Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 25. Calon Penyelamat


__ADS_3

Aldi dan Pak Hasan tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka kini hanya mengandalkan kekuatan do'a dan hafalan surat-surat yang mereka hafal.


Tangan hitam itu kembali meraih leher Aldi dan hendak mencekiknya. Namun, tiba-tiba saja terdengar bunyi angin kencang di udara yang berbunyi Wusss dan awan hitam itu menghilang seketika.


"Alhamdulillah kekuatan do'a memang dahsyat," ucap Pak Hasan.


"Betul sekali Pak," ucap Aldi membenarkan perkataan Pak Hasan. Dalam kondisi seperti itu apalagi yang harus diandalkan kalau bukan cuma do'a sebab berlari pun tidak bisa karena mereka sedang berada di tengah laut apalagi dengan keadaan perahu yang sedang macet.


"Tapi kok saya merasa aneh ya Nak sebab sepertinya makhluk tadi mengincarmu," ucap Pak Hasan dengan hati-hati karena takut Aldi tersinggung.


"Saya juga tidak tahu Pak," ucap Aldi bingung.


"Apakah kamu punya amalan tertentu sehingga membuat mereka tertantang untuk menyingkirkan mu?" tanya Pak Hasan lagi.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan anak ini," pikir Pak Hasan dalam hati.


"Mana ada Pak? Saya hanya kosongan saja. Do'a saja hanya sebatas surat-surat pendek dan ayat kursi. Yasin saja masih harus dituntun kalau tidak ya tidak hafal." Aldi berkata dengan jujur.


"Oh begitu ya, tapi kok aneh ya," ucap Pak Hasan masih merasa aneh.


"Saya juga tidak tahu Pak, cuma saya sendiri memang merasa aneh sebab ketika saya masuk ke daerah ini banyak rintangan yang saya hadapi sedangkan teman saya yang namanya Lisa dan Topan malah aman-aman saja bahkan mereka cepat sampainya."


"Nak Aldi berapa lama untuk sampai ke tempat ini?" tanya Pak Hasan penasaran.


"Saya dengan Tata malah sampai dua hari Pak tersesat sebelum akhirnya sampai ke sini. Rasanya kami seperti tersesat di tengah hutan dan selama itu kami mengalami kejadian-kejadian aneh dan tidak masuk akal. Pokoknya diluar logika begitu Pak," jelas Aldi.


"Kejadian aneh?" tanya Pak Hasan lagi tambah penasaran.


"Ya begitulah, bertemu makhluk-makhluk astral yang bahkan ingin memasukkan kami ke dalam sebuah peti mati."


Sontak saja Pak Hasan menjadi kaget mendengar pengakuan Aldi.


"Benarkah?"


"Iya Pak, kalau Bapak tidak percaya silahkan bertanya pada teman saya yang namanya Tata. Dia bahkan pernah mengalami mati suri di tengah hutan."


Semakin tercengang saja Pak Hasan mendengar setiap curhatan dari Aldi.


"Terus bagaimana sahabatmu itu bisa hidup kembali?"

__ADS_1


"Seorang wanita cantik menarik diriku ke alam mimpi dan memberikan saya sebuah bunga putih besar. Wanita itu mengatakan bahwa bunga itu yang akan membawa saya ke tempat tujuan dan akan menyadarkan Tata dari tidur panjangnya. Benar saja bunga itu yang menuntun kami sampai ke tempat ini meskipun tujuan kami sudah bukan ke desa ini lagi melainkan pulang ke rumah kami masing-masing. Namun, kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tanpa kami duga kami malah sampai ke tempat ini."


Pak Hasan hanya manggut-manggut mendengar cerita Aldi.


"Bapak bisa mengantar kami pulang? Kalau Bapak berkenan nanti Aldi bakal bayar Bapak setelah sampai di rumah," mohon Aldi.


"Menurut saya lebih baik Nak Aldi jangan pulang dulu sebab saya mempunyai firasat kalau kalian berdua yang akan menjadi juru penyelamat di desa ini," ucap Pak Hasan dengan ekspresi wajah yang serius.


Aldi hanya tertawa melihat Pak Hasan begitu mempercayai dirinya secara berlebihan.


"Kenapa tertawa?" tanya Pak Hasan melihat Aldi malah menertawakan dirinya.


"Bukan maksud apa-apa Pak, cuma heran saja karena Bapak memiliki pemikiran seperti itu. Bagaimana mungkin orang bodoh dan penakut seperti saya bisa menyelamatkan satu desa, yang ada malah saya yang merepotkan orang-orang yang ada di dalamnya."


"Mungkin sekarang belum, tetapi suatu saat nanti pasti ucapanku akan terbukti," ucap Pak Hasan masih dengan keyakinan seperti tadi.


"Semoga apa yang dikatakan Bapak menjadi kenyataan karena saya memang suka membantu orang lain," pungkas Aldi.


"Amin," jawab Pak Hasan.


"Kita bertahan di sini dulu ya, barangkali ada perahu lewat dan kita akan minta tolong pada mereka. Seandainya bapak membawa hape mungkin bisa menghubungi teman-teman yang lain."


"Boleh kalau begitu pakai hape kamu saja."


Aldi mengangguk dan langsung mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan memberikan pada Pak Hasan.


Pak Hasan menerima ponsel tersebut dan langsung menggeser-geser layarnya.


"Bagaimana ini Nak, Bapak tidak mengerti dengan ponsel Nak Aldi. Biasa, bapak biasa pegang yang hape yang jadul," ucap Pak Hasan lalu terkekeh.


"Ini Nak Aldi aja yang pencet nomornya!" Pak Hasan mengembalikan ponsel tersebut ke tangan Aldi.


"Baik Pak, berapa nomor yang akan kita hubungi?"


Pak Hasan tampak mengingat seperti dia lupa dengan nomor teman-temannya.


"Kenapa Pak?" tanya Aldi bingung melihat Pak Aldi tampak berpikir keras.


"Aku lupa nomor telepon teman-teman."

__ADS_1


Sudah Aldi duga.


"Kita telepon putriku saja biar dia yang akan menghubungi orang-orang," ujar Pak Hasan.


"Tidak masalah yang penting Bapak hafal nomornya," ucap Aldi dan Pak Aldi pun memberitahukan nomor putrinya pada Aldi.


"08 .........."


"Baik Pak."


***


Di rumah setelah Aldi meninggalkan Tata sendirian gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin mengecek baterai ponselnya yang tadi pagi dia cas.


"Aduh saya lupa kan di cas nya bukan di sini, tetapi di ruang televisi," ucap Tata pada diri sendiri lalu menepuk jidat.


"Sudahlah mending aku tidur


saja dulu." Gadis itu tampak berbaring sebentar dan menutup mata. Tidak membutuhkan waktu lama Tata pun tertidur pulas dan seperti sedang bermimpi.


"Hei Ta bangun! Ini bau amis darimana sih?" Seseorang tampak mengguncang tubuh Tata.


"Eugh. Tata hanya melenguh dan tidur lagi.


"Ta, Bangun!"


"Biarkan saja lah Aku ngantuk, aku lelah," ucap Tata tidak menggubris perintah yang didengarnya. Kejadian ini seperti setengah mimpi dan setengah sadar.


"Bangun Ta, bangun!"


"Sudahlah Lis, kamu cek aja sendiri," ucap Tata tidak ingin ada yang mengganggu tidurnya.


Suara itu akhirnya menghilang.


Tata malah terbangun dan tidak bisa terlelap lagi saat mencoba memejamkan matanya kembali. Namun, dia kaget tidak mendapati Lisa di dalam kamar.


"Kemana tuh orang, giliran aku tidur diganggu giliran aku sudah tidak bisa tidur lagi malah pergi." Tata menggerutu sendiri dan bangkit dari ranjangnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2