Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 69. Penemuan Mayat Aldo


__ADS_3

Selesai dengan pemakaman Bu Langsa dan Ningsih orang-orang beristirahat di rumah masing-masing.


Aldi mengajak Topan untuk tinggal di rumah Pak Bakri seperti kemarin-kemarin sedangkan Lisa dan Tata mereka titipkan untuk tinggal di rumah Bu Hasan bersama Nirmala dan Putri demi keamanan mereka apalagi Lisa sedang hamil muda saat ini. Bu Hasan dan pak Hasan tidak keberatan dengan permintaan Topan dan Aldi, mereka malah senang Tata dan Lisa tinggal di rumahnya karena rumah yang biasanya sepi kini menjadi ramai.


"Assalamualaikum!" Aldi mengetuk pintu saat sampai di depan rumahnya.


Topan mengernyit. "Kau mau bertamu apa, Al? Aneh sudah tahu rumah nggak ada orangnya malah mengucapkan salam," protes Topan, tetapi Aldi sama sekali tidak menggubris perkataan Topan itu.


Aldi lebih memilih memasukkan kunci dan memutar handle pintu.


"Aku mandi duluan Pan," ujar Aldi lalu melangkah ke arah kamar mandi.


"Iya cepetan, aku sudah gerah nih mau mandi juga!" seru Topan.


Aldi menoleh dan mengangguk pada Topan sedangkan Topan lebih memilih keluar dari rumah lagi dan duduk di kursi panjang yang berada di teras rumah.


Aldi mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


"Waalaikumsalam." Terdengar jawaban salam seperti hari itu. Aldi mengernyit, ternyata makhluk tak kasat mata yang ada di rumah itu belum pergi dari sana.


Tapi kok saat aku memanggil salam di luar tadi tidak ada yang menjawab? Akh, sudahlah mungkin makhluk ini tadi sedang malas menjawab salam atau bahkan mungkin hanya malu pada Topan saja. Eh memang makhluk halus punya rasa malu?


Aldi menggelengkan kepalanya karena merasa lucu dengan pemikirannya sendiri. Pria itu lalu masuk ke dalam kamar mandi setelah menyambar handuk di tempat penjemuran kecil yang ada di sebelah kiri kamar mandi.


Saat mandi, Aldi melirik ke seluruh ruangan kamar mandi itu untuk memastikan apakah ada yang aneh atau bahkan makhluk tersebut mandi bareng lagi bersama dirinya.


Kalau laki-laki tidak masalah lihat auratku kan tubuh kami sama, tapi kalau perempuan? Waduh malu dong aku dia lihat burungku ini. Kalau mendengar suaranya sih kayaknya perempuan.


Aldi ngawur saja padahal walau sesama lelaki belum tentu tubuhnya sama. Dia pikir makhluk astral itu seperti dirinya yang seorang manusia sejati?


Aman, Aldi tidak melihat ada keanehan di tempat itu.


Mungkin karena aku mengucapkan salam tadi, jadi dia mengerti aku mau mandi sehingga walaupun dirinya mau mandi juga jadi mengurungkan diri.


Aldi mulai mengguyur tubuhnya dengan air kemudian menyabuni seluruh tubuhnya. Setelah itu langsung keramas karena dirinya baru saja datang dari lahan pekuburan.


Setelah selesai mandi dia langsung menyambar handuk lalu beranjak keluar rumah untuk memanggil Topan karena lelaki itu tadi katanya juga ingin segera mandi.


"Pan, aku udah. Giliran dirimu yang mandi!" seru Aldi dari balik pintu.


Topan menoleh dan mengangguk. Setelahnya ia beranjak dulu ke kamarnya untuk mengambil baju ganti. Berbeda dengan Aldi yang biasa keluar dari kamar mandi dengan berselimut handuk, Topan lebih suka mengganti bajunya langsung di kamar mandi.


Tak ada kejadian yang aneh hari ini di rumah Pak Bakri yang menjadi tempat mereka kini bernaung, kecuali jawaban salam tadi yang terdengar di telinga Aldi.


Mereka berdua kini duduk di kursi panjang yang ada di teras pasca sudah membersihkan badan mereka. Kursi panjang tempat Topan tadi menunggu Aldi selesai mandi.

__ADS_1


"Al, udah lama kita tidak mabar. Mabar yuk," ajak Topan sambil mengusap layar ponselnya.


"Oke ayo." Aldi pun mulai meraih ponsel di saku celananya.


