Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 43. Kecurigaan Putri Pada Aldi (2)


__ADS_3

"Wah kalau begitu Nak Aldi memang tidak salah mengambil desa ini untuk tugas kuliah. Memang Nak Aldi, di desa ini kalau soal mata pencaharian atau pekerjaan tidak kekurangan sama sekali Nak Aldi. Jadi di desa kami tidak ada yang namanya pengangguran." Seorang ibu-ibu tampak membanggakan desanya sendiri.


"Benar Nak Aldi bahkan para perempuan pun di sini tidak ada yang menganggur asal mau bekerja sih. Paling yang diam di rumah yang masih sekolah macam Putri, tapi tidak semuanya sih ada juga yang pulang sekolah juga bekerja," timpal yang lain.


"Ya begitulah, di sini memang yang bisa dibilang pemalas itu aku Kak kalau kak Aldi mau tahu."


Putri sama sekali tidak marah karena memang itulah kenyataannya. Sebenarnya bukan dia tidak mau bekerja sepulang sekolah, tetapi gadis itu tidak mendapatkan izin dari kedua orang tuanya sebab kedua orang tua Putri sama-sama sudah bekerja. Jadi siapa yang akan mengurus pekerjaan rumah kalau Putri juga ikut bekerja?


"Tidak apa-apa tugas kamu itu memang sekolah, nanti kalau sudah besar boleh memikirkan tentang pekerjaan apalagi kedua orang tuamu sudah mencukupi kebutuhanmu dan mereka juga tidak kekurangan apapun. Jadi semangat belajar." Jawaban Aldi membuat senyuman di bibir Putri mengembang.


"Terima kasih ya Kak atas pengertian dan semangatnya."


Aldi hanya menjawab dengan anggukan disertai senyuman.


"Tapi sayang meskipun kehidupan di desa kami bisa dibilang sejahtera dalam pemenuhan kebutuhan hidup, di sini juga ada kejadian-kejadian yang janggal sering terjadi," sambung ibu-ibu yang lain.


"Maksudnya Bu?" Sepertinya ini kesempatan Aldi untuk mengulik apa yang sebenarnya terjadi di desa ini.


"Ya sepertinya hilangnya para nelayan saat melaut dan kebanyakan dari mereka tidak pernah ditemukan jasadnya hingga saat ini," jawab ibu tersebut.


"Itu kan Wajar Mbak yu, namanya hilang di laut ya susah dicarinya apalagi pencarian kita terbatas."


"Terbatas apanya Dik, wong selalu melibatkan tim SAR, tapi jelas saja masih tidak ada hasilnya," sanggah ibu yang dipanggil Mbak yu tadi.


Aldi semakin penasaran dengan cerita ibu-ibu tersebut sedangkan Putri tampak bosan mendengar cerita yang sudah sering dia dengar itu.


"Dan itu lagi, aku merasa aneh saat setelah perahu Pak Bakri bisa mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah sampai ton-tonan tiap harinya mesti ada nelayannya yang hilang di tengah laut, aneh nggak sih sebab itu bukan cuma satu dua kali, tetapi sudah sering kali terjadi," sambung yang lain.

__ADS_1


Aldi semakin melebarkan telinganya agar tidak ada kalimat penting yang keluar dari mulut ibu-ibu yang sedang menghibahkan kejadian yang terjadi di desanya itu terlewat begitu saja.


"Kalau yang itu aku setuju," timpal ibu-ibu yang lain dan semua orang yang duduk di sekeliling Aldi pun mengangguk.


"Dan yang lebih parah lagi setiap kali ada wanita yang meninggal saat mengandung atau anak kecil meninggal makam mereka selalu ditemukan dalam keadaan yang berlobang atau bahkan mayit di dalam kubur tersebut hilang atau bahkan ibunya yang dibelah perutnya."


Sontak saja perkataan ibu ibu langsung membuat pikiran Aldi terbang pada kejadian semalam.


"Terus tidak ada yang menyelidiki?" tanya Aldi penasaran sekaligus memancing agar ibu-ibu yang sedang berkumpul itu agar menceritakan semuanya.


"Sudah Nak Aldi, yang ada suami-suami kami kejang-kejang setelah melihat pocong yang berkeliaran di pemakaman bahkan di antara yang mencoba menyelidiki itu hampir saja dicekik lehernya oleh pocong tersebut dan sejak saat itu setiap ada apapun para laki-laki hanya diam saja yang terpenting makam keluarga sendiri aman," jelas salah seorang ibu.


