
"Terserah," gumam Aldi lalu turun dari kursi dan beralih rebahan du atas tikar dan bantal yang sudah dibawakan Putri.
"Lumayan." Aldi hendak memejamkan mata sebab selama ini dirinya kurang tidur. Meskipun dia rumah ini dia hanya tidur beralaskan tikar, tetapi Aldi lebih merasa tenang sebab yakin kalau tidur di tempat ini tidak akan ada makhluk astral yang mengganggunya. Tidak seperti rumah yang ditempati Aldi saat ini, dimana selalu ada keanehan yang terjadi.
Hendak saja tertidur tiba-tiba Putri datang dan mengajaknya bicara. "Kak Aldi jangan tidur dulu. Ini saya sudah buatkan teh hangat buat Kak Aldi. Diminum gih mumpung masih hangat."
"Aduh Put baru saja Kak Aldi mau memasuki alam mimpi malah diganggu lagi," protes Aldi sambil bangkit dari posisi tidurnya dan duduk menghadap Putri.
"Sorry Kak terpaksa soalnya Putri sudah belain buatin teh masak nggak diminum sih? Lagipula Tuhan mungkin menakdirkan kakak agar tidak bermimpi dulu sebab kalau diteruskan pasti mimpimu serem."
"Sok tahu loh kayak cenayang saja," protes Aldi dan Putri hanya terlihat terkekeh.
"Pakai nyengir lagi. Yakin ini hangat? Tidak panas?"
"Yakinlah, mana mungkin Putri berbohong."
"Oke awas kalau bohong. Ada obatnya nggak nih minuman?" goda Aldi.
"Ih ya nggak ada lah kalau racun baru ada." Putri tertawa lepas.
"Ih dasar," ucap Aldi sambil menyeruput teh dalam gelas.
"Gimana enak? Nggak bikin Kak Aldi sakit perut kan? Kalau iya biar saya ambilkan air degan, siapa tahu Kak Aldi memang keracunan. " Putri segera menutup mulutnya yang hampir tertawa cekikikan.
"Ih dasar kamu. Memang harus menunggu keracunan untuk dikasih air degan? Kalau emang ada bawa sini sekarang biar aku habiskan dengan degannya sekalian," ucapan Aldi membuat tawa Putri lepas.
"Sayangnya nggak ada Kak, Putri belum beli."
__ADS_1
"Hmm." Aldi hendak berbaring kembali. Namun, kalimat Putri membuatnya mengurungkan diri.
"Aku tahu ada yang Kak Aldi sembunyikan dari Putri."
"Maksudmu?" tanya Aldi heran.
"Maksud Putri mengenai pabrik pengolahan petis tadi. Pasti Kak Aldi mengetahui sesuatu," tebak Putri dan itu membuat Aldi menjadi salah tingkah.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan demikian?" tanya Aldi heran sebab Putri selalu saja mencurigai dirinya.
"Putri merasa Kak Aldi bukan tidak sengaja sih menjatuhkan sendok yang Putri pegang. Itu ada unsur kesengajaan."
Aldi menatap Putri, kaget sekaligus bangga karena ternyata feeling anak ini begitu kuat.
"Yang Putri pikirkan apa? Apa alasan Kak Aldi melakukan itu semua jika memang benar dugaan Putri?"
"Alasannya pasti ada salah satu bahan yang membuat Kak Aldi merasa bahaya jika Putri sampai mengonsumsi petis itu."
"Ya seperti bahan-bahan kimia yang berbahaya gitu. Atau kalau tidak, mungkin bukan bahan kimia yang berbahaya melainkan suatu bahan yang sangat menjijikkan sehingga membuat Kak Aldi sampai mual-mual dan muntah. Melihat ekspresi Kak Aldi saat itu Putri bisa menebak bahwa bahan itu telah dicampurkan ke dalam cairan air pindang yang ada dalam drum plastik tersebut."
"Wow kau seperti detektif saja, hebat," ujar Aldi sambil bertepuk tangan.
Putri tidak butuh tepuk tangan kak Aldi, tapi Putri butuh kejelasan," Putri karena melihat Aldi malah memberikan dirinya tepuk tangan.
"Baiklah karena kamu sudah curiga dan sepertinya bisa membaca pikiranku maka kak Aldi akan bercerita apa yang telah terjadi sebenarnya."
"Nah gitu dong kalau begini kan Putri nggak bakal penasaran lagi." Putri menyambut keputusan Aldi dengan senyuman termanisnya.
__ADS_1
"Puas ya kalau sudah gini," protes Aldi. "Padahal kamu masih anak-anak loh, entar malah takut kalau kakak ceritakan."
"Suer, Putri janji nggak bakal takut." Gadis itu mengangkat kedua jarinya yaitu jari telunjuk dan jari tengah membentuk piss.
"Hmm, jangan-jangan tadi kata-kata aku takut itu hanya sandiwara saja kalau kalau di tempat kamu hanya ingin mengorek informasi lebih dalam dari Kak Aldi."
"Wah Kak Aldi cerdas," ucap Putri sambil tersenyum sumringah menampakan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Yah aku terjebak dong!" kesal Aldi.
"Nggak apa-apa Kak sama Putri juga kalau bercerita aman."
"Benar ya nggak akan bilang sama siapa-siapa?"
"Iya Putri janji. Lagian apa Kak Aldi takut kalau sampai semua orang mengetahui apa yang Kak Aldi ketahui? Bukannya bagus ya Kak biar semua orang bisa turut menyelidiki."
"Bagus sih bagus Put, cuma kak Aldi kan tidak punya barang bukti sebab saat itu ponsel yang dibawa Kak Aldi mati sehingga tidak bisa merekam kejadian malam itu. Bisa-bisanya Kak Aldi nanti malah dituduh mencemarkan nama baik. Selain itu Kak Aldi tidak begitu jelas dengan orang yang melakukan hal keji tersebut. Jadi perlu penyelidikan lebih lanjut," jelas Aldi.
"Oke Kak saya mengerti. Sekarang kakak bisa menceritakannya semuanya sebelum ada orang yang datang ke tempat ini."
Aldi mengangguk dan sebelum menceritakan pada Putri tentang apa yang dilihatnya semalam dia menoleh ke sana kemari untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar ceritanya nanti.
"Baiklah dengarkan secara seksama! Kak Aldi akan mulai bercerita dan tidak akan pernah mengulangnya lagi. Jadi siapkan telinga baik-baik," ucap Aldi mengingatkan.
"Baik kakak ganteng," ucap Putri sambil mengusap-usap telinganya sendiri.
"Cih."
__ADS_1
Setelah berdecih Aldi langsung menceritakan semuanya dimulai dari saat naik perahu yang macet di tengah laut dimana ada makhluk yang menyerupai awan dan aneh kemudian kejadian yang janggal di rumah yang ditempatinya hingga hilangnya Tata sehingga membuat dirinya tidak sengaja memergoki kejadian aneh yang terjadi di sebuah kuburan. Sampai membawanya mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain mengena pabrik itu.
Bersambung.