Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 59. Perlawanan


__ADS_3

"Jangan ada pergerakan diri dan tenanglah agar mereka tidak melihat posisi kita," saran Pak Hasan dijawab anggukan oleh semua orang.


Namun, sepertinya posisi mereka ketahuan sebab setelah pak Hasan memperingatkan semua orang ada tangan panjang yang menjulur ke leher pak Hasan dan mencekiknya.


"Aaaargh." Suara Pak Hasan tercekat hingga tidak bisa walau hanya sekedar untuk mengeluh kesakitan. Bola mata Pak Hasan tampak hampir melompat menahan sakit.


Sontak semua orang langsung meraih tangan panjang itu dan menariknya secara bersama-sama.


Aldi menoleh mencari asal tangan itu ternyata tangan tersebut berasal dari tangan pria tua dengan pakaian serba putih berbentuk sebuah jubah yang panjang dan lebarnya bahkan menutupi seluruh kakinya.


"Pak tangan ini adalah tangan pria itu," ujar Aldi pada Pak Amir sambil mencoba melepaskan tangan keriput dengan kuku-kukunya yang hitam dan tajam itu.


Rupanya selain baju dan rambutnya yang serba putih ternyata kulit dan kuku-kukunya berwarna hitam.


"Aduh kenapa kuat sekali cengkeramannya." Topan sampai terjungkal ke belakang saat menarik tangan tersebut. Salah bukan terjungkal, tetapi tubuh Topan seperti terbang dan melayang-layang di udara.


"Akh, kepalaku pusing!" teriak Topan yang kini tubuhnya masih berputar-putar di udara.


"Pak sepertinya dia setan," ucap Aldi pada Pak Amir dengan tangan yang masih terus berusaha untuk melepaskan cekikikan tangan pria tua itu dari leher Pak Hasan sedangkan matanya melihat ke arah Topan yang berputar-putar di udara.


"Nak Aldi mari kita baca doa bersama," usul Pak Amir lalu berbisik di telinga Aldi.


"Nak Aldi hafal, kan?" tanyanya kemudian untuk memastikan.


Aldi mengangguk, mereka berdua melepaskan pegangan tangannya untuk sementara di tangan yang mencekik Pak Hasan dan beralih menadahkan tangan ke langit untuk meminta pertolongan kepada Tuhan.


"Bertahanlah Pak Hasan, kami berdua akan berusaha menolongmu," ucap Pak Amir.


Sedangkan tubuh Topan yang tadinya seperti diputar-putar di udara sekarang ditarik dengan tangan yang satunya lagi oleh pria tua itu dan dilepaskan di hadapan Pak Bakri dan Pak Langsa, nama pemilik pabrik petis itu.


Bug.


Tubuh Topan membentur tanah sebab dilepaskan di keadaan yang masih tinggi.

__ADS_1


"Aw, sakit." Topan mengusap pelipisnya yang terasa basah.


"Darah?" Dia tercengang dahinya ternyata mengeluarkan darah.


"Ambil darahnya dan tuangkan pada gelas!" perintah pria itu pada Pak Bakri dan Pak Langsa.


"Apa?" Topan terlihat syok saat Pak Langsa mengambil golok dan berjalan ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan di tempat ini?" tanyanya basa-basi.


"Aku ... aku ... tidak me ...la ... ku ... kan ... apa ... pun," jawab Topan dengan suara terbata-bata. Dia gemetar melihat Pak Langsa membawa sebuah golok. Bagaimana kalau secara mendadak pria itu menikamkan pada dirinya.


"Bohong kalian memata-matai kami, bukan?" tanya Pak Bakri ikut mendekat dan mengintrogasi Topan.


"Tidak saya hanya kebetulan mencari keong di area ini." Topan mencoba berbicara seperti biasa. Menghilangkan kegugupan dan ketakutannya agar tidak semakin ditakut-takuti oleh mereka.


"Keong? Alasan yang tidak masuk akal," bantah Pak Langsa.


"Pak Bakri kenal kan siapa saya? Apa gunanya saya memata-matai Pak Bakri toh rumah Pak Bakri sudah menjadi tempat favorit saya. Saya dan Lisa keluar masuk di sana. Apakah Pak Bakri pernah melihat kami berbuat macam-macam di sana sebab sudah diberikan kebebasan? Tidak kan Pak Bakri? Terus apa gunanya saya memata-matai kalian?" Topan mencoba merayu agar dengan kebaikan dan kepercayaan Pak Bakri dirinya bisa terbebas.


"Jangan pernah dengarkan siapapun! Cepat ambil darahnya, aku sudah kehausan!" perintah pria tua itu yang masih saja berbicara sambil duduk.