Aldi menggaruk kepalanya, bingung mengapa orang-orang di sini diam begitu saja apabila ada kasus seperti itu sedangkan saat mencari Aldo kemarin para lelaki terlihat kompak. Apa karena sudah mengenai pekuburan yang bagi sebagian besar orang menganggap ngeri jika harus ke tempat itu di malam hari.


Ada satu hal yang membuat Aldi penasaran, mengapa setiap orang begitu percaya bahwa ada pocong yang mencekik salah satu dari mereka. Apakah mereka melihat sendiri ataukah hanya cerita dari seseorang? Melihat kejadian semalam Aldi yakin bahwa yang dimaksud dengan pocong oleh mereka pastinya adalah pocong jadi-jadian semalam meskipun bisa saja ada orang lain lagi yang melakukan hal yang sama.


"Kenapa bingung Kak?" Putri seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Aldi.


"Kak Aldi benar. Sepertinya kaum lelaki pecundang semua," ucap Putri ketus.


"Nak Aldi, bapak boleh minta bantuan?" tanya seorang laki-laki yang berjalan mendekati drum. Sepertinya Aldi lihat cuma dia karyawan laki-laki di tempat ini.


"Boleh Pak, apa yang harus saya lakukan?" tanya Aldi pada bapak-bapak itu.


"Tolong bapak untuk membawa drum ini ke tungku ya," mohon bapak-bapak tersebut.


Aldi meringis, sebenarnya dia enggan membantu bapak-bapak itu karena jijik dengan isi yang ada dalam drum. Namun, melihat bapak itu hanya sendirian terpaksa Aldi mengangguk dan mengiyakan untuk membantu bapak tersebut.

__ADS_1


"Memangnya Bapak di sini hanya sendirian laki-lakinya ya Pak, tidak ada temannya?" tanya Aldi sambil berjalan mendekat ke arah bapak itu.


"Tidak Nak Aldi sebenarnya karyawan laki-lakinya di sini tiga orang cuma yang dua orang itu sekarang sedang sakit, jadi terpaksa bapak masuk sendirian."


"Oh begitu ya kalau begitu ayo Aldi bantu mengangkatnya."


Bapak tersebut mengangguk sambil tersenyum dan berkata terima kasih pada Aldi.


Aldi meringis dan mencobanya menahan agar tidak muntah mendengar aroma air ikan yang menurut Aldi bukanlah amis biasa melainkan bau anyir.


Namun, meskipun demikian Aldi tetap membantu bapak tersebut mengangkat drum plastik itu dan mendekatkan pada tungku perapian. Sampai di depan tungku perapian bapak itu langsung menaikkan dandang dan mengambil gayung lalu sedikit demi sedikit menuang air ikan yang dari drum plastik itu ke dalam dandang besar itu yang sudah berada di atas api yang menyala.


Aldi langsung berlari keluar ruangan dan muntah-muntah.


Hoek, hoek, hoeeek." Semua yang ada di dalam perut Aldi keluar semua.


"Kak Aldi kenapa sih?" tanya Putri heran. Aldi hanya menggeleng sebab dalam perutnya terguncang kembali seakan ada yang mau keluar lagi.


"Hoek, hoek!"


"Nih minum!" Putri menyodorkan botol air mineral ke hadapan Aldi. Aldi tidak langsung mengambil air yang disodorkan Putri, tetapi malah menatap wajah Putri sambil mengingat-ingat sesuatu. Mengingat air yang dipegang Putri tadi memang di bawanya dari rumah, Aldi langsung mengambil dari tangan Putri dan berkumur-kumur dengan air tersebut. Setelah itu lalu meminum air sisa kumur-kumurnya tadi sampai tandas.


"Kak Aldi harus menjelaskan sesuatu!" tegas Putri sambil menatap tajam Aldi.


"Nih anak maksa banget, kayaknya dia tahu apa yang ada dalam otakku. Cenayang kali nih anak," batin Aldi.


"Tidak usah menghujat Putri," protes Putri membuat Aldi menganga heran.

__ADS_1


"Tuh kan, nih anak kayak tahu semuanya," batin Aldi lagi.


Bersambung.


__ADS_2