Mereka berdua bermain game sampai berjam-jam. Hari ini mereka berdua benar-benar membayar kerinduan mereka tentang bermain game bersama yang dulu menjadi rutinitas saat jam istirahat di kampus.


"Pan, aku cari makan dulu ya, lapar nih." Aldi menutup ponsel dan mengelus-elus perutnya yang sudah berbunyi sejak tadi, tetapi tidak pernah digubris karena keasyikan bermain game.


"Oke Al, bawain untukku juga ya, aku lagi mager sekarang," ujar Topan.


"Oke siap."


"Uangnya talangin dulu ya, nanti pasti aku bayar kok."


"Oke Pan siap. Eh tapi aku traktir aja deh kali ini."


"Wah itu aku setuju. Gitu dong. Itu baru namanya sahabat yang baik."


"Cih, sudah ya aku pergi."


"Oke, hati-hati Al." Topan pun fokus pada ponselnya kembali sedangkan Aldi sudah berjalan menjauh dari Topan menuju warung yang berdiri kurang lebih seratus meter dari rumah yang mereka tempati.


Beberapa menit berlalu akhirnya Aldi sampai juga ke warung. Dia langsung meminta penjual makanan untuk membungkus dua makanan, untuk Topan dan juga untuk dirinya sendiri.


"Rujak, soto, apa Nasi Nak?"


"Ada."


"Oke kalau begitu pakai ikan daging dan jangan lupa sambalnya dibanyakin ya Bu."


"Oke siap Nak."


Sementara ibu penjual makanan membuatkan pesanan makanan, Aldi memilih bertanya-tanya.


"Memangnya ibu jual makanan di desa ini laris Bu?"


"Musiman sih Nak, kalau lagi musim ikan ya laris tapi kalau hasil laut tidak ada kadang nasi ibu masih banyak karena tidak laku."


"Kalau begitu biasanya apa yang akan ibu lakukan?"


"Ya tidak ada jalan lain, dibagikan kepada para warga daripada basi kalau dibuang kan mubadzir."


"Ibu tidak rugi?"


"Alhamdulillah selama ini tidak pernah rugi Nak. Yang namanya diamalkan mana ada yang namanya rugi."

__ADS_1


"Iya juga ya Bu, bahkan Tuhan menjanjikan balasan sepuluh kali lipat terhadap harta yang kita amalkan."


"Benar sekali itu Nak, apalagi yang nggak laku itu kan cuma beberapa kali saja, banyakan larisnya. Di kampung pesisir seperti ini kebanyakan wanitanya juga sibuk dengan hasil tangkapan ikan para suami mereka sehingga di pagi hari banyak yang memilih membeli daripada memasak sendiri."


"Oh begitu ya Bu?"


"Iya Nak, paling mereka baru masak siang ataupun sore hari. Apalagi suami mereka saat melaut membawa bekal nasi juga ke tengah laut, jadi jualan ibu bisa dikatakan laris."


Aldi hanya mengangguk mendengar cerita pemilik warung sekaligus penjual makanan tersebut.


"Ini Nak sudah." Penjual wanita itu menyodorkan dua bungkus makanan yang sudah dimasukkan ke dalam plastik ke tangan Aldi.


"Terima kasih Bu, ini berapa semuanya?"


"Dua puluh ribu Nak."


Aldi mengangguk lalu mengulurkan uang lima puluh ribuan.


"Dua botol air mineral sekalian Bu."


"Oke total 24 ribu berarti kembaliannya 26 ribu." Wanita itu menyodorkan uang 26 ribu beserta dua air botol air mineral ke tangan Aldi.


Terima kasih Bu, kalau begitu saya pamit pergi."


"Sama-sama Nak dan hati-hati."


"Iya Bu."


Baru saja melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah, ternyata Aldi melihat banyak orang-orang yang berlarian menuju pantai.


"Ada apa ya Bu?" tanya Aldi pada pemilik warung.


"Tidak tahu juga Nak."


Akhirnya Aldi menyetop ibu-ibu yang melintas di depannya.


"Ada apa ya Bu, kok warga beramai-ramai pergi ke pantai?"


"Itu Nak Aldi, Nak Aldo ditemukan."


"Ditemukan? Syukurlah kalau begitu."


"Tapi Nak Aldi, anak itu ditemukan dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa," terang ibu itu membuat Aldi tertegun seketika.


"Innalilahi," ucapnya kemudian.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2