
"Assalamualaikum warahmatullahi." Aldi mengakhiri shalat dengan salam. Di belakang Aldi juga terdengar suara salam.
Setelah mencium kedua tangannya Aldi menoleh ke belakang dan mencari keberadaan pemilik suara itu. Namun, nihil Aldi tidak menemukan siapa-siapa di tempat itu.
"Apa itu tadi hanya halusinasiku semata ya?" Aldi meraup wajahnya bingung dengan dirinya sendiri yang semakin aneh.
"Kayaknya setelah kembali dari kampung ini aku harus ke psikologi deh siapa tahu aku mengalami gangguan jiwa," gumamnya sendiri.
"Sudahlah siapapun kamu yang penting tidak menganggu atau menampakkan diri di hadapanku, aku tidak masalah." Aldi lalu melepaskan peci dan meletakkan di hanger yang menempel di dinding kamar. Setelahnya langsung meraih ponselnya dan berjalan keluar kamar.
"Aku pergi, assalamualaikum," ucap Aldi sebelum mengunci pintu rumahnya. Dia kebetulan ingat nasehat guru ngajinya bahwa setiap kali mau meninggalkan rumah maupun masuk ke dalam rumah harus mengucapkan salam meskipun dalam rumah tersebut tidak adanya penghuninya sekalipun.
"Wa'alaikum salam." Tanpa diduga oleh Aldi ada yang menjawab salamnya.
Aldi menoleh ke sana kemari untuk mencari keberadaan orang yang telah menjawab salamnya itu. Lagi dan lagi Aldi tidak menemukan asal suara itu. Aldi tampak mengucek telinganya sendiri barangkali sedang korslet.
"Kamu siapa?" Aldi mencoba bertanya sambil memiringkan telinganya dan ternyata tidak ada yang menjawab.
"Benar kan aku berhalusinasi? Ah sudahlah aku pergi saja sekarang." Aldi langsung bergegas meninggalkan rumah tersebut dan berjalan menuju rumah Pak Hasan.
"Wah ternyata Nak Aldi tepat waktu malah ini masih jam 6 juga belum setengah 7," ucap Pak Hasan senang karena ternyata Aldi bukanlah orang yang ingkar janji.
"Itu namanya bukan tepat waktu Pak tapi kecepatan," canda Aldi. Pria itu mengusap dahinya yang berkeringat. Matahari yang sudah mulai panas membuat tubuh Aldi berkeringat setelah berjalan hampir setengah jam menuju kediaman Pak Hasan.
"Yuk masuk ke dalam." Pak Hasan menggiring Aldi untuk masuk ke serambi rumahnya.
"Di sini saja deh Pak, saya keringetan ini, jadi duduk di sini saja sambil mencari angin segar."
"Baiklah kamu duduk saja di sini, saya akan masuk dulu untuk memanggil ibu di dalam."
Aldi mengangguk dan duduk di kursi yang ada di teras rumah.
Pak Hasan bergegas ke dalam dan memanggil istrinya. Beberapa saat kemudian istri dari pak Hasan membawa piring dan wadah nasi dari dalam dapur ke teras rumah dan hendak menata di meja yang ada di hadapan Aldi.
"Maaf ya Bu jadi merepotkan sebab tubuh saya gerah dan keringatan ini Bu makanya memilih duduk di luar saja." Aldi merasa tidak enak sudah repot-repot dimasakin malah membuat istri pak Hasan repot lagi dengan membawa makanan ke luar.
"Tidak apa-apa Nak Aldi toh tadi masakannya masih ada di dapur kok. Mau Nak Aldi masuk ke dalam ataupun di sini sama saja saya tetap akan membawa makanan ini keluar."
__ADS_1
Aldi mengangguk mendengar penjelasan istri dari Pak Hasan itu.
"Terima kasih ya Bu."
Sama-sama Nak Aldi," ucap ibu tersebut sambil meletakkan nasi dan menata piring di atas meja.
"Put bawa sayur lodeh dan ikan gorengnya ke sini!" perintah ibu itu pada putrinya yang masih berdiam diri di dapur.
