab warnanya yang tidak jernih itu membuat terlihat seperti air kotor saja. Di tambah lagi aromanya yang begitu amis membuat kakak mau muntah saja." Aldi tidak ingin Putri mencurigai dirinya takut-takut dirinya akan kebablasan membahas kejadian tadi malam di tempat itu. Bisa mati dirinya jika pria aneh semalam mengetahui bahwa dirinya telah berhasil memata-matai pria itu.


"Yaaaa, Kak Aldi. Yang namanya air rebusan itu ya pasti nggak akan jernih Kak," protes Putri. Melihat Aldi yang sepertinya memang mau mual, Putri segera menutup kembali drum plastik itu.


"Kita ke sana yuk!" Putri kini menarik tangan Aldi menuju ibu-ibu yang mengupas bawang putih.


"Nah kalau di sini harum nggak abis," ujar Putri.


Aldi mengangguk dan ikut duduk bersama para ibu-ibu di tempat itu. "Boleh saya bantu ngupas bawangnya Bu?"


"Boleh Nak, ini pisaunya." Seorang ibu-ibu memberikan pisau pada Aldi dan pria itu langsung mengupas bawang sedangkan Putri hanya melihat saja.


"Put, Nak Aldi, Bu, bapak pulang ya mau melakukan pencarian Aldo. Ini sudah ditelepon," pamit Pak Hasan pada ketiganya.


"Iya Pak hati-hati."


"Iya."


Pak Aldi pun meninggalkan bangunan itu sedangkan Aldi malah diajak bercerita oleh ibu-ibu. Diajak kenalan dan ditanyakan darimana serta apa tujuannya ke tempat itu.


"Sebenarnya saya dan ketiga teman saya diutus oleh kampus ke tempat ini untuk mempelajari kehidupan orang-orangnya di kampung ini. Sebab menurut dosen, desa ini unik sendiri. Tidak boleh ada kendaraan bermotor masuk dan semua penduduknya malah patuh padahal hidup tanpa kendaraan bermotor di zaman sekarang ini rasanya sangat susah. Selain itu, banyaknya pekerjaan atau usaha yang digeluti oleh masyarakat di dalamnya juga menjadi daya tarik tersendiri," jelas Aldi panjang lebar dan ibu-ibu tampak mengangguk mendengar penjelasan Aldi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2