Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 70. Masihkah Ada Setan?


__ADS_3

Tanpa banyak bertanya lagi akhirnya Aldi pun bergerak menuju pantai. Mengikuti langkah barisan ibu-ibu yang tadi sempat ia tanyai tadi.


"Bagaimana perasaan Bu Halimah dan gadis keci itu?" Aldi membayangkan raut sedih di wajah ibu dan adik dari Aldo itu hingga tanpa sadar langkahnya sekarang sudah sampai di tepi pantai.


"Ayo bawa segera mayat Aldo ke rumah Bu Halimah. Apa sudah ada yang menghubunginya?"


"Sudah ada tadi Pak," jawab seorang warga.


Aldi berjalan sedikit lebih cepat dan masuk ke dalam kerumunan orang-orang.


Aldi meringis melihat mayat Aldi yang sudah tidak utuh. Bola matanya sudah tidak ada dan kulit tubuhnya sudah mengelupas. Kakinya pun hanya tinggal satu saja.


"Innalilahi kenapa seperti ini?" Aldi undur ke belakang. Dia yang sebenarnya punya mental tempe mundur ke belakang karena tidak tega melihat perubahan tubuh Aldo setelah lama terseret arus laut.


"Kenapa tubuh Aldo jadi begitu ya?" tanya seorang warga.


"Mungkin tubuhnya terhempas ke sana kemari sehingga membuat kulitnya seperti ini dan bola matanya terlempar keluar."


"Atau mungkin saja kulitnya dimakan ikan hingga matanya juga." Tubuh orang-orang merinding mendengar tebakan warga lainnya.


"Ih kalau begitu aku tidak mau makan ikan aja dulu," sambung yang lain.


"Aku juga, biasanya yang doyan makan mayat yang tercebur di laut itu adalah ikan sejenis udang dan cumi-cumi. Saya sering melihatnya soalnya." Seorang warga berjenis kelamin pria itu bercerita bahwa saat melaut dirinya pernah melihat cumi-cumi secara bergerombol ada di tengah laut. Mereka dan nelayan lainnnya asyik menangkap cumi-cumi itu. Namun, setelah tangkapan cumi-cumi itu sudah banyak, semua nelayan yang ada di perahu itu baru sadar bahwa dari tadi cumi-cumi tersebut sedang mengerubungi mayat.


"Terus Bapak dan lainnya berbuat apa setelah melihat cumi-cumi itu seperti mematuk-matuk mayat Pak?" tanya warga penasaran.


"Kami langsung kabur setelah tahu benda apa yang dikerubungi cumi-cumi itu."


"Loh kok nggak diselamatkan sih Pak?"


"Kami nggak berpikiran seperti itu dalam keadaan gusar. Apalagi mayat itu sudah tidak utuh lagi. Kalau yang Aldo ini kan masih jelas kalau yang bapak temukan itu hanya tinggal bahu, lengan sama tangan doang. Kami juga tidak mau ambil resiko, takut-takut dicurigai macam-macam oleh orang-orang dan juga polisi."


"Benar juga ya Pak."

__ADS_1


"Ya begitulah, banyak pertimbangan juga Lagian sepertinya patahan mayat itu kayaknya sudah lembek dan kalau diangkat bapak yakin akan hancur dan tidak bisa dipegang."


Semua orang hanya mengangguk dan terus menggotong mayat Aldo ke tepi pantai.


"Tapi aneh ya, baru kali ini ada warga kita yang hilang di tengah laut ketemu. Yang dulu-dulu tidak ada satupun yang ketemu," ujar seorang warga merasa heran.


"Iya kamu benar, apakah ada tirai yang akan terbuka selanjutnya?" tanya yang lain asal-asalan.


"Iya tirai jendela," jawab yang lain lalu terkekeh.


"Eh itu Bu Halimah dan adik Aldo kemari. Jangan ketawa gitu kamu, antar disangka senang lagi melihat Aldo meninggal. Padahal kita sedang bicara yang lainnya."


Semua orang pun kembali merasa berkabung. Apalagi saat melihat Bu Halimah pingsan saat melihat tubuh Aldi yang tidak utuh lagi. Adik Aldo pun terduduk di atas pasir sambil meraung-raung.