"Iya Bu." Putri langsung bergegas membawa pesanan sang ibu keluar.
"Aku mau ambil sambalnya dulu," ucap ibu tersebut saat salipan dengan putrinya yang membawa baskom berisikan sayur lodeh dan ikan dorang goreng di dalam piring.
Aldi menatap tak berkedip putri dari Pak Hasan yang namanya Putri tersebut.
"Cantik sekali putrinya pak Hasan, bibirnya aku suka," batin Aldi sambil terus mengikuti langkah Putri dengan ekor matanya.
Putri pun melirik ke arah Aldi sambil tersenyum manis.
"Hemm, uhuk-uhuk." Pak Hasan pura-pura batuk-batuk.
Aldi langsung mengalihkan perhatiannya ke arah lain sedangkan Putri jadi salah tingkah.
"Itu juga kesukaan Putri dan khusus sayur ini dia yang memasaknya sendiri," jelas Pak Hasan membuat sang putri tersipu malu.
"Wah selera kita sama ya, jangan-jangan kita berjodoh lagi." Aldi memberanikan diri menggoda Putri membuat pipi gadis tersebut bersemu merah seperti kepiting rebus. Setelah selesai meletakkan dan menata makanan yang dibawanya gadis itu langsung berlari ke dapur sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Kenapa sih kamu?" tanya sang ibu melihat kejanggalan pada putrinya.
"Itu tamu ayah merayuku, aku kan jadi malu Bu," lapor Putri.
"Biasa paling dia hanya bercanda." Respon sang ibu membuat sang putri cemberut. "Tetap saja Putri malu."
"Ya sudah kalau malu ngumpet di dalam sana," kelakar sang ibu.
Mendengar perkataan ibunya Putri menjadi kesal. "Iya Putri ngumpet aja di kamar dan ibu jangan menyuruh-nyuruh Putri lagi ya karena Putri tidak akan keluar lagi."
"Cih ngancam nih anak."
__ADS_1
"Biarin, Putri ngambek pada ibu." Gadis itu langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Ih beneran ngambek." Entah kenapa ada seorang ibu seperti Bu Hasan yang suka membuat anaknya sendiri kesal.
"Oh ya Pak, putri bapak tadi namanya siapa?" tanya Aldi penasaran.
"Putri saya namanya Putri."
"Aish."
"Iya Nak Aldi dia namanya beneran Putri."
Aldi mengangguk.
"Oh ya pak dia sekolahnya apa?"
"Masih SMP dia."
"Oh, pantesan."
"Pantesan kenapa Nak Aldi?" tanya Pak Hasan penasaran.
"Masih mungil Pak, menggemaskan. Rasanya Aldi ingin mencubit pipinya yang tembem itu." Kejujuran Aldi membuat Pak Hasan hanya geleng-geleng kepala.
"Bu mana sambalnya?!" teriak Pak Hasan karena istrinya belum kembali juga setelah beberapa saat pergi ke dapur.
"Iya Pak tunggu, saya sedang mengambil ini."
Beberapa saat kemudian Bu Hasan tiba di dekat mereka dengan membawa satu mangkok kecil berisi sambal terasi.
"Wah baru muncul, baunya saja sudah enak bagaimana kalau makan nanti," puji Aldi.
"Wah Nak Aldi terlalu berlebihan. Makanan di kampung kalah jauh dengan makanan di kota Nak. Nak Aldi lihat sendiri susunan menunya campur-campur nggak tahu menunya bertema apa." Bu Hasan terkekeh sendiri.
"Apapun yang penting enak Bu," ucap Aldi.
"Ya sudah Nak Aldi ayo silahkan dimakan," ucap Pak Hasan dan mulai menyentong nasi ke piringnya sendiri.
__ADS_1
Aldi mengangguk dan mengikuti jejak Pak Hasan, menyentong nasi ke dalam piringnya sendiri kemudian mengambil sayur dan lauk-pauk yang lainnya juga sambal yang sudah dari tadi menggoda seleranya.
Bersambung.