Pak Langsa membuka penutup goloknya lalu hendak menikamkan pada perut Topan.


"Aaaa!" Sebelum golok itu menyentuh perutnya terlebih dahulu Topan berteriak hingga memudarkan konsentrasi Pak Langsa yang hendak menikamnya.


Pak Bakri pun tampak kaget, saat itu pula Topan langsung menendang perut keduanya secara bergantian hingga keduanya terjungkal ke belakang.


"Kau!" Pak Bakri murka dan langsung menghunus pedang yang dia bawa di samping tubuhnya dari tadi.


Topan kaget melihat Pak Bakri memiliki pedang. Dia sekarang harus melawan dua orang yang memiliki senjata khusus sedangkan dirinya hanya dengan tangan kosong.


"Aku harus berhati-hati," batin Topan.

__ADS_1


Pak Bakri dan Pak Langsa menyerang Topan secara bersamaan dengan senjata masing-masing. Namun, Topan yang memang pandai seni bela diri bisa menangkal setiap serangan-serangan dari kedua penjahat itu.


Kreet


Bahu Topan tergores oleh golok milik Pak Langsa.


"Arrrgh." Topan berteriak kesakitan membuat konsentrasi Aldi yang berdoa buyar sudah.


"Topan!" Aldi berteriak histeris dan langsung berlari mendekat ke arah Topan. Dia langsung menangkap tubuh sahabatnya yang hampir saja roboh.


Dengan sigap Aldi langsung menggendong tubuh Topan dan diletakkan di samping Pak Amir yang masih fokus berdo'a.


Pak Bakri dan Pak Langsa mengejarnya. Aldi bingung harus melakukan apa. Apakah dia akan membantu Pak Amir lagi berdoa untuk menaklukkan kekuatan pria tua iblis itu ataukah akan menghadapi Pak Langsa dan Pak Bakri yang masih memburu tubuh Topan.


"Kemana Tata dan Putri?" gumam Aldi. Dalam keadaan genting seperti ini perempuan seperti mereka pun dibutuhkan. paling tidak Aldi akan meminta kata dan Putri untuk menjaga sopan dan juga Pak Amir dan Pak Hasan sementara dirinya melawan Pak Langsa dan Pak Bakri.


"Kau mau apa? Kecil-kecil begitu bisakah kau melawan kami? Membawa tubuh sendiri saja saya yakin kamu tidak akan mampu apalagi sampai mau menyerang kami berdua? Hahaha," ucap Pak Langsa menertawakan Aldi yang memang tubuhnya tampak lebih kurus saat ini. Bagaimana tidak kurus semenjak memasuki perkampungan Kenanga ini dirinya selalu dihadapkan dengan masalah-masalah di luar nalar. Aldi yang aslinya adalah seorang penakut tentu saja hal itu menjadi beban pikiran buat dirinya. Mungkin kalau saja tubuhnya ditimbang berat badannya pasti akan berkurang lebih dari 5 kg.


Aldi tidak mendengarkan ejekan Pak Langsa, dia tetap maju ke depan dan menyerang kedua orang itu membabi buta sebab Aldi memang tidak menguasai ilmu bela diri sekalipun.


Aldi tampak kelimpungan saat keduanya menyerang secara mendadak dengan senjata mereka sedangkan tangannya sendiri dalam keadaan kosong. Dalam hati Aldi menyesal tidak membawa senjata apapun padahal sebelum mereka berangkat Pak Amir sudah mewanti-wanti untuk menyiapkan segalanya. Rupanya senjata tajam terluput dari pemikiran semua orang sebab menyangka pengintaian mereka akan berjalan mulus tanpa diketahui pihak musuh.


Namun, dia tidak boleh putus asa, tak ada rotan akar pun jadi. Aldi menunduk dan menggenggam tanah dengan kedua tangannya lalu melemparkan tanah itu ke wajah kedua orang yang sedang menyerangnya saat ini.


"Arrgh perih." Prediksi Aldi benar serbuk tanah itu mengenai mata mereka sehingga senjata yang ada di tangan pak Bakrie terjatuh ke tanah dan Aldi langsung meraihnya.


Di sisi lain pria tua itu mulai oleng ketika Pak Amir semakin gencar membaca doa. Tangan yang mencekik Pak Hasan mulai gemetar dan sepertinya sebentar lagi akan terlepas.


Setelah mendapatkan pedang, Aldi mulai melawan mereka dengan membabi buta lagi. Pak Langsa yang masih memegang goloknya memilih melawan Aldi seorang diri sementara Pak Bakrie masih mengucek kedua matanya yang perih.


"Kau tidak akan bisa mengalahkanku dasar anak ingusan!" bentak Pak Langsa dan langsung menyerang tubuh Aldi dengan goloknya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2