Warga menjadi gusar. Pasukan mereka kini dipecah tiga. Ada yang mengotong mayat Aldo, ada yang mengurusi Bu Halimah yang pingsan dan ada juga yang membujuk adik Aldo agar tidak bersedih lagi.


Aldi pun ikut dengan orang-orang yang menenangkan gadis kecil yang sempat ditemuinya di saung pinggir pantai beberapa malam yang lalu.


Aldi pulang sebentar untuk menyerahkan makanan pada Topan. Pasti pria itu menganggap dirinya lelet sebab lama kembalinya.


"Lama amat sih Al, belinya dipuncak gunung ya?" sarkas Topan.


"Bukan begitu Pan, tadi ada peristiwa lagi dan saya terpaksa ikut dengan warna melihat ke tempat kejadian."


"Peristiwa apa? Kecelakaan? Memang di sini ada kendaraan bermotor? Apa kecelakaan terbentur sesama perahu?" Topan mencoba menebak.


Aldi menggeleng. "Sudahlah aku ceritakan nanti saja. Sekarang kau makan dulu." Aldi menyodorkan tas kresek ke hadapan Topan dan Topan dengan sigap menerimanya.


Pria itu menyambar air mineral terlebih dahulu dan mencuci tangan dengan sedikit air tersebut, lebih tepatnya mungkin hanya membasahi tangannya saja. Setelah itu Topan langsung membuka bungkusan nasi dan makan.


Topan mengernyit melihat Aldi tidak ikut makan.


"Punyamu mau dimakan kapan Al? Besok?" Topan heran Aldi cuma memandangi dirinya makan saja.

__ADS_1


"Aku nggak jadi makan, nggak selera," jawab Aldi.


Topan mengernyit lagi. "Terus ini beli buat siapa?" tanya Topan menunjuk bungkusan nasi yang masih ada dalam tas kresek.


"Nggak tahulah, kalau kamu mau makan juga silahkan!" Aldi bergegas ke dalam rumah karena tiba-tiba merasa kebelet ingin buang air besar.


"Benaran Al aku makan juga?!" tanya Topan dengan suara sedikit berteriak.


"Iya!" Aldi tak kalah berteriak. Suaranya terdengar nyaring ke luar rumah.


Topan tampak tersenyum sebab mendapatkan dua bungkus makanan sekaligus. Pria itu memang kalau makan dalam porsi jumbo meskipun tubuhnya tidak gemuk.


Topan kembali fokus memakan nasi dalam bungkusan yang ada di tangannya sebelum ia melanjutkan kepada bungkusan kedua.


Namun, saat nasi bungkus yang ada di tangannya sudah tandas dan dia hendak mengambil nasi bungkus milik Aldi yang sudah diikhlaskan oleh pemiliknya itu, Topan merasa heran sebab nasi bungkus itu sudah tidak ada di samping.


"Loh kemana perginya nasi bungkus tadi? Apa diambil Aldi?" Topan pikir Aldi mengurungkan niatnya untuk mengikhlaskan nasi bungkus itu kepada dirinya.


"Tapi, kapan Aldi kembali ke sini? Saya tidak melihatnya tadi," gumam Topan.


"Apakah dicuri kucing? Mana mungkin aku tidak bisa melihat kalau ada kucing ke sini tadi." Masih saja merasa aneh.


"Al!" teriak Topan untuk memastikan apakah Aldi masih berada di dalam kamar mandi ataukah sudah keluar dan memakan nasi bungkusnya itu.


"Ada apa Pan?" Suara Aldi terdengar dari dalam dan Topan bisa memastikan bahwa suara itu memang berasal dari kamar mandi.


"Aldi tidak pernah keluar dari kamar mandi," gumamnya lagi.


Namun, tiba-tiba Topan terhenyak ketika melihat nasi bungkus itu malah terbang di dalam ruangan. Segera Topan bangkit dari duduknya dan mengejar nasi tersebut. Pria itu penasaran nasi itu akan terbang ke arah mana dan berakhir di mana.


"Sepertinya rumah ini masih ada setannya," tebak Topan. Langkah kakinya perlahan terus mengikuti arah nasi itu bergerak.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2