Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 47. Mulai Siaga


__ADS_3

"Ada apa gerangan?" gumam Aldi penasaran.


Dari luar pagar sana suara Putri terdengar ke telinga Aldi. "Ada apa ya Bu kok ibu-ibu berbondong-bondong begini? Apa ada pertunjukan?"


"Iya Put memang ada pertunjukan," jawab salah seorang ibu.


"Pertunjukkan apa sih? Apa ada karnaval?" tanya Putri lagi agar jelas apa sebenarnya yang ingin ditonton oleh para ibu-ibu itu.


"Bukan tapi pertunjukan horor." Seorang ibu menjawab dengan serius sehingga membuat Putri juga berpikir serius.


"Apakah di desa ini akan dibangun bioskop?" Mungkin pertunjukan horor yang dimaksud adalah film horor di bioskop. Putri pikir di desa ini akan diadakan bioskop dan untuk pembukaannya akan memberikan tayangan film horor.


"Hahaha." Seorang ibu tertawa mendengar pertanyaan Putri.


"Loh ibu kok malah tertawa?" tanya Putri padahal dirinya bertanya dengan serius.


"Mana ibu nggak tertawa kamu percaya saja dengan ucapanmu Dewi. Beliau tuh kan memang suka bercanda," ucap Bu Lina.


"Gimana nggak percaya Bu sebab muka Bu Dewi kelihatan serius, bisanya kan tidak begitu?"


"Iya juga ya."


"Tapi ini ada apa yang sebenarnya ya Bu, kok ramai begini?"


"Begini Nak Putri seorang warga yang sedang ingin menyabit rumput tadi saat lewat lahan pemakaman menemukan salah satu kuburan warga ada yang membongkar."


"Apa?" Putri langsung teringat pada cerita Aldi tadi.


"Kondisi mayatnya bagaimana Bu?"


"Tidak tahu, kabarnya belum jelas ini. Makanya kita-kita ini mau langsung ke sana biar tahu dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.


"Baiklah Bu terima kasih atas informasinya."


"Iya Nak Putri kalau begitu kami pergi dulu ya."


"Iya Bu."


Bu Lina langsung bergegas menyusul semua ibu-ibu dengan berlari karena teman-teman yang sudah jauh berada di depan sana.

__ADS_1


"Apa katanya Put?" Belum masuk ke dalam pagar rumah Aldi sudah bertanya pada Putri.


"Ada makam yang ditemukan dalam keadaan terbongkar katanya Kak, cuma belum jelas apa yang hilang di dalam sana. Jangan-jangan ini makam yang Kak Aldi lihat semalam dibongkar oleh seseorang," tebak Putri.


"Bisa jadi sih, tapi sepertinya semalam habis dibongkar ditimbun lagi deh kayaknya." Aldi tampak mengingat-ingat.


"Bisa jadi memang iya Kak tapi tidak rapi jadi orang-orang malah mencurigai.


"Iya sih lebih jelasnya kakak akan pergi ke sana untuk ikut memeriksanya." Aldi bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu pagar dimana Putri masih diam berdiri.


"Putri ikut," ucap Putri.


"Yakin mau ikut? Nggak takut?" tanya Aldi memastikan.


"Yakin lah Kak, orang Putri bukanlah penakut."


"Oke kalau begitu mari kita pergi."


Putri mengangguk dan mengikuti langkah Aldi keluar pagar. Sebelum meninggalkan rumah tidak lupa dia mengunci pagar rumah terlebih dahulu agar tidak ada orang jahat masuk ke dalam pekarangan rumahnya.


"Ayo Kak!" Putri berjalan di depan Aldi.


"Kayaknya itu deh makamnya Kak." Putri menunjuk kerumunan orang-orang yang berdiri mengelilingi makam.


Aldi mengangguk, tanpa berbasa-basi lagi langsung menarik tangan Putri menuju kerumunan orang-orang.


Aldi menganga tatkala melihat posisi makam itu memang makam yang terbongkar semalam.


"Benar saja," gumam Aldi.


"Apanya yang benar Kak?"


"Ssst." Aldi mencegah agar Putri tidak bertanya macam-macam. Apalagi Aldi melihat salah satu orang yang turun ke bawah makam untuk melakukan pemeriksaan sama seperti orang yang semalam membongkar makam tersebut. Rambut jambul dan badan yang tidak terlalu tinggi dan perut buncit, Aldi masih mengingat orang yang semalam meski samar-samar terlihat.


"Apa makam memang ditemukan dalam keadaan terbongkar seperti ini ya Pak?" tanya Aldi pada seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya. Orang itu tidak ikut membantu memeriksa ke dalam, tetapi hanya memperhatikan saja dari atas. Namun di pakaian orang itu tampak kotor dengan tanah.


"Tidak sih Nak, tanah posisinya tertimbun lagi, tapi tidak rapi sehingga saat bapak tadi melintas di atasnya tanah turun ke bawah dan bapak terjatuh di sisi mayat. Sebab syok bapak langsung berteriak meminta tolong. Untung ada yang mendengar suara bapak. Kalau tidak bapak bisa langsung jantungan di dalam sana sendirian."


"Oh begitu ya Pak?" Bapak tersebut hanya mengangguk. Nafasnya masih tampak ngos-ngosan.

__ADS_1


"Memangnya bapak mau kemana kok melintas di lahan pekuburan?" tanya Aldi lagi.


"Tadinya bapak mau menyabit rumput di tempat ini untuk makan ternak sebab bapak pikir di sini rumputnya panjang-panjang. Jadi tidak ada salahnya bapak menyabit rumputnya sekaligus bersih-bersih."


"Bapak benar." Hanya itu yang bisa dikatakan Aldi dan bapak itu juga hanya mengangguk.


"Bagaimana? Apakah mayat di dalamnya utuh?" Seorang lelaki berlari ke arah mereka dengan tergopoh-gopoh.


"Siapa dia?" tanya Aldi pada Putri melihat wajah pria itu terlihat syok dan sedih tidak seperti yang lainnya.


"Dia suami ibu yang ada di dalam makam ini. Istrinya meninggal saat mengandung 6 bulan," bisik Putri di telinga Aldi.


"Oh." Aldi hanya manggut-manggut saja.


"Bagaimana Pak?" tanya orang-orang yang ada di luar ikut penasarannya.


"Perutnya ada yang merobek dan janin di dalam perutnya hilang," jawab bapak yang masuk ke dalam dengan ekspresi bingung.


"Mungkin makam ini kurang dalam dan berhasil diguruk oleh binatang buas," sambung bapak yang satunya. Bapak yang berambut jambul yang dicurigai oleh Aldi.


"Mana mungkin ada binatang sampai mengguruk tanah sedalam ini," sambung bapak-bapak yang lain.


"Iya itu sangat tidak masuk akal. Kalau memang binatang buas yang melakukan ini tidak mungkin makam di timbun lagi," sanggah bapak yang pertama kali memberikan informasi mengenai keadaan jenasah tadi.


"Bapak benar, ini pasti ada yang tidak beres." Ibu-ibu ikut nimbrung dalam pembicaraan.


"Sepertinya iya. Kalau menurut saya pasti ini perlakuan manusia bukanlah hewan. Sepertinya ada yang mempunyai ilmu hitam atau melakukan pesugihan di kampung kita. Mulai malam Ini kita adakan pos ronda saja. Kalau dibiarkan seperti ini terus keenakan tuh pelakunya meraja lela," usul suami mayat yang ada dalam kuburan tersebut.


"Iya saya setuju. Kita jangan hanya memikirkan uang saja, dengan cara bekerja, melaut terus-menerus dan melupakan keadaan yang tidak beres yang ada di kampung kita. Hari ini istriku, mungkin lain kali adalah salah satu keluarga kalian," lanjut pria tadi.


"Benar, saya setujui dengan usul bapak. Mulai sekarang kita harus waspada dan kampung kita harus dalam keadaan siaga."


"Saya juga setuju. Nanti kita buat jadwal rondanya dan bagi masyarakat yang tidak patuh kita berikan denda."


"Sip nih," ucap Aldi pada Putri.


"Tumben orang-orang di kampung ini kompak," gumam Putri.


Ketika yang lain berbicara dengan menggebu-gebu pemilik rambut jambul itu hanya terlihat diam dengan wajah yang terlihat pucat